Tag Archives: hamka

Mempertengkarkan Pendidikan Karakter


Tulisan Budayawan Darman Moenir (DM) yang bertajuk: “Hentikan Program Pendidikan Berkarakter!” yang telah dimuat pada kolom Refleksi, terpampang penuh jumawa di halaman pertama sebuah media massa terbitan Sumatera Barat, agaknya tidak saja dibaca banyak orang (karena menyangkut kebutuhan publik)—lebih dari itu “menuai” (dalam tanda kutip) respons/tanggapan dari seabreg pakar/pemerhati pendidikan di daerah ini. Sebut saja: Nelson Alwi, mengetengahkan: “Kemuraman (Produk) Dunia Pendidikan Kita”; Henmaidi, Ph.D, menyirih-ceranakan pokok-pokok pikirannya: “Jebakan dalam Penyelenggaran Pendidikan Karakter; dan Prof Dr H Azmi, MA serta Karsa Scorpi juga menyuguhkan umpan-balik positifnya. Yang disebut penggal awal berjudul:  “Pendidikan Karakter Masihkah Perlu?” Sedang yang dibilang terakhir menghidangkan pokok bahasan: “Pendidikan Berkarakter Harus dengan Karakter Pendidikan”. Semuanya diterbitkan dalam media yang sama dengan waktu yang berbeda.

Polemik bernas berorientasi pencerdasan/pencerahan—yang dikuak DM tersebut—agaknya mengingatkan kita pada sebuah polimik, pada 1968. Al-kisah! Dengan memakai nama samaran A. Muchlis, Moehammad Natsir berpolemik secara tajam, cerdas dan dewasa dengan Ir. Soekarno. Adalah Majalah Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat yang memuat/menurunkan polemik berkatuntang  tersebut. Persoalan apa yang dipolemikkan? Tidak lain adalah hal-ihwal kebangsaan dan kenegaraan serta pertautannya dengan doktrin dan kredo Islam. Yang membuat banyak orang berdecak kagum, polemik dihidangkan ke tengah khalayak tetap bertumpu pada Al-qur’an dan Sunnah Rasul yang shahih lagi mutawatir. Baik dalam bingkai tekstual maupun konstekstual (lazhiyah wa al-ma’nawiyah).

Baca lebih lanjut

Iklan

2 Komentar

Filed under Pendidikan

Merenungi Budaya Intelektual di Hari Ibu


Di hari Ibu, yang jatuh pada 22 Desember, akan lebih afdal kita renungkan ihwal Bundo Kanduang—sebagai bagian senyawa dari budaya nasional. Dan, merujuk pada akar historisnya, Bundo Kanduang secara kultural adalah panggilan khusus terhadap perempuan  Minangkabau. Sedang pada ranah etimologi, Bundo berarti ibu, dan kanduang bermakna sejati. Jadi, Bundo Kanduang adalah ibu sejati yang pada dirinya bergayut  kodrat keibuan dan kepemimpinan  dalam bingkai  budaya—bukan  kepemimpinan dalam artian memburu jabatan publik/politik dengan dalih emansipasi, jender dan career of woman—seperti yang jadi fenomena kini.

Makanya, siapapun perempuan Minangkabau – apa ia amak, amak tuo, etek, amak tangah, amak adang perempuan kita dan sebagainya—pada  hakikatnya adalah Bundo Kanduang. Beliau adalah tempat menarik tali keturunan yang disebut matrilineal. Andai si ibu bersuku piliang, chaniago, bodi, koto, kutianyia, patapang, banuhampu, jambak, tanjuang dan sebagainya, maka anak yang dilahirkan mesti bersuku sama dengan ibunya. Bukan paralel dengan suku ayah seperti yang berlaku pada sistem patriarkhat.

Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Minangkabau

Sisi Seksualitas Buya Hamka


Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), dikukuhkan negara—melalui Pemerintah sebagai  Pahlawan Nasional. Masyarakat Sumbar secara propinsial, dan Minangkabau secara kultural, tentu mengapresiasi penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Putra sulung  Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (Dr. Haka) tersebut. Soalnya, selain dijuluki ulama kharismatik dan substansialistik (faqihun wa al-hakimun), Hamka juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, pujangga, dan sejarawan. Tidak saja di Indonesia, nama besar dan pengaruh beliau bahkan menjamah sampai ke Malaysia, Singapura dan Thailand. Dalam kancah transformasi Islam, kiat-kiat yang  dihidangkan beliau tidaklah meledak-ledak—seperti segelintir pemuka agama (rijalu ad-da’wah) di alam kontemporer yang kian merangkak maju kini. Melainkan sarat informatif, persuasif, edukatif dan argumentatif (bi al-hikmah, wa al-maui’zhah wa al-mujadalah/QS. An-nahal ayat 125). Dan, bila tokoh yang  lahir pada 17 Februari 1908 itu, menyuarakan dimensi dakwah berupa tanzhir (khabar pertakut), tanpa tergelicik pada pola-pola eufemisme dibalutnya dengan bahasa santun, sejuk, bersahabat, dan gampang dimengerti.

Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under Umum