Sekeping Hati yang Terluka


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (7)

Waktu itu kulepas kepergiannya dengan tangis dan air mata. Kuiringi dengan perasaan yang tak pernah bisa kumengerti. Kudahului dia keluar guna mengantarnya untuk terakhir kalinya, bagaikan orang mengantar keranda ke tempat peristirahatannya. Dan aku menekuri dinding dengan isak kesedihan orang yang kehilangan.

Tapi dengan perlahan kurasakan kehalusan jemarinya menelusup menggenggam tanganku. Diajaknya aku kembali ke tempat semula. Didudukkan dirinya di tempat tidur yang sama dan aku bersimpuh di hadapannya. Namun aku tetap tak mampu menahan dukaku dan menghentikan kesedihanku, walau dia telah menunda kepergiannya.

Dia letakkan tangannya ke kepalaku dan menyelipkan jari-jarinya menelusuri rambutku. Aku tentu lebih menyukai tangan itu dibanding dengan sebuah mahkota ataupun rangkaian bunga dalam lingkaran dan aku lebih menyukai jari-jari tangannya yang halus dan lembut itu membelai rambutku sebagai suatu kemuliaan.

Bahkan di hatiku, ingin rasanya untuk mendengarkan dia mengucapkan kata : ‘Ayolah Sayang, kuatlah hatimu bagaikan kokohnya menara yang sedang menahan terpaan badai. Bangkitlah bagaikan para prajurit yang gagah perkasa di depan musuh dan hadapilah senjata-senjata mereka. Andaikan engkau mati terbunuh, matimu adalah mati sahid dan jika engkau menang kau akan hidup bagai pahlawan. Keberanian menghadapi halangan dan kesulitan lebih mulia daripada mundur demi kesentosaan. Kupu-kupu yang melayang-layang disekitar lampu hingga mati lebih mengagumkan daripada tikus yang bersembunyi dalam terowongan. Berjalanlah dijalan yang sempit lagi kasar dengan hati-hati, dengan matamu menuju ke matahari, agar tidak bertemu tengkorak-tengkorak dan ular berbisa di antara batu karang dan duri-duri. Seandainya harus menghentikannya di tengah jalan, kau hanya akan mendengar ejekan dari suara malam, tetapi jika engkau sampai ke puncak dengan berani maka jiwamu akan bergabung dengan roh-roh surgawi yang diiringi dengan lagu-lagu kemenangan dan kegembiraan, turutlah bertepuk Sayang, hapuslah airmatamu, dan lemparkanlah penderitaan dari wajahmu. Bangkitlah, dan mari kita duduk di sisi tempat tidur ini bersama cinta kita, karena keutuhannya tergantung dari jiwamu, dan senyummu itulah yang bisa menyalakan gairah hidupnya.” *)

Namun semua itu tak pernah kudengar, karena rangkaian kata yang meluluhkan itu hanya bergelut dalam diriku, sebagai harapan yang tak akan pernah terwujudkan.

Dalam keheningan yang membuat waktu berjalan cepat, aku merasakan sentuhan tangan lembutnya masih bermain di kepalaku. Aku serasa mendapat kemuliaan bagaikan seorang abdi mengenakan mahkota sang paduka. Serasa kugemakan titah baginda, saat jiwaku mendeklamasikan sajak-sajak tragedi hidup tentang cinta dan harapan yang terabaikan.

Waktu dia menarik tangannya dari kepalaku, kurasa getaran pada akar rambutku bercampur dengan angin sepoi-sepoi basah. Bagaikan seorang penyembah yang taat aku masih duduk bersimpuh di lantai di sisi tempat tidurku. Dan dia membaringkan tubuhnya ke kasur, sementara aku tetap menekuri lantai, dengan kedua mataku yang masih mengalirkan sisa-sisa kepedihan.

Di kala dengan tiba-tiba dia duduk, dari bibir indahnya tercurah aliran kata-kata menghantam bendungan sukmaku : “Tak ada gunanya engkau menangis, tangisan hanya pantas bagi orang-orang yang lemah, dan aku tak menyukai laki-laki yang mengurai airmata.”

Dengan airmata yang bercucuran, aku menjawab dengan patah hati : “Jika engkau bertanya tentang makna airmata, ada tiga pengertian dan guna tangisan bagi orang dewasa yang bisa kujelaskan kepadamu, adik-ku. Pertama untuk menunjukkan kesedihan, di kala lilitan kepedihan menyembilui sudut hati yang terasa sepi. Kedua untuk menyatakan penyesalan, di saat tiadanya kerelaan terhadap satu keterlanjuran yang berlalu. Dan ketiga untuk meluapkan kebahagiaan, ketika rasa gembira melambungkan sukma ke hamparan cakrawala jiwa yang tak bertepi. Tidak ada satu katapun yang bisa jadi pengganti, sewaktu kita harus berada dalam salah satu dari ketiga suasana itu, selain dari tangisan dan airmata.

Oleh karenanya maka itu yang kulakukan, diwaktu aku terjaga oleh kesadaran bahwa aku akan kehilangan orang yang kucintai dan kusayangi, karena engkau akan meninggalkan aku, yang sebabnya tak pernah kuketahui. Itulah yang membuatku sedih dan menyesal, sehingga meluruhkan sisa-sisa airmataku.

Tidak ada satu ukuran dalam batasan yang nyata, yang menyalahkan aku untuk menangis. Karena seorang raja lalim yang sanggup membunuh ribuan orang sekalipun, tetap akan mengucurkan airmata dikala harus kehilangan seseorang yang dicintainya, apalagi aku yang hanya seorang laki-laki biasa yang tak berdaya. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Mungkin engkau tak akan pernah mengerti betapa berartinya diri dan kehadiranmu bagiku. Aku tak sanggup membohongi nuraniku demi sebuah mitos tak logis yang menganggap tak pantasnya tangisan bagi seorang laki-laki. Setiap orang berhak atas kesedihannya. Aku tak sanggup berpura-pura tampak gagah dan kuat sementara hatiku merintih dalam kepiluan. Sebab semua itu tak akan berarti apa-apa lagi bagiku kalau sampai aku harus kehilanganmu. Kepergianmu akan merenggutkan segalanya dan hanya akan menyisakan kesedihan.”

Kutemukan dirinya diam seribu bahasa. Aku tidak tahu apakah dia mengerti maksud kata-kataku atau tidak, yang menyata melalui kejelasan hanyalah bahwa dia tak pernah menyadari kalau di balik tubuhku yang letih hanya tersisa sekeping hati yang terluka.

Aku menengadah menatapnya, bagaikan seorang pujangga**) yang seolah sedang berkata : “….. seorang kelana pengembara yang telah letih mencari damai, sekarang bersimpuh di kakimu, mengharapkan cinta darimu dan mempersembahkan cinta untukmu …..”

Namun yang kuperoleh hanya anggukan membujuk dan senyuman dibuang, saat kuingin tahu apakah dia masih akan menyayangiku dan tak akan meninggalkan aku. (bersambung)

Audio of  Sekeping Hati yang Terluka

Sebelumnya:
ENAM : Datang dan Pergi Bagi Hati

Sesudahnya:
DELAPAN : Kepergiannya Berbasuh Airmata

Gambarnya punyanya

*) Khalil Gibran

**) Sanusi Pane

Kisah Terkait :


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s