Tag Archives: Islam

Merenungi Budaya Intelektual di Hari Ibu


Di hari Ibu, yang jatuh pada 22 Desember, akan lebih afdal kita renungkan ihwal Bundo Kanduang—sebagai bagian senyawa dari budaya nasional. Dan, merujuk pada akar historisnya, Bundo Kanduang secara kultural adalah panggilan khusus terhadap perempuan  Minangkabau. Sedang pada ranah etimologi, Bundo berarti ibu, dan kanduang bermakna sejati. Jadi, Bundo Kanduang adalah ibu sejati yang pada dirinya bergayut  kodrat keibuan dan kepemimpinan  dalam bingkai  budaya—bukan  kepemimpinan dalam artian memburu jabatan publik/politik dengan dalih emansipasi, jender dan career of woman—seperti yang jadi fenomena kini.

Makanya, siapapun perempuan Minangkabau – apa ia amak, amak tuo, etek, amak tangah, amak adang perempuan kita dan sebagainya—pada  hakikatnya adalah Bundo Kanduang. Beliau adalah tempat menarik tali keturunan yang disebut matrilineal. Andai si ibu bersuku piliang, chaniago, bodi, koto, kutianyia, patapang, banuhampu, jambak, tanjuang dan sebagainya, maka anak yang dilahirkan mesti bersuku sama dengan ibunya. Bukan paralel dengan suku ayah seperti yang berlaku pada sistem patriarkhat.

Baca lebih lanjut

Iklan

4 Komentar

Filed under Minangkabau

Sisi Seksualitas Buya Hamka


Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), dikukuhkan negara—melalui Pemerintah sebagai  Pahlawan Nasional. Masyarakat Sumbar secara propinsial, dan Minangkabau secara kultural, tentu mengapresiasi penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Putra sulung  Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (Dr. Haka) tersebut. Soalnya, selain dijuluki ulama kharismatik dan substansialistik (faqihun wa al-hakimun), Hamka juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, pujangga, dan sejarawan. Tidak saja di Indonesia, nama besar dan pengaruh beliau bahkan menjamah sampai ke Malaysia, Singapura dan Thailand. Dalam kancah transformasi Islam, kiat-kiat yang  dihidangkan beliau tidaklah meledak-ledak—seperti segelintir pemuka agama (rijalu ad-da’wah) di alam kontemporer yang kian merangkak maju kini. Melainkan sarat informatif, persuasif, edukatif dan argumentatif (bi al-hikmah, wa al-maui’zhah wa al-mujadalah/QS. An-nahal ayat 125). Dan, bila tokoh yang  lahir pada 17 Februari 1908 itu, menyuarakan dimensi dakwah berupa tanzhir (khabar pertakut), tanpa tergelicik pada pola-pola eufemisme dibalutnya dengan bahasa santun, sejuk, bersahabat, dan gampang dimengerti.

Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under Umum

Pelajaran Bagi Umat Islam dari Novelis Murtad Salman Rushdie


Oleh H. Marjohan

Masih ingat Salman Rushdie? Seorang novelis keturunan Pakistan—berkebangsaan  Inggris. Salah satu novelnya yang sempat mangguncang-limeh dunia Islam bertajuk: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Saking tersinggungnya puncak kada umat Islam, sampai-sampai pemimpin spritual Iran Ayatullah Rohullah Khomeini menawarkan hadiah “gadang-badagok” bagi siapa yang berhasil menerabas, dan melenyapkan tempurung kepala Salman.

Usai meluncurkan The Satanic Verses —yang menurut Darman Moenir, belum satupun sastrawan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia—walau banyak pihak mendambakan, Salman dikerubungi para insan pers: Apakah Anda tak takut dibunuh? “Oh, siapa takut–sama sekali tidak!” Jawab konco-palangkin Shelina, yang juga novelis “murtad”, masih berdarah Pakistan itu, penuh percaya diri. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Komunikasi Massa

Jadi Haji Tanpa Mengunjungi Makkah al-Mukarramah


Oleh: H. Marjohan

“Mereka akan dibalut selimut kehinaan, di mana pun mereka berada. Kecuali jika mereka mau dan mampu merajut tali vertikal dengan Allah serta mau dan mampu pula merenda benang horizontal sesama anak manusia—yang berteduh di bawah kolong langit-Ku” (QS. Ali-‘Imran ayat 112)

Dalam salah satu riwayat yang shahih lagi mutawatir (valid dan berkesinambungan) dikisahkan! Satu ketika, bertemu dua Malaikat di depan Ka’bah usai musim haji. Kedua makhluk suci itu, terlibat dalam sebuah dialog seputar jemaah haji yang baru saja selesai menunaikan thawaf wada’ (perpisahan dengan Baitu al-Allah). Salah satu Malaikat bertanya: Berapa jumlah jema’ah haji tahun ini? Sekian ratus jiwa! Berapa di antara mereka yang mampu meraup haji maqbul dan haji mabrur? Hanya tiga orang, Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under "Idul Adha

Jelang Ramadhan, HHUGS Cari Dana untuk Bantu Keluarga Muslim


HHUGS (Helping Households Under Great Stress) adalah salah satu organisasi sosial di Inggris Raya yang berperan besar dalam membantu keluarga-keluarga muslim di negeri itu yang membutuhkan bantuan baik dalam bentuk materi maupun dukungan moral. Banyak keluarga-keluarga muslim di pelosok Inggris yang sangat membutuhkan uluran tangan, tapi saat ini HHUGS hanya bisa memberikan bantuan secara berkala pada 100 keluarga muslim saja karena minimnya dana.

Sebagai organisasi sosial, HHUGS mengandalkan pemasukannya dari donasi. Tahun 2009, organisasi ini tidak mampu memberikan bantuan finansial seperti yang mereka lakukan pada tahun-tahun sebelumnya karena ketiadaan dana. Mereka terpaksa menolak keluarga-keluarga baru yang mengajukan permohonan bantuan finansial, bahkan menghentikan bantuan finansial pada keluarga-keluarga yang selama ini mendapatkan bantuan.

Namun HHUGS berupaya untuk mencari dana itu. Mereka memanfaatkan momen menjelang Ramadan ini untuk menggalang donasi. Hari Minggu, tanggal 1 Agustus ini, HHUGS akan menggelar acara pengumpulan dana yang disponsori oleh stasiun televisi Islam, Cageprisoner–organisasi pendampingan bagi narapidana dan sebuah restoran di Inggris.

Acara yang akan digelar di Southhall, London itu akan menghadirkan tokoh-tokoh muslim di Inggris, acara lelang Kiswah (kain penutup kabah) dan dimeriahkan oleh group-group nasyid. Dana yang terkumpul dari acara ini akan digunakan untuk membantu keluarga-keluarga muslim yang kekurangan. Misalnya, memberikan bantuan finansial untuk memenuhi kebutuhan makanan, membiayai layanan kesehatan anak, membayar biaya sekolah, membiayai transportasi keluarga yang ingin mengunjungi anggota keluarganya yang berada di penjara dan atau sekedar memberikan dukungan moral dengan melakukan pendampingan.

Keluarga-keluarga muslim yang membutuhkan bantuan itu biasanya mereka yang berada dibawah perintah “pengawasan” aparat kepolisian. Sulit membayangkan betapa sulitnya hidup mereka yang berada di bawah perintah pengawasan aparat kepolisian. Khususnya jika yang berada dibawah pengawasan itu adalah kepala keluarga yang punya anak dan istri.

Kebebasan adalah anugrah dari Allah Swt. Tapi ketika kebebasan itu direnggut atas dasar prasangka, yang terjadi adalah para muslimah yang tetap harus mengenakan jilbabnya saat tidur karena takut aparat polisi tiba-tiba menggedor rumah mereka di malam hari dan melakukan penggeledahan, keluarga mereka dilarang mengakses internet, bahkan menonton televisi, mereka juga tidak bisa berkunjung ke rumah kerabat kecuali mendapat izin.

Ironisnya, kebanyakan, perintah pengawasan itu didasarkan pada bukti-bukti yang dirahasiakan, dimana orang yang dikenai perintah pengawasan atau pengacaranya tidak boleh tahu bukti-bukti itu.

Salah satu pembicara yang akan hadir dalam acara penggalangan dana HHUGS hari minggu ini adalah Cerie Bullivant, yang juga korban “perintah pengawasan” yang dikeluarkan kepolisian di Inggris.

“Begitu saya dinyatakan berada dalam pengawasan, kehidupan saya berubah total. Banyak sahabat yang menjauhi saya karena takut. Saya kehilangan orang-orang yang memberikan dukungan—komunitas muslim–mereka sangat takut dan tidak mau menarik perhatian sehingga mereka memilih menjauh,” kata Bullivant.

Gerak dan aktivitasnya sehari-hari juga dibatasi, tidak boleh bepergian, tidak bisa pergi kuliah apalagi mencari pekerjaan, harus menandantangani surat pernyataan ke kantor polisi setiap hari. “Hidup Anda bukan milik Anda lagi. Anda tidak bisa merencanakan apapun dan polisi bisa menerobos masuk ke rumah saya kapan saja, ini bisa terjadi dua kali dalam seminggu,” tukas Bullivant.

Keluarga Faraj Hassan juga salah satu yang mendapatkan “perintah pengawasan”. Ia mengungkapkan, polisi Inggris seringkali menggeledah rumahnya untuk “menghancurkan” mental Hassan, istri dan anak perempuannya, Shaima yang masih berusia delapan tahun. Aparat juga sengaja menempatkannya dalam posisi yang rentan untuk melakukan pelanggaran sehingga selalu ada alasan untuk memperkarakan Hassan.

Shaima menyebut situasi yang dialaminya sebagai “masa kecil dibawah perintah pengawasan”. Ia mengatakan, “Mereka selalu menggeledah rumah kami, memporak-porandakan barang dalam rumah bahkan mengambil barang milik saya. Saya dan ibu selalu merasa ketakutan,” tutur Shaima.

“Bukan itu saja, saya dilarang menggunakan internet, tidak boleh main play station, tidak boleh menggunakan MP3. Saya tidak boleh pergi dengan ayah ke banyak tempat. Saya tak punya teman yang main ke rumah. Mereka juga pernah menolak keinginan ayah untuk menyekolahkan saya ke sekolah Islam, sampai akhirnya seseorang dari HHUGS membantu kami meski harus bernegosiasi selama tiga bulan. Ternyata, ada saudara-saudara muslim yang membantu kami,” papar Shaima.

Dengan acara penggalangan dana menjelang bulan Ramadan ini, HHUGS berharap bisa mendapatkan lebih banyak donasi untuk membiayai kegiatan sosial mereka membantu keluarga-keluarga muslim yang membutuhkan bantuan finansial maupun dukungan moral.

Source : Eramuslim.com

Tinggalkan komentar

Filed under Islam