Tag Archives: kecewa

Sekeping Hati yang Terluka


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (7)

Waktu itu kulepas kepergiannya dengan tangis dan air mata. Kuiringi dengan perasaan yang tak pernah bisa kumengerti. Kudahului dia keluar guna mengantarnya untuk terakhir kalinya, bagaikan orang mengantar keranda ke tempat peristirahatannya. Dan aku menekuri dinding dengan isak kesedihan orang yang kehilangan.

Tapi dengan perlahan kurasakan kehalusan jemarinya menelusup menggenggam tanganku. Diajaknya aku kembali ke tempat semula. Didudukkan dirinya di tempat tidur yang sama dan aku bersimpuh di hadapannya. Namun aku tetap tak mampu menahan dukaku dan menghentikan kesedihanku, walau dia telah menunda kepergiannya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Ketika Cinta Itu Tak Bernafas Lagi


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (5)

Cinta telah menunjukkan padaku betapa berharganya hari dan waktu. Satu hari ketidakhadirannya telah membuatku mengerti akan rasa sebuah kerinduan, beberapa hari ketiadaannya telah menghadirkan bayangannya memenuhi sudut-sudut pikiranku. Sebagaimana cinta melepaskanku dari kekangan kesepian dan kesunyian, demikian pula ia telah membuat kesepian dan kesunyian itu sebagai sosok-sosok gelap yang tambah mengerikan bagiku. Hanya keberadaan dia yang terasa memberikan arti.

Meskipun sampai dengan dua kali pertemuan kami dalam waktu-waktu berikutnya, masih terasa desah-desah nafas cinta mengalir dari dadaku, masih kupandang cinta dan kasih sayang bermain di sisi tempat dudukku yang diteduhi naungan sayap-sayapnya, dan masih dituntunnya aku dalam perjalanan yang mengikuti langkah-langkahnya.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Hantaran Bahagia dalam Catatan


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (4)

Hari itu adalah hari Minggu di awal Januari. Kuundang dia ke rumahku, dan dia datang tepat pada waktu yang dijanjikannya. Waktu dimana kusingkap segenap asa dan rasa dalam diriku, kupaparkan semua alasan yang memberati hatiku dan kubentang kebimbangan-kebimbangan yang kumiliki.

Aku bicara tentang kerinduan dan rasa takutku, bahwa aku takut kehilangan dia. Aku bicara tentang kekagumanku, bahwa aku menyukai dan mencintainya. Dan aku bicara tentang kesangsian dan keraguanku, bahwa masih ada perbedaan yang tersisa antara kami. Perbedaan yang membuatku tak sanggup memintanya untuk mencintaiku, karena mungkin aku tak akan bisa membahagiakannya. Oleh karena itu hanya kuharap kesediaannya menjadi adik-ku dalam persaudaraan.

“Janganlah engkau berpikir terlalu jauh tentang perbedaan itu, aku juga memiliki ketakutan yang sama, kalau engkau akan membenciku. Aku bukan tak menyukaimu, tapi kalau kita bisa berteman dalam persahabatan yang lebih indah, kenapa aku mesti kau anggap sebagai adik.” Hanya itu jawaban yang kuperoleh dari gerakan bibirnya menjalin kata.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Serajut Kenangan yang Terjawab (2)


Dalam waktu lebih satu tahun semenjak awal pertemuan kita, aku sudah bisa meneguhkan kebulatan kata hatiku untuk betul-betul menjadi adik-mu. Sehingga tidak ada harapan lain yang kuinginkan darimu, karena aku merasa telah memiliki segalanya. Kumiliki dirimu sepenuhnya sebagai kakak-ku yang tak tergantikan oleh siapapun.

Semuanya berjalan sebagaimana biasa. Sampai pada suatu hari yaitu hari Selasa, tanggal 22 Agustus 2000, dalam suatu kebersamaan kita engkau mengatakan bahwa engkau mencintaiku. Kutanggapi itu dengan diam. Karena aku tahu sebagai seorang kakak memang seharusnya kau mencintaiku. Dan akupun mencintaimu serta sangat menyayangimu. Sebab aku adalah adik-mu. Terlepas dari apa pengertian cinta itu bagi orang lain.

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Kisah

Kala Sirnanya Sebuah Harapan


Aku tak akan menceritakan bagaimana awal pertemuanku denganmu. Tak akan kupaparkan sekuat apa pesonamu dalam pandanganku. Juga aku tak akan bicara betapa indahnya saat-saat yang pernah kita lalui. Karena semua itu seolah telah tenggelam, yang kutemukan dikala kumembalik lembaran-lembaran album kenangan kehidupanku yang tersisa, hanya secercah suasana hati, yang membawa ingatanku ‘tuk menjemput sepenggal hari. Hari itu adalah hari Sabtu, 10 Pebruari 1991 dan hari itu akan kujadikan monumen kenangan pahit dalam hidupku. Yang dalam waktu puluhan tahun mendatang akan kuceritakan di hadapan anak-anak dan cucu-cucuku bahwa hari itulah pernah kurasakan sebuah kesakitan melumat diriku, dengan kepedihan menyayat tiada bandingan dan tiada tertahankan. Namun bagaimanapun, di hari itu pulalah aku mendapatkan kesadaran, menyadari siapa aku, sebagai seorang yang tak pantas untuk mencintai seorang wanita yang bernama Rina.

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Kisah