Kala Sirnanya Sebuah Harapan


Aku tak akan menceritakan bagaimana awal pertemuanku denganmu. Tak akan kupaparkan sekuat apa pesonamu dalam pandanganku. Juga aku tak akan bicara betapa indahnya saat-saat yang pernah kita lalui. Karena semua itu seolah telah tenggelam, yang kutemukan dikala kumembalik lembaran-lembaran album kenangan kehidupanku yang tersisa, hanya secercah suasana hati, yang membawa ingatanku ‘tuk menjemput sepenggal hari. Hari itu adalah hari Sabtu, 10 Pebruari 1991 dan hari itu akan kujadikan monumen kenangan pahit dalam hidupku. Yang dalam waktu puluhan tahun mendatang akan kuceritakan di hadapan anak-anak dan cucu-cucuku bahwa hari itulah pernah kurasakan sebuah kesakitan melumat diriku, dengan kepedihan menyayat tiada bandingan dan tiada tertahankan. Namun bagaimanapun, di hari itu pulalah aku mendapatkan kesadaran, menyadari siapa aku, sebagai seorang yang tak pantas untuk mencintai seorang wanita yang bernama Rina.

Hari itu adalah akhir dari suatu penantian panjang, saat-saat aku menunggu kedatanganmu. Kedatanganmu yang kuharapkan akan memberiku apa yang selalu kudambakan, yakni getar-getar lembut penuh keindahan dan kebahagiaan yang merambati seluruh tubuh dikala kudengar ucapanmu, sebagaimana yang kurasakan setiap kuterima indahnya untaian kata persembahanmu dikala kita berbicara. Tetapi semua harapan itu hanya tinggal harapan, kelembutan itu tak ada lagi, keindahan itu seolah telah terenggut oleh suatu kekuatan yang tak kelihatan dan kebahagiaan yang sebelumnya pernah kurasakan sepertinya telah hilang dan sirna bak mengeringnya butiran embun dalam jilatan sinar mentari di sudut ufuk. Yang tersisa hanya sejumput kegersangan, yang terasa mengalir bersama gelegar rangkaian kata yang terlontar dari lisanmu : ‘ternyata aku belum bisa memikirkan masalah cinta, karena aku telah terlanjur meyakini anggapanmu bahwa aku adalah adik-mu’. Sungguh sebuah ucapan yang kaku dan kerontang. Tiada sisa kelenturan yang pernah ada, yang tinggal hanya seutas ketegaran yang keras dari sebilah cemeti yang mencambuk dengan hujaman tak tertahankan dibatinku, merobek sukmaku, yang mengalirkan sucinya darah cinta!

Bukan aku tak kuat dan tak berani menerima penolakan cintamu. Bukan aku tak sanggup untuk menghadapi kenyataan bahwa disuatu waktu engkau akan berpaling dariku. Tetapi yang tak kusanggup hanyalah disetiap saat aku harus mendengar, jeritan pedih dari hatiku yang merintih dalam harapan yang mendamba. Meneriakkan seuntai kalimat dalam tanya tiada berjawab : ‘setega itukah engkau mengakhirinya?’.

Karena semua yang menyata dalam ucapmu tidak berupa alasan jelas yang bisa kupahami, seolah semua itu hanyalah hasil pencarian dari sebuah ketidakjujuran. Padahal yang kuinginkan adalah sebutir jawaban dari kejernihan lautan kalbu, seumpama engkau bersimpuh di pinggir kebeningan telaga hatimu, sisihkanlah beberapa tetes kejujuran dengan menyimpannya di bejana nuranimu yang tersembunyi, ketika aku bertanya kepadamu tentang hati, suguhkanlah ianya didalam cawan keterusterangan yang beralaskan nampan ketulusan. Sehingga tak sakit yang kurasakan!

Tanpa engkau harus merasa takut adanya endapan ketersinggungan yang ‘kan terguncang, tanpa engkau harus memupuk sebuah kesangsian datangnya deburan kebencian akan menerjangmu. Percayalah, Sayang, atas nama kejujuran dan keterusterangan, aku tak akan tersinggung menyikapi semua pendirian yang mengapung dari kebeningan hati, sungguh tak akan ada setitik kebencian pun jika memang semua itu keputusanmu. Sebab tanpa penerimaan dan penolakan cintamu, sebagaimana yang pernah kau pintakan dulu, aku tetap akan menganggap engkau sebagai adik-ku, seorang adik yang sangat kusayangi. Meskipun hati dan perasaan ini tak pernah sanggup ku mendustainya.

Saat-saat setelah itu perasaan dan harapanku bagaikan berada di ambang kematian. Sepertinya hidup tidak matipun enggan. Karena itulah kumohonkan dalam pinta, kalau memang harus kuturuti kemauanmu, kuhantarkan sebuah permintaan tolongku kepadamu. Tolong, tolong jangan disiksa lagi perasaan dan harapanku itu, adik-ku. Engkau bunuhlah saja dengan sebuah keputusan tegas yang kuharapkan. Perihal suatu ‘pembunuhan’, aku pernah mendengar kata-kata, bahwa : “Seseorang yang pengecut akan membunuh dengan ciuman, tetapi seorang yang berani akan melakukannya dengan pedang.”

Yang serasa memberikan sebuah makna, apabila engkau seorang yang pengecut, kata-kata indah yang disertai alasan belum bisanya engkau memikirkan masalah cinta adalah sebagai wujud penolakanmu, padahal hatiku memahaminya sebagai suatu pembohongan terhadap hati nurani. Namun jika engkau seorang yang berani, tentu kau akan mengatakan : “Aku tak bisa mencintai seorang lelaki sepertimu, karena hati dan perasaan tak akan pernah bisa menerima satu paksaan”.

Sementara yang kuingin dari ketulusan hatiku, hanyalah agar engkau menjadi seorang yang berani, adik-ku. Ya, aku inginkan kau menjadi seorang yang pemberani, berani untuk memberikan keputusan itu. Walaupun kata-katamu itu akan serasa tajamnya pedang yang akan merobek perasaanku, dan akan memutuskan tali jantungku yang selama ini mendenyutkan getarnya cinta suci. Aku rela, Rina! Daripada aku harus seolah terbuai oleh kata-kata manis yang melenakanku dalam jerit kepedihan yang merintih untuk menuju kematian. Yang entah kapan akan berakhir!

Meskipun kini semuanya hanyalah sisa dari suatu masa lalu, yang mungkin saja harapan itu tidak ada lagi, namun rasa sakit yang menyertainya seolah tetap hidup dalam kenangan. Mudah-mudahan engkau bisa memahaminya!


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI

Kisah Terkait :

1 Komentar

Filed under Kisah

One response to “Kala Sirnanya Sebuah Harapan

  1. ichssssssss…….kaya perasaan ku dech, kayagnya kalo dia sudah bersuami 7 x pun pasti masih mau nerima kembali, ya toooo?
    perasaan kasih, sayang, dan cinta atau apaitu namanya….
    sedang dia menolak nya dan menganggap aku adalah kakaknya,,,sebuah kata lain untuk menolak cinta suci ini, kasih yang dalam ini…
    “BIARLAH INI SEBAGAI TONGKAT KU BERJALAN NANTI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s