Serajut Kenangan yang Terjawab (2)


Dalam waktu lebih satu tahun semenjak awal pertemuan kita, aku sudah bisa meneguhkan kebulatan kata hatiku untuk betul-betul menjadi adik-mu. Sehingga tidak ada harapan lain yang kuinginkan darimu, karena aku merasa telah memiliki segalanya. Kumiliki dirimu sepenuhnya sebagai kakak-ku yang tak tergantikan oleh siapapun.

Semuanya berjalan sebagaimana biasa. Sampai pada suatu hari yaitu hari Selasa, tanggal 22 Agustus 2000, dalam suatu kebersamaan kita engkau mengatakan bahwa engkau mencintaiku. Kutanggapi itu dengan diam. Karena aku tahu sebagai seorang kakak memang seharusnya kau mencintaiku. Dan akupun mencintaimu serta sangat menyayangimu. Sebab aku adalah adik-mu. Terlepas dari apa pengertian cinta itu bagi orang lain.

Namun beberapa bulan silamnya waktu, tepatnya pada hari Sabtu, 10 Pebruari 2001, ketika aku datang menemuimu, disaat aku ingin membicarakan mengenai kebingunganku untuk memilih dua orang lelaki yang kusukai, engkau malah bicara tentang cinta antara kita, yang kau harapkan bukannya cinta dua orang saudara, bukan cintanya seorang adik yang menyayangimu, melainkan cintaku sebagai seorang wanita yang kau damba.

Dan waktu itulah kunyatakan : “Aku tidak bisa memikirkan masalah cinta itu, karena aku telah terlanjur meyakini anggapanmu bahwa aku adalah adik-mu.”

Kusaksikan engkau diam, tak berkata apa-apa. Sampai aku pergi meninggalkanmu. Dengan membawa sebuah kelegaan hati, karena kurasa engkau bisa memahami alasanku.

Namun semenjak saat-saat terakhir keberadaanmu di almamater kita, sekitar bulan Juni 2001,  aku tak pernah lagi berjumpa denganmu. Aku tak pernah tahu, engkau pergi entah kemana. Bahkan kau juga tak pernah memberi tahu dimana aku bisa menjumpaimu.

Aku merasa kehilanganmu, kakak-ku. Di saat kuterbentur ke suatu persoalan hati, aku merasa sedih sendiri, karena tak ada lagi yang bisa kuajak bicara, tak ada lagi tempatku untuk lari mengutarakan masalah-masalahku.

Baru sebulan kemudian aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kuterima sepucuk suratmu, ternyata kau telah pindah ke kota lain, hanya satu hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, kalau kata-kataku pada hari Sabtu, 10 Pebruari itu telah melukai hatimu, telah membuatmu hancur dan merasa kukecewakan. Aku sangat menyayangimu, aku adalah adikmu yang selalu mencintaimu. Tapi aku tak bisa mengatakan itu pada waktu kuterima suratmu, karena engkau jauh dan lagi pula engkau tak memberiku alamatmu. Sehingga pupuslah harapanku untuk bertemu.

Dalam ketiadaan harapan untuk bisa menemuimu, di suatu hari aku berjumpa seseorang di terminal bus, dengan menyandang sebuah tas besar orang itu memanggil namaku. Ternyata itu adalah engkau, Kakak-ku! Dengan rambut yang mulai panjang, tubuh sedikit kurus dan pakaian yang kumal engkau berdiri di hadapanku. Waktu aku menatapmu, di hatiku bergayut pertanyaan : ‘Akukah penyebab semuanya ini?’

Dengan rasa berdosa dan hati yang luka, kukatakan semua apa yang selama ini ingin kusampaikan kepadamu. Begitu sedih aku melihat perubahanmu. Yang membuatku ingat pada apa yang kau tulis dalam suratmu bahwa yang kau alami adalah kehancuran. Karena sedihnya aku, tak ada yang bisa kuperbuat, kakak-ku. Termasuk untuk meyakinkanmu bahwa aku tak bermaksud menyakiti dan mengecewakanmu. Hanya percikan airmata membasahi pelupuk mataku, menetes merambati pipiku, sebagai klimaks dari penyesalan yang kurasakan, sekaligus sebagai rasa dukaku ketika melihat seorang kakak yang kusayangi.

Tetapi engkau malah tetap tenang seperti tidak ada apa-apa. Yang bisa kudengar di sela isak-ku hanyalah alunan kata-katamu : “Jangan kau buang-buang air matamu, adik-ku. Karena tetesan airmata tak berarti lagi bagi dukaku. Seribu tetes airmata-mu tak akan sanggup menawarkan setetes duka dihatiku. Sebab duka dan luka yang kurasakan adalah penebus dosa dari kesalahanku sendiri, yang bukan bersebab dari orang lain, apalagi adik-ku sendiri. Dan duka itu telah lebur bersama rasa dan perasaanku, sehingga bisa kunikmati dengan cara pilihanku.”

Kakak-ku, aku tak begitu pasti kemana arah dan maksud kata-katamu. Kalau kau hancur dan terluka, mungkin itu salahku …. yah …. mungkin aku yang bersalah, karena aku terlalu lemah untuk tak menuruti kata hati dan perasaanku.

Namun aku telah mencoba untuk menjelaskan, telah kucoba untuk memohon maaf padamu, terutama melalui surat, sudah delapan belas pucuk surat kukirimkan sampai delapan bulan kepergianmu, tapi tak satupun yang berbalas. Aku tak pernah tahu apakah surat-suratku itu ada sampai ke tanganmu atau tidak, apakah semua surat tersebut ada kau baca atau tidak, entahlah aku tak pernah tahu, termasuk mengenai keberadaanmu sendiri aku juga tidak tahu.

Apakah dengan itu, tali persaudaraan yang pernah kau tunjukan, yang pernah terjalin antara kita dan membuatku bahagia harus sirna begitu saja?

Kalau memang engkau tak lagi merasa memiliki seorang adik yang pernah kau sayangi, apa boleh buat, mungkin dengan terpaksa aku bisa memaklumi, kalau memang itu kemauanmu.

Setelah beberapa tahun waktu berlalu, satu kebetulan yang juga tak pernah kubayangkan. Dalam acara “Biasan Bayu Dalam Agenda” di sebuah stasiun radio di kota-ku, aku mendengar tentang kakak-ku yang hilang. Engkau bicara tentang 10 Pebruari itu, kau bicara tentang aku dan kau bicara tentang kita, yang membuatku tahu tentang engkau dan tentang kesedihan yang kau alami. Tapi kini semuanya telah berlalu jauh kakak-ku. Semuanya telah berubah, tak lagi seperti yang dulu.

Saat ini memang aku masih di sini, meskipun aku telah tahu keberadaanmu namun dengan menyesal kukatakan, mungkin aku tak bisa menemuimu lagi. Karena kebanggaan dan kepercayaan yang pernah kumiliki dulu, sepertinya sudah tak bersisa lagi! (selesai)


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI

Kisah Terkait :

2 Komentar

Filed under Kisah

2 responses to “Serajut Kenangan yang Terjawab (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s