Merenungi Budaya Intelektual di Hari Ibu


Di hari Ibu, yang jatuh pada 22 Desember, akan lebih afdal kita renungkan ihwal Bundo Kanduang—sebagai bagian senyawa dari budaya nasional. Dan, merujuk pada akar historisnya, Bundo Kanduang secara kultural adalah panggilan khusus terhadap perempuan  Minangkabau. Sedang pada ranah etimologi, Bundo berarti ibu, dan kanduang bermakna sejati. Jadi, Bundo Kanduang adalah ibu sejati yang pada dirinya bergayut  kodrat keibuan dan kepemimpinan  dalam bingkai  budaya—bukan  kepemimpinan dalam artian memburu jabatan publik/politik dengan dalih emansipasi, jender dan career of woman—seperti yang jadi fenomena kini.

Makanya, siapapun perempuan Minangkabau – apa ia amak, amak tuo, etek, amak tangah, amak adang perempuan kita dan sebagainya—pada  hakikatnya adalah Bundo Kanduang. Beliau adalah tempat menarik tali keturunan yang disebut matrilineal. Andai si ibu bersuku piliang, chaniago, bodi, koto, kutianyia, patapang, banuhampu, jambak, tanjuang dan sebagainya, maka anak yang dilahirkan mesti bersuku sama dengan ibunya. Bukan paralel dengan suku ayah seperti yang berlaku pada sistem patriarkhat.

Like and dislike! Sebagian sistem matrilineal, lebih dekat dengan doktrin Islam. Sabda Nabi: “Sahabat bertanya. Siapa gerangan yang lebih kami  muliakan ya Rasulullah? Ibumu, ibumu, ibumu. Kemudian baru ayahmu” (Hadis shahih lagi mutawatir).

Bersentuhan dengan itu pula, seorang lelaki – secara insani pasti tak tega bersilantas angan terhadap perempuan sejenis ibu. Apalagi berbuat zalim atau berbenam diri di pelukan kaum ibu atau calon kaum ibu lewat perbuatan amoral semisal: kumpul kebo, berselingkuh dan sejenisnya – yang dalam bahasa syara’ disebut zina.

Ditelusuri ke belakang, adanya Bundo Kanduang secara budaya sama tuanya dengan alam Minangkabau yang memagut sistem matrilineal tadi. Namun, dalam pandangan A.A. Navis (1994):  “Tidak satu pun catatan konkret tentang sejarah kelahiran sistem matrilineal”. Soalnya,  tambo yang dipusakai turun-temurun secara lisan hanya mengisahkan waktu dan peristiwa  sejarah secara samar-samar, campur-baur, bahkan dibumbui hikayat kedongeng-dongengan—jauh dari objektifitas,  rasionalitas dan dialektika historis.

Dan, dalam kajian Taufik Abdullah (1992), sejak gerakan Paderi pada abad ke-19   mengusung visi-misi purifikasi Islam: “memaksa masyarakat Minang merevisi kembali  definisi alam/budaya Minangkabau”. Redefinisi tersebut langsung menyentuh hal-hal yang bersifat struktural. Walau pemurnian ke-Islaman komunitas Minang dari bahaya animisme, dinamisme dan singkretisme (Islam gado-gado) adalah tujuan utama gerakan Paderi, hasil akhir yang ingin dijuluk tak lain sebuah alam Minangkabau yang baru, yang diredhai, dan yang haq. (Wala talbisul haqqa bil bathil).

Berhadapan dengan sistem baru ini, sejumlah tokoh dan penghulu yang bersentuhan dengan “budaya kota” mulai sungguh-sungguh merenung seputar redefinisi dan hakikat alam Minangkabau dan tuntutan kultural yang bergayut di dalamnya. Tak sekadar membenam diri di gua kontemplasi, atau menyosoh di iven serimonial berprotokoler tinggi lengkap dengan pakaian kebesaran—seperti yang menggejala kini. Tapi,  mereka justru  berikhtiar gigih menggapai kemajuan di “dunia maju” – sesuai perubahan peta kultural alam Minangkabau.

Lantaran Minang bermazhab matrilineal, si Bundo Kanduang pun mesti lihai, campin, cerdik dan cerdas. Maka, bermunculanlah sekolah-sekolah kerajinan wanita, studi-studi fond dan bahkan surat kabar wanita – di samping surat kabar umum. Pokoknya, tidak ada istilah yang lebih ngetrend kala itu – selain: menggeliat untuk maju!

Masih bertumpu pada industri otak, bersiponganglah tulisan-tulisan seputar adat.  Tidak saja bercorak literati, tapi malah diikuti dengan penekanan keberlakuannya dalam konteks kekinian dan masa depan Minang (kontekstual). Bukti konkret, Dt. Sutan Maharajo (Bapak Wartawan Melayu versi: A.A. Navis) mengemas apik Surat Kabar Oetoesan Melaju (1915), dan Soenting Melajoe (1913–1922) – sebuah surat kabar wanita yang dinakhodai Bundo Ratna Juita dan  Rohana Kudus.

Yang membuat kita sekarang berdecak-kagum, tiga perintis surat kabar itu menganyam rapi medianya dengan polemik/diskusi adat antar pakar adat dan antar masyarakat yang kian melek tulis-baca. Yang lebih penting lagi, lewat media ini pula—Dt. Sutan Maharajo berdua dengan Dt. Sanggoeno Dirajo menggulirkan kritik pedas tapi persuasif terhadap para terpelajar Barat, dan juga para reformis Islam – yang dinilai telah melepaskan adat sebagai “pusaka nenek moyang” .

Kata berjawab- gayung bersambut! Dr H Abdul Karim Amrullah (Haka/ayah Hamka) menggelindingkan pula tanggapan yang tidak kalah pedasnya, tapi tetap dalam bingkai persuasif edukatif. Ulama kharismatik ini menentang kategori-kategori adat yang diapungkan Dt. Sutan Maharajo dan Dt. Sanggoeno Dirajo – yang menurut kajian Haka seakan melupakan proses Islamisasi berkelanjutan dalam habitat pemikiran adat dan pertautannya dengan pembaruan pemikiran Islam (tajdidu fi al-aI-Islam).

Yang menarik, dunia penerbitan kala itu bersigegas menerbitkan polemik surat kabar  menjadi buku. Misalnya, Tjoerai Paparan Adat Lembaga Orang Alam Minangkabau; Kitab Pertimbangan Adat Lembaga Orang Alam Minangkabau; Kitab Pantjoeran Adat Lembaga Alam Minangkabau; dan banyak lagi yang lain. Peneguhan moral tradisional dan moral kontemporal seperti yang diperagakan tokoh,  penghulu dan Bundo Kanduang tempo doeloe, adalah sebuah budaya/pergulatan intelektual di tanah minang, terutama dalam menghadapi social of change di penghujung abad ke-19 silam!

Percaturan pemikiran adat dan pemikiran Islam berlanjut sampai 1920-an. Ada lewat tulisan, dan tak sedikit pula melalui pendirian organisasi. Begitu Sendi Aman Tiang Selamat berubah nama menjadi Muhammadiyah pada 1924, pemuka Islam yang tergabung dalam organisasi Sumatera Thawalib menggeliat kembali. Lalu, pada 1932 mereka membidani Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang agitasi politiknya mampu mengimbangi Soekarno dalam PNI di Jawa.

Kehadiran Muhammadiyah dan Permi—juga  Thawalib dan Diniyah Putri–elit lain pun tak mau ketinggalan. M. Syafei berkonsentrasi di bidang pendidikan dengan mengibarkan bendera INS Kayutanam (1926). Sedang pemuka adat mengukuhkan eksistensi diri dengan menegakkan tiang-pancang Majlis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) – sebagai kelanjutan dari Serikat Adat Alam Minangkabau (SAAM) yang diarsiteki Dt. Sutan Maharajo. Sejak itu, dari ranah kultural – adat mulai merancah zona struktural – beraroma politik.

Bukti nyata, Ketua MTKAAM  Dt. Simarajo, hadir dalam Kongres Gapi, 1940–bertema: Indonesia Berparlemen. MTKAAM-lah satu-satunya organisasi kelahiran  Minang ikut sebagai peserta kongres. Pasalnya? Bukankah habitat adat gampang dijinaki bahkan dimobilisasi. Namun akhirnya, MTKAAM dibubarkan Soekarno, karena sebagian pengurusnya  bergabung dengan PRRI, dan segelintir lain hinggap di Masyumi. Tahun pertama Pemerintahan Soeharto (1967), MTKAAM dihidupkan kembali, dan berubah nama menjadi Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM). Tujuh tahun kemudian – atas prakarsa LKAAM,  didirikan organisasi Bundo Kanduang. Sama dengan LKAAM, organisasi yang mengambil nama Raja Pagaruyung ini tidak saja dikondisikan di tingkat provinsi, tapi marawa hitam-kuningnya ditancapkan  hingga tingkat kabupaten/kota, kecamatan, dan bahkan nagari.

Ujung-ujungnya, LKAAM bersama sejolinya menjadi kekuatan utama mesin politik Orde Baru. Dengan tak banyak cingcong apalagi polemik, orang bersaluk dan bertengkuluk terutama di grass root level gampang dikerahkan. Apalagi kaum strukturalis adat lihai memodifikasi petatah-petitih, dan kemudian menggiringnya ke tanda gambar dan simbol-simbol kenderaan politik.

Masih perkara polemik, beberapa tahun lalu berkatuntang pula adu argumen antara LKAAM dengan segelintir kawan yang akan menghidupkan kembali MTKAAM. Namun, polemik yang mengedepan bukan berdimensi intelektual, spiritual, kultural dan transedental semisal yang dilakonkan tokoh adat, tokoh Islam dan tokoh perempuan dulu itu. Melainkan  letupan ambisi yang sulit direnggangkan dari kepentingan pragmatis dan politis. Nah! Rumit juga untuk dibantah, mencuat lagi satu bukti – kalau budaya intelektual  di Minangkabau kian redup—ditelan hiruk-pikuk pola hidup materialistis, pragmatis dan bahkan hedonis.

Budaya intelektual itu, terasa kian mati suri. Soalnya, sejak kran multi-partai terbuka lebar pasca reformasi dan demokratisasi Mei 1998 lalu, tidak sedikit ulama plus intelektual berhamburan mendapatkan kursi dan posisi-posisi starategis di habitat legislatif. Kenderaan politik yang ditompangi cukup beragam dan bervariasi. Ada parpol berbasis Islam, parpol berbasis umat Islam, dan ada pula parpol nasionalis sekuler yang membuka diri untuk tokoh/umat Islam.

Yang membuat kening banyak orang dan orang kebanyakan (jumhuru annas) bergerinyit, ilmuan kampus yang menyandang berbagai gelar akademik sejak  S2 sampai guru besar justru menyeberang pula ke jabatan-jabatan struktural baik perangkat daerah maupun instansi vertikal dalam pelbagai eselonering. Bahkan dalam catatan mantan Rektor I Unand Prof. Dr. Edison Munaf, M. Eng (kini: Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Tokyo, Jepang), secara kuantitatif, tak kurang dari 80 persen guru besar di Indonesia justru memburu dan bahkan berburu di jabatan-jabatan struktural. Dan, pada hemat penulis: inikan sudah melenceng, dan kondisi ini sungguh sebuah bencana intelektual yang mesti disikapi semua stakeholders.

Nah! Karena kita sekarang tengah mengusung kredo: “pendidikan berkarakter”, serta  mengingat tanggung-jawab moral intelektual muslim bertelekan pada dua tali—hablum minallah dan hablum minannas (QS. Ali Imran ayat 112) – tidak ada jalan lain, selain pada saatnya ilmuan/intelektual rujuk kembali dengan dunia kampus. Lipat-gandakan doktrin penelitian (eksperimen) dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pencerdasan dan pencerahan dalam makna sesungguhnya. Fa’tabiru ya ulil albab.

Gambarnya punyanya

TENTANG PENULIS


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

4 Komentar

Filed under Minangkabau

4 responses to “Merenungi Budaya Intelektual di Hari Ibu

  1. @Buya Marjohan: Terimakasih kiriman tulisannya, Pak

  2. jadi kangen sama ibu saya nih..

  3. haduw,,,keren sekali bahasa tulisannya..aku harus banyak belajar neh..

    • @Melda: Itu artikel dari salah seorang penulis tamu Elsaelsi”s Blog, untuk memiliki tulisan yang baik hanya dengan memperbanyak bacaan dan rajin latihan. Coba kirimkan tulisannya kepada kami, siapa tahu Melda punya yang lebih keren. Untuk persyaratan coba dibaca pada halaman Penulis Tamu. Terimakasih, salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s