Ternyata Puisi Kerendahan Hati Bukan Karya Taufiq Ismail


Adalah Bramantyo Prijosusilo, seorang pegiat sastra yang pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra yang menghembuskan tuduhan tindakan plagiarisme itu di akun facebooknya. Tidak tanggung-tanggung, yang dituduh sebagai plagiator tersebut adalah Taufiq Ismail, penyair angkatan 66 pemilik buku kumpulan puisi “Tirani dan Benteng”, yang selama 55 tahun terakhir telah mengukuhkan diri sebagai penyair, sastrawan dan budayawan.

Tuduhan plagiarisme itu berawal dengan sangkaan segelintir orang terhadap sebuah puisi berjudul Kerendahan Hati yang katanya karya Taufiq Ismail. Puisi tersebut mirip dengan Be the Best of What You Are karya Douglas Malloch, penyair Amerika yang lahir pada tahun 1877. Sehingga dituduhlah Taufiq Ismail telah melakukan tindak plagiat atau menjiplak puisi tersebut.

Hal itu dengan cepat menyebar di beberapa media sosial di internet. Menjadi isu santer yang diperbincangkan banyak orang. Untuk menjawab tuduhan itu, Taufiq Ismail menulis surat terbuka, yang telah dimuat di berbagai portal berita. Berikut isi surat itu selengkapnya :

Inilah respons saya terhadap percakapan di atas, yang saya baca dari fail internet.

Puisi “Kerendahan Hati” disebutkan sebagai karya Taufiq Ismail, dituduhkan sebagai plagiat dari puisi “Be the Best of What You Are” karya Douglas Malloch.

Dalam tuduhan itu puisi “KH” tidak disebutkan dipublikasikan di mana dan kapan.

Karya puisi saya selama 55 tahun (1953-2008) telah diterbitkan lengkap (Ketua Panitya Fadli Zon), dengan judul Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit. Jilid 1. Karya prosa lengkap dimuat dalam MKB-MBL Jilid 2 dan 3.

Kumpulan MKB-MBL Jilid 1 itu, tebal 1.076 halaman, memuat 522 puisi. Untuk informasi Bramantyo, puisi berjudul “Kerendahan Hati” itu, yang dituduhkan sebagai karya plagiat, tidak ada di sana. Itu bukan puisi karya saya.

Sekarang mengenai puisi “BBWYA” karya D. Malloch yang dituduhkan sebagai sumber plagiat.

Pada tahun 1992 saya selesai menerjemahkan puisi Amerika Serikat, di Universitas Iowa, yang kumpulannya saya beri judul Rerumputan Dedaunan, meliputi kurun masa 1850an-1980an.  Antologi ini belum terbit. Kumpulan itu tebalnya 693 halaman, memuat karya 160 penyair. Nama David Malloch tidak terdapat di dalamnya.

Dia bisa saja penyair bagus, tapi dari begitu banyak penyair Amerika 1850an-1980an, Malloch tidak termasuk ke dalam 160 penyair yang saya pilih. Kalau dia lulus seleksi saya, karyanya tentu saya masukkan dalam antologi terjemahan RD itu.

Pertanyaan berikutnya sekarang: kenapa dituduhkan itu sebagai sumber plagiat?

Dalam 12 tahun terakhir ini, frekuensi kegiatan saya yang mempertemukan saya dengan sastrawan muda, guru, mahasiswa dan siswa tinggi sekali, melalui program pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra), SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya), sanggar-sanggar sastra, komunitas ini-itu, dst. Dalam interaksi itu banyak karya sastra didiskusikan, termasuk terjemahan puisi. Mungkin sekali dalam salah satu kontak itu karya David Malloch dibicarakan, diterjemahkan peserta dan saya diminta memberi komentar. Itu yang paling mungkin. Dan jelas saya tidak membubuhkan nama saya untuk terjemahan itu, dan tidak mempublikasikannya. Arsipnya saja saya tidak menyimpannya. Kalau Malloch favorit saya, dia mestilah saya masukkan dalam antologi RD. Ini tidak.

Dalam hal ini tidak jelas siapa yang mencantum-cantumkan nama saya pada terjemahan puisi Malloch itu. Saya jadi teringat pada kasus lagu Tuhan, yang lirik dan lagunya digubah Sam Hardjakusumah, dinyanyikan Bimbo. Karena saya menulis sekitar 70 lebih lirik Bimbo, lirik lagu Tuhan itu sering sekali dikira dari saya. KCI malah pernah salah kirim honorarium lirik lagu itu kepada saya. Saya berulang kali menjelas-jelaskan ini kepada publik. Beda kasus saya dikelirukan dengan Sam Bimbo, adalah bahwa saya sampai mendapat honor yang mestinya dikirimkan kepada Sam, tapi dalam kasus saya dikelirukan dengan Malloch, saya dicaci-maki oleh facebookers yang salah tuduh..

Saya tidak terima dinista sedemikian. Saya akan membawa ini ke ranah hukum, dengan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian RI, agar dia diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam hal pencemaran nama baik.

Saya meminta bantuan pengacara sastrawan Suparwan Parikesit SH dan aktivis kampus Abrori SH, dengan saksi pelukis Hardi dan budayawan Fadli Zon.

Taufiq Ismail, Rumah Puisi, 1 April, 2011.

Suratnya disalin dari SINI

Gambarnya punyanya

4 Komentar

Filed under Sastra

4 responses to “Ternyata Puisi Kerendahan Hati Bukan Karya Taufiq Ismail

  1. Apakah berita tentang bapak Taufik Ismail memang betul?
    atau hanya fiktif belaka dari segelintir orang yang ingin menjatuhkan karier beliau saja ?

  2. taufik ismail

    mohon maaf sebelumnya…. sebenarnya, puisi ‘kerendahan hati’ seperti yang tertulis, 100% hasil tulisan saya… tapi, saya TIDAK pernah menyebarluaskannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s