100 Hari Kepergian ASEP SAMBODJA-2 MENULIS Diluncurkan


Asep Sambodja lahir di Solo, 15 September 1967. Lulus dari Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Depok pada 1993, dengan skripsi berjudul Pariksit, Interlude, dan Asmaradana: Telaah Isi Sajak-sajak Goenawan Mohamad. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di tabloid Bintang Indonesia, majalah Sinar, majalah Ummat, tabloid Madani, media online Satunet.com, Otogenik.com, majalah Fokus Indonesia, dan majalah sastra Imajio. Sejak 2005, ia menjadi dosen di almamaternya, Program Studi Indonesia FIB UI.

Ia aktif menulis puisi. Sejumlah puisinya dimuat di beberapa media massa, antara lain Media Indonesia dan Koran Tempo, serta dalam antologi puisi, yakni Graffiti Gratitude (2001), Ini Sirkus Senyum (2002), Bisikan Kata, Teriakan Kota (2003), Dian Sastro for President!: End of Trilogy (2005), Les Cyberlettres: Antologi Puisi Cyberpunk (2005), Nubuat Labirin Luka: Antologi Puisi untuk Munir (2005), Mekar di Bumi (2006), Jogja 5,9 Skala Richter (2006), dan Legasi: Antologi Puisi Nusantara (2006).

Ia juga menjadi editor kumpulan cerpen karya mahasiswa UI, yakni Batak is The Best! (2006; bersama Saeno M. Abdi), Tuhan buat Vasty (2007), dan Untukmu, Munir (2008). Ia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya dimuat dalam antologi cerpen Batu Merayu Rembulan (2003) yang dieditori Heri Latief. Ia pun menjadi salah satu editor untuk buku Aceh Merdeka dalam Perdebatan (1999; bersama Tulus Widjanarko) dan kumpulan esai Cyber Graffiti (2001). Pada 2005—2008 menjadi penyunting pelaksana di Jurnal Susastra. Selain menjadi dosen di UI, ia juga menjadi editor di Penerbit Bukupop.

Esai-esainya dimuat di Republika dan Sinar Harapan. Beberapa esainya dibukukan dalam Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (2004), Dari Kampus ke Kamus (2005), Kebenaran akan Terus Hidup (2007), dan Keindonesiaan dan Kemelayuan dalam Sastra (2007). Ia telah menulis dua skenario, yakni Air (2000) untuk film pendidikan di BIPA FIBUI dan Rekonsiliasi (2003) untuk pementasan monolog (stand up comedy) Iwel Well di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 6 Maret 2004. Bersama M. Yoesoev, ia menjadi Pembina Teater UI (2005—2008). Ia pernah menyutradarai Teater UI untuk pementasan di Panggung Seni UKM, Malaysia, dengan lakon Khotbah karya Rendra.

Ia telah menerbitkan buku puisi Menjelma Rahwana (Komunitas Bambu, 1999), Kusampirkan Cintaku di Jemuran (Bukupop, 2006), Ballada Para Nabi (Bukupop, 2007), dan Berhala Obama dan Sepatu buat Bush (Ultimus, 2010). Buku teks yang telah diterbitkan adalah Cara Mudah Menulis Fiksi (Bukupop, 2007) dan Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (Bukupop, 2010).

Meninggal 9 Desember 2010.

Daftar Isi Buku “ASEP SAMBODJA MENULIS : Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-Pengarang Lekra” (Penerbit Buku ULTIMUS : 2011)

Sebuah Pengantar- I Sudharsono

TENTANG SASTRA INDONESIA

1. Peta Politik sastra Indonesia (1908-2008)
2. Wiji Tukul: Sekali Berarti, Sudah Itu Mati
3. Ketika Anak-anak Menjadi Kupu-kupu
4. Seno Gumira Ajidarma dan Kitab Omong Kosong
5. Menkonstruksi Sejarah Sastra Indonesia
6. Saut Situmorang: Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu
7.Sastra Perlawanan : Membaca Djoernal Sastra Boemipoetra
8. Boemipoetra versus Goenawan Mohammad dan TUK (1)
9. Boemipoetra versus Goenawan Mohammad dan TUK (2)
10. Boemipoetra versus Goenawan Mohammad dan TUK (3)
11. Boemipoetra versus Goenawan Mohammad dan TUK (4)
12. Saut Situmorang dan “Politik sebagai Panglima (5 habis)
13. Ariel Heryanto dan Sastra Indonesia yang Apolitis
14. Keith Foeulcher dan Sastra Indonesia di Era Orde Baru
15. Kalatidha dan Tragedi 1965 di Indonesia
16. Teori Sastra New Historicism dan Kedudukan Sastrawan
17. Goenawan Mohamad dan Manikebu
18. Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern

TENTANG PENGARANG-PENGARANG LEKRA

1. Nyanyian Sunyi Seorang Pramoedya Ananta Toer
2. Menafsir Puisi-puisi D.N Aidit
3. Orang Lekra itu cendikiawan Organik yang Dihilangkan Paksa dalam Gerakan Intelektual Indonesia
4. Penyair yang Menulis naskah Pidato Politik Presiden Soekarno
5. Kenapa Pramoedya Menolak Wayang?
6. Membaca Agam Wispi
7. A.S Dharta, Klara Akustia dan Jogaswara
8. Cerpen-cerpen Sastrawan Lekra
9. Soeharto dalam Puisi Putu Oka Sukanta
10. H.R Bandaharo Menempuh Jalan Rakyat
11. Doa Chalik Hamid buat Soeharto
12. Taufik Ismail Salah Tafsir Puisi Mawia Ananta Jonie
13. Sampai Kapan Perseteruan Lekra-Manikebu Kan Berakhir?
14. Pramoedya Ananta Toer dan “Tahun Pembabatan Total”
15. Basuki Resobowo, Chairil Anwar, dan Lukisan Perempuan Telanjang
16. Sobron Aidit dan Buku yang Dipenjarakan
17. Amarzan Ismail Hamid dan Tahun Vivere Pericoloso
18. Sejarah Sastra Indonesia Modern Versi Bakri Siregar
19. Rivai Aripin Menguak Teeuw
20. Fakta dalam Cerpen-cerpen Martin Alaeda
21. Adakah Duka Lebih Duka yang Kita Punya, Anantaguna?
22. Cerpen-cerpen Seorang Soekarnois
23. Sahabat Agam Wispi
24. Penyair sebagai Pilar kelima Demokrasi
25. Hersri Setiawan dan memoar Pulau Buru
26. Usai Pembantaian Massal Itu…
27. 1965: Perspektif Korban
28. Nyanyian Hersri Setiawan untuk Maharaja Soeharto
29. T.Iskandar A.S : Komunis Pertama yang Sembahyang
30. Pensiun : Cerpen Pilihan Harian Rakjat 1960
31. Keputusan Prambanan
32. Putu Oka Sukanta, Penyair Dunia, dan Komunikasi Sastra
33. Dari Diskusi Buku Penyair Lekra di FIB UI Depok

Kata Penutup-Asep Hilang Meninggalkan Kenangan Perjuangan- Margiyo

Biodata Asep Samboja

Dicopas dari SINI

Gambarnya punyanya

Tinggalkan komentar

Filed under Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s