Tag Archives: Perempuan Cina

Datang dan Pergi Bagi Hati


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (6)

Sampai satu bulan empat belas hari semenjak terakhir dia meninggalkan aku, belum juga kudapatkan kesempatan untuk bertemu. Sehingga di keluasan cakrawala hati dan perasaan, aku serasa terasing bagaikan rembulan redup di malam tiada berbintang. Kesepian jauh di langit tinggi tanpa ada sesuatu yang bisa kugapai untuk menemani. Hanya lingkupan kabut pikiran menyelimuti diriku yang semakin hanyut dalam kegelapan. Yang membuatku tenggelam di kedalaman harapan yang selalu memaksaku untuk mendamba secercah sinar penerang kalbuku. Cahaya itu adalah pelitaku, dan pelita itu adalah dia, yang tersekat dalam batas ruang dan waktu.

Ternyata memang benar apa yang selama ini pernah kudengar bahwa kita akan menyadari betapa terkasihnya seseorang di kala kita telah berjauhan dengannya. Karena semenjak kepergian dia, aku merasa kehilangannya. Setiap saat kutemukan getar kerinduan di sudut hatiku, setiap saat kusaksikan gapaian kasih yang merengkuh dalam ketiadaan. Sehingga yang bisa kuucapkan hanyalah betapa aku sangat menyayangi dia.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Si Pungguk dan Burung Laut


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (1)

“Kita berdua bagaikan dua ekor burung. Engkau ibarat burung laut yang datang dari ufuk jauh dan hinggap di sarangku, membawa nyanyian serta cerita tentang keindahan untuk menghibur hati yang sunyi. Sedangkan aku ibarat burung pungguk yang kesepian merindukan bulan di langit tinggi.

Ketika engkau kuundang ke sarangku, kurasa gairah dan kehangatan mengalir dari dekapan kedua sayapmu. Aku sempat mengungkapkan cinta, lalu engkau kembali terbang menempuh keluasan laut, menyeberangi cakrawala mencapai pantai berpasirkan emas, daratan tempatmu dengan bebas mengepakkan sayap. Sedangkan aku tetap sebagai pungguk  di sarangku, merindukan bulan dari malam ke malam, menanti dirimu dari bulan ke bulan.”

Entah dari mana aku pernah mendengar rangkaian kata itu. Entah siapa yang telah mengucapkan kalimat-kalimat yang demikian tepat untuk menggambarkan rintihan jiwaku. Yang jelas, memang seperti itulah suara keprihatinan dan jerit tangis yang kudengar dari sudut terdalam lubuk hatiku. Kuhayati tetes kepedihan dari sayatan perasaan yang tertakik. Maka kutuliskan kisah ini dengan tinta airmata.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah