Tag Archives: Pendidikan

Renungan Hari Pendidikan : Menjadikan Perguruan Tinggi Swasta Lebih Baik


Satu persoalan krusial yang menghadang di pelupuk mata pasca Ujian Nasional (UN), adalah mengatasi keterbatasan daya tampung perguruan tinggi negeri dalam penerimaan mahasiswa baru. Dikatakan rumit, peserta  seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) setiap tahun,  selalu mencapai angka fantastis, sehingga tidak pernah seimbang dengan daya tampung yang ada.
Menyikapi suasana gundah-gulana ini, bergaung segenggam usul-saran yang menyemburat dari pemerhati/pengamat pendidikan, agar stakeholders kependidikan selekasnya menukuk perguruan tinggi negeri dengan menggunakan pelbagai infrastruktur yang nyaris tidak berfaedah bagi kemaslahatan umum. Bila perlu, menjamah ke kabupaten/kota. Namun, usul—yang sekilas terkesan bernas ini, sejatinya dipertimbangkan masak-masak. Pasalnya? Bukankan di pelbagai pojok tanah  air tegak-berdiri lembaga pendidikan swasta. Apa tak lebih afdal, saatnya kita melirik lembaga pendidikan swasta tersebut. Pertimbangannya? Agar generasi kini tidak terkooptasi oleh yang serba negeri.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Seorang Guru Ketahuan Masturbasi Saat Mengajar


Seorang guru di sebuah sekolah Kristen di pinggiran kota Schaumburg, Illinois Amerika Serikat telah didakwa melakukan kejahatan, setelah ia dipecat karena diduga masturbasi di belakang podium saat mengajar.

Sebagaimana dilaporkan Kozlov Dana dari CBS 2, polisi Schaumburg mengatakan ia mungkin telah melakukannya selama 10 tahun terakhir atau lebih.

Paul LaDuke, 75, telah didakwa dengan delik eksploitasi seksual terhadap anak. LaDuke telah menjadi guru matematika di sekolah itu selama 26 tahun.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Perilaku

Perguruan Tinggi Terpopuler di Indonesia


Pengumuman kelulusan peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 dilaksanakan secara serentak pada Sabtu (17/07/10).  Melalui jalur ini, ITB menerima sebanyak 1177 orang terpilih sebagai calon mahasiswa baru ITB 2010. Dengan jumlah tersebut, ITB juga menempati posisi sebagai PTN dengan tingkat kepopuleran tertinggi di  kelompok IPA pada SNMPTN tahun ini.

Kuota yang disediakan untuk SNMPTN 2010 mengalami peningkatan dari kuota sebanyak 1130 kursi yang dijanjikan sebelumnya. Peningkatan ini terkait dengan kekosongan kursi untuk PMBP-ITB yang dialihkan ke SNMPTN. Dengan demikian, ITB menargetkan seluruh kursi mahasiswa baru ITB 2010 akan terisi penuh.

Selain menerima mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN, ITB sebelumnya telah melaksanakan Pendaftaran Awal Mahasiswa Baru ITB 2010 pada Rabu (16/06/10). Pendaftaran tahap awal ini diikuti oleh para peserta yang berasal dari jalur Penelusuran Minat, Bakat, dan Potensi (PMBP) ITB di Daerah dan Terpusat.

Para peserta yang diterima dari jalur SNMPTN ini diwajibkan untuk mengikuti Pendaftaran Mahasiswa Baru ITB 2010 yang akan diadakan di Sasana Budaya Ganesha pada 28-30 Juli 2010 mendatang. Sebelumnya, calon mahasiswa juga harus melaksanakan pengisian formulir pendaftaran mahasiswa baru ITB secara online di situs http://pmb.akademik.itb.ac.id pada 20-29 Juli 2010.

Terpopuler

SNMPTN 2010 diikuti oleh 57 PTN yang berasal dari seluruh wilayah di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun dari okezone.com, ITB menjadi PTN yang paling populer pada kelompok IPA pada pelaksanaan SNMPTN kali ini. ITB menduduki peringkat pertama, disusul oleh Universitas Indonesia (UI) di peringkat kedua dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat ketiga.

Pelaksanaan SNMPTN 2010 diikuti oleh sekitar 447 ribu peserta se-Indonesia, terdiri dari 143 ribu peserta kelompok IPA, 169 ribu peserta kelompok IPS, dan 135 ribu peserta kelompok IPC. Dari pelaksanaan tahun ini, sebanyak 89.355 peserta diterima sebagai calon mahasiswa di berbagai PTN yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sumber : http://www.itb.ac.id

Tinggalkan komentar

Filed under Copy Paste

Gaji Guru Masih di Bawah UMP


Hingga kini masih banyak guru di pelosok yang gajinya jauh di bawah upah minimal provinsi (UMP), sehingga ini akan mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.

Demikian pendapat yang mengemuka dari kalangan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dalam Dialog Suara Daerah di Gedung DPD RI di Jakarta.

Hadir dalam dialog tersebut antara lain Mursyid (anggota DPD RI dari Aceh), Emanuel Babu Eha (NTT), dan M. Afnan Hadikusumo (DI Yogyakarta). Menurut Mursyid, banyak guru honorer terutama di sekolah-sekolah swasta hanya bergaji Rp100.000 atau Rp 200.000 per bulan, sehingga guru tersebut harus mencari tambahan di luar jam mengajar, yang membuat banyak guru letih saat mengajar. Ia juga menyoroti pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang menurut dia tidak tepat dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa didik. “Sebaiknya UN tidak dijadikan tolok ukur kelulusan siswa, ini karena kondisi sekolah di daerah satu dan lainnya tidak sama, baik sarana, prasarana maupun kualitas tenaga pengajarnya,” kata Mursyid. Menurut dia, seharusnya pemerintah bisa belajar dari sistem kelulusan siswa didik terdahulu ketika kelulusan ditentukan oleh kepribadian, ujian sekolah dan ujian nasional, sehingga terasa adil bagi siswa, guru dan sekolah. Sedangkan Emanuel Babu Eha melihat bahwa hakikat pendidikan sebenarnya adalah membangun karakter bangsa yang bertanggung jawab, dan itu hanya bisa dilakukan oleh guru yang mengajar dengan penuh kasih sayang. “Guru itu seharusnya mencintai profesinya, bukan mencari kekayaan. Menurut saya, keberhasilan anak didik tidak seratus persen ditentukan oleh faktor kesejahteraan guru,” katanya. Ia menjelaskan, ada guru yang gajinya besar namun malas mengajar, sehingga murid-muridnya tidak terpacu untuk belajar serius. Bahkan banyak siswa beranggapan bahwa semua bisa dibeli dengan uang, termasuk `membeli’ nilai dari guru, dan hal ini mengakibatkan anak didik belajar seenaknya dan tidak menghormati guru.

Dicopas dari ANTARA News

Tinggalkan komentar

Filed under Copy Paste