Tag Archives: Macet

Kemacetan Terlama di Dunia Sepanjang 100 Kilometer


Barisan truk berjajar memanjang. Mereka masih terjebak di kemacetan terpanjang dan terlama di dunia, yang terjadi di Provinsi Hebei, Cina. Jalur cepat Cina-Tibet itu sekarang berubah menjadi ‘tempat parkir’ kendaraan paling luas. Hingga kemarin, kemacetan sudah memasuki hari ke-10. Panjang kemacetan pun sudah mencapai 100 km.

Biasanya, jalur tersebut merupakan jalur lalu lintas paling sibuk dengan raungan kendaraan yang tiada henti. Kini, yang terdengar di jalur itu hanya rengikan jangkerik. Otoritas Cina terus bekerja menyelesaikan pemeliharaan konstruksi di jalur tersebut demi lancarnya arus lalu lintas. Pemeliharaan ini sudah masuk hari ke-11, dan diperkirakan baru bisa selesai dalam 12 hari ke depan.

Pemeliharaan konstruksi ini menjadi sangat diperlukan mengingat terus bertambahkan beban jalan akibat dilalui truk-truk barubara dengan tonase tinggi. Ini terjadi setelah ditemukannya ladang batubara bervolume besar di wilayah Mongolia Dalam, provinsi Hebei. Di masa mendatang, jalur ini diperkirakan bakal menjadi jalur lalu lintas paling sibuk di dunia.

Kemacetan ini sudah terjadi sejak 14 Agustus lalu. Kendaraan hanya bisa bergerak kurang dari satu km dalam sehari. Masyarakat di sekitar kemacetan pun menjadikan fenomena tersebut jadi peluang untuk mengais rezeki. Mereka berdagang makanan dengan harga sekitar Rp 20 ribu per bungkus. “Ini bukan harga yang murah, tapi kami tak punya pilihan,” kata seorang sopir truk, Zhang Xingping, seperti dikutip Guardian.

Ribuan sopir yang banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, jalan-jalan, main kartu dan catur, menjadi pasar yang menjanjikan keuntungan bagi warga sekitar. Satu botol air mineral yang biasa dijual seharga Rp 2 ribu, kini bisa mereka jual seharga Rp 20 ribu. Biaya makanan di area macet terlama di dunia ini menjadi jauh lebih mahal dibanding makan di restoran.

Mulai tadi malam, sebenarnya lalu lintas mulai bergerak, tapi masih sangat pelan. Dan para sopir pun mulai didera kelelahan luar biasa dan rasa ngantuk. Mereka pun menyalahkan pemerintah yang tidak baik dalam mengelola sistem lalu lintas. Menurut para sopir, kemacetan berkepanjangan sering terjadi di jalur-jalur pegunungan Cina, akibat sistem yang kurang tertata baik.

Dicopas dari Republika.co.id

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Lalulintas

SBY Jadi Korban….


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kemacetan di jalan raya di Jakarta adalah permasalahan yang harus segera diatasi. “Macet harus dipecahkan, itu masalah ibukota negara ini,” kata Presiden Yudhoyono dalam acara peringatan Hari Konstitusi di gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Rabu.

Presiden menceritakan, iring-iringan kendaraan kepresidenan sempat terjebak macet di Jalan Medan Merdeka Barat, tepatnya di depan kantor Kementerian Pertahanan. Di tempat itu, iring-iringan kendaraan presiden sempat tertahan selama 20 menit. Akibatnya, presiden tiba di gedung MPR/DPR sedikit terlambat dari jadwal yang ditentukan.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Lalulintas

Gara-gara Macet, Ibukota RI Akan Pindah ke Indonesia Timur


Lagi, wacana pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa kembali bergulir. Keruwetan yang sungguh tak terperikan di Jakarta sebagai ibu kota negara melatarbelakangi munculnya wacana ini.

Saat ini, tak kurang 59 persen populasi di Indonesia terpusat di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 6,8 persen dari total daratan di Indonesia. Kemacetan pun telah menjadi pemandangan lazim di Jakarta, utamanya pada pagi dan sore hari.

Diperkirakan, kerugian material akibat kemacetan di DKI Jakarta mencapai Rp 17,2 triliun per tahun, atau nyaris setara dengan anggaran belanja dan pendapatan DKI Jakarta setiap tahunnya.

Data dari Tim Visi Indonesia 2033 juga menyebutkan, tak kurang 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini menimbulkan pembangunan yang tak merata serta kesenjangan antara Pulau Jawa dan non-Jawa.

“Menurut saya, ibu kota itu wajib dipindahkan,” tegas Wakil Ketua Komisi II DPR RI Ganjar Pranowo. “Tak ada (gubernur) yang mampu. Sudah sekian gubernur, tetap sama saja kok,” tambah anggota Fraksi PDI-P ini.

Ketika dibangun oleh Belanda, sambung Ganjar, Jakarta hanya didesain menampung sekitar dua hingga tiga juta penduduk. Seiring dengan perkembangan zaman, kini tak kurang 10 juta orang memadati Jakarta setiap harinya. Pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa, sambung Ganjar, dinilai mampu merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah.

Hal senada ini disampaikan Direktur Kemitraan untuk Tata Pemerintahan yang Lebih Baik Wicaksono Sarosa, yang juga pemerhati isu-isu perkotaan. “Selama ini, kegiatan ekonomi di Jakarta hanya mendorong kemajuan segelintir daerah saja, seperti Jawa Barat dan Banten,” ujar Wicaksono, mengutip penelitian Profesor Budi Reksosudarmo.

Usulan pemindahan ibu kota juga disampaikan pemerhati lingkungan hidup, A Sonny Keraf, yang juga dosen Universitas Atma Jaya Jakarta. Usulannya merupakan langkah paling radikal. Namun banyak negara melakukan itu dan berhasil mengatasi kemacetan di ibu kota negaranya. Bung Karno, presiden pertama, telah berpikiran visioner menyiapkan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sebagai calon ibu kota RI sejak 1960-an.

Melanjutkan visi Bung Karno, sebaiknya ibu kota baru berada di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur. Ada banyak keuntungan positif untuk itu.

Pertama, pemindahan ibu kota jangan dilihat sebagai beban ekonomi karena besarnya dana yang dialokasikan. Ini harus dilihat sebagai peluang ekonomi yang sangat menggiurkan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang yang akan mengerjakan persiapan, pembangunan, dan relokasi ibu kota tersebut. Akan dibutuhkan waktu 5-10 tahun untuk realisasi, dan itu peluang ekonomi yang sangat baik.

Kedua, dari segi politik, pemindahan ibu kota ke luar Jawa dan Indonesia bagian timur (IBT) akan serta-merta menggeser episentrum pembangunan nasional dari Jawa dan Indonesia bagian barat (IBB). Ini akan menjadi sebuah langkah dan peluang pemerataan pembangunan ke IBT untuk memberi kesempatan lebih besar bagi berkembangnya wilayah luar Jawa, khususnya IBT.

Ketiga, selain untuk mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya, ini sekaligus menjadi peluang untuk membangun sebuah ibu kota baru dengan tata ruang, jaringan, dan pola transportasi yang jauh lebih ramah lingkungan, ramah secara sosial dan psikis, atau jauh lebih manusiawi.

Kita bangun ibu kota baru dengan sistem transportasi multimoda yang ramah lingkungan, nyaman, aman, dan mudah dijangkau. Kita bangun sebuah ibu kota baru dengan hutan kota yang asri, tempat-tempat rekreasi umum yang ramah secara sosial, dengan berbagai fungsi sosial yang futuristik untuk kehidupan modern, tetapi dengan warna etnik yang khas.

Pilihan di Kalimantan lebih diutamakan mengingat Kalimantan bebas dari pusat gempa, demikian A. Soni Keraf.

Pemindahan ibu kota, terutama ke Indonesia bagian timur, dinilai menjadi sebuah langkah dan peluang pemerataan pembangunan di kawasan tersebut. Ini memberi kesempatan yang lebih besar bagi berkembangnya wilayah luar Jawa.

Dicopas dari Kompas.com

7 Komentar

Filed under Lingkungan

Kelok Sembilan : Mega Proyek yang (Mungkin) Akan Menjadi Objek Wisata Baru, Berapa Biayanya?


Mandaki jalan ka Payokumbuah

Baranti tantang kelok sambilan

Ondeh, baranti tantang kelok sambilan

Dimalah hati indah karusuah

Sadang basayang adiak bajalan

Ondeh, sadang basayang adiak bajalan….

Itulah lirik lagu dari tape bus umum yang kami (aku dan putra sulungku) tumpangi dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Riau pada tanggal 13 Mei yang lalu. Kami berangkat dari Bukittinggi selepas maghrib, karena sebelumnya baru sekitar jam 15.00 WIB sore dari Lubuk Sikaping, Pasaman.

Perjalanan yang diguyur hujan pada malam hari itu seolah tak memberikan kesan apa-apa, karena memang tak ada yang bisa dilihat dalam kegelapan, kecuali sibuknya keadaan lalu lintas di bawah penerangan cahaya lampu mobil yang melewati jalan. Keadaan yang telah memaksa kami untuk tertidur.

Sekitar pukul 22.00 WIB malam itu, aku tersentak dari tidur sesaat. Mobil telah berhenti, para penumpang sudah pada terbangun, ternyata kami telah sampai di ruas dengan medan terberat sekaligus paling menarik antara Padang – Pekanbaru, yakni Kelok Sembilan. Dengan sebuah rutinitas yang tak dapat dielakkan, macet!

Kelok Sembilan adalah ruas jalan sempit (bottleneck) menuju Riau di dekat Lubuk Bangku, Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat. Selain sempit, juga berliku-liku tajam.

Bangsa kolonial Belanda pasti tidak akan menduga bahwa hasil karyanya berupa “Kelok Sembilan” yang berada di ruas jalan yang menghubungkan Riau – Sumatera Barat  itu keberadaannya masih sangat berarti hingga sekarang. Setiap kendaraan yang menempuh rute Pekanbaru – Padang, pasti akan melewati Kelok Sembilan. Jalur ini merupakan yang paling dekat untuk menghubungkan kedua kota yang berjarak lebih kurang 350 km ini. Sedangkan Kelok Sembilan sendiri berada pada jarak 180 km dari arah Pekanbaru, yang letaknya di celah-celah pebukitan.

Bagi masyarakat Riau dan Sumatera Barat, nama ruas jalan Kelok Sembilan itu tidak asing lagi. Ruas jalan itu dinamakan Kelok Sembilan, karena memiliki belokan (bahasa Minang : kelok = belok) ke kiri dan ke kanan sebanyak sembilan belokan. Kalau dilihat dari atas, belokannya merupakan zig zag.

Ruas jalan itu sendiri dari dulu hingga sekarang cukup ditakuti para sopir yang menggunakan jalur tersebut, karena dinilai sangat berbahaya. Dengan lebar jalan lebih kurang enam meter dan punya kemiringan yang cukup tajam, jelas jalan ini bisa menimbulkan bahaya bagi kendaraan yang melewatinya. Jika sopir tidak ekstra hati-hati, kendaraan bisa masuk jurang dan terjatuh ke belokan berikutnya yang kedalamannya mencapai 40 meter, yang akan langsung hancur, karena terjun bebas dan terhempas di atas jalan beraspal.

Makanya setiap kendaraan tidak bisa melaju begitu saja di ruas jalan ini, tapi harus pelan-pelan dan sangat waspada, terutama setiap berada di belokan yang menanjak tajam. Begitu pula saat berpapasan dengan kendaraan lain, kendaraan yang datang dari atas harus berhenti untuk memberikan kesempatan kendaraan yang menanjak melewatinya.

Berhawa Sejuk

Namun dibalik kerawanan itu, Kelok Sembilan menyimpan pesona tersendiri. Letaknya yang di celah-celah bukit dengan hutan belantara membuat suasana di sekitarnya menjadi sangat asri dan terasa sejuk.

Soalnya sinar matahari hanya bisa menembus tempat tersebut mulai dari sekitar pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB. Sebelum itu, tempat tersebut selalu sejuk. Apalagi jika malam hari di musim hujan sebagaimana yang kami rasakan. Letaknya yang berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut membuat udaranya terasa dingin. Jika pada malam hari suhu udara disini bisa mencapai 17 derajat celcius. Sebuah suhu yang tergolong sangat dingin bagi bangsa yang tinggal di daerah tropis.

Jika di siang hari, liuk-liuk yang dimiliki Kelok Sembilan membuat tempat ini sangat menarik untuk dinikmati. Menikmati pemandangan di sekitar Kelok Sembilan ini bisa dilakukan dari ruas jalan paling atas. Di belokan paling atas ini terdapat pinggang jalan yang luas cukup. Disitu kita bisa berdiri untuk melihat bentuk Kelok Sembilan secara utuh.

Dari atas itu, bisa dilihat jelas puluhan kendaraan berjalan meliuk-liuk hilir mudik di ruas jalan mengikuti kelokan dari jalan tersebut. Dari situ juga bisa menikmati hutan yang belum terjamah yang tumbuh di lereng-lereng bukit yang mengapit Kelok Sembilan. Disamping itu juga bisa dilihat ujung belokan yang terletak sekitar 100 meter di bawah.

Setidaknya sejak tiga abad silam, perdagangan dari pedalaman Minangkabau ke Sumatera Timur telah melalui jalur ini. Kelok Sembilan ini dibangun oleh Belanda tahun 1932, bayangkan saja, pada tahun 1932, Belanda telah mampu menaklukkan garangnya alam Sumatera Barat untuk sarana jalan. Padahal pada zaman itu belum ada eskapator atau peralatan berat lainnya untuk mengerjakannya. Semuanya masih mempergunakan peralatan sederhana dengan teknologi pas-pasan. Tentu saja pembukaan Kelok Sembilan merupakan sebuah pembangunan jalan yang banyak memakan korban. Kelok sembilan sama beratnya dengan Kelok 44 di Maninjau, kelok di pendakian Sitinjau Laut antara Padang dengan Solok serta pendakian di Silaiang Kariang, Padangpanjang. Sumatera Barat memang kaya dengan jalan berkelok-kelok.

Jalan Layang

Saat ini rute Pekanbaru-Padang yang melewati ruas jalan Kelok Sembilan itu menjadi satu-satunya pilihan bagi setiap kendaraan yang menempuh rute tersebut. Makanya tidak heran setiap harinya tidak kurang 6.800 unit kendaraan melewatinya. Bahkan pada hari libur jumlahnya bisa menjadi dua kali lipat atau sekitar 11.350 per hari.

Masih sempitnya ruas jalan itu, tidak heran pada saat-saat tertentu terjadi kemacetan. Seperti yang kualami pada malam hari Kamis, tanggal 13 Mei itu. Tak jarang setiap musim mudik lebaran pasti akan terjadi kemacetan lalu lintas di sekitar ruas jalan Kelok Sembilan. Setiap terjadi kemacetan, kendaraan bisa tertahan berjam-jam lamanya.

Karena posisi Kelok Sembilan yang berfungsi sebagai faktor penentu mulusnya hubungan lalulintas darat Padang-Pekanbaru, maka Pemerintah Sumatera Barat memandang perlu untuk membuat sebuah jembatan layang di situ, yang dimaksudkan untuk mengatasi masalah kemacetan. Sehingga sejak beberapa tahun yang lalu, telah dilakukan studi kelayakan pembangunan jalan layang Kelok Sembilan, dengan perkiraan dana sekitar  Rp 2,2 miliar

Pembangunan jalan nasional kelok sembilan yang menghubungkan antara Padang – Pekanbaru ini dalam pengerjaannya baru rampung sekitar 60 persen dan masih membutuhkan dana sekitar Rp126,244 miliar lagi. Total dana yang dibutuhkan untuk proyek itu saat ini adalah Rp256 miliar, setelah terjadi kenaikan harga bahan-bahan bangunan akhir-akhir ini.

Jalan Layang Kelok Sembilan dalam pembangunannya terdiri dari enam jembatan dengan panjang jembatan secara keseluruhan 711 meter. Sedangkan jalan penghubung panjangnya mencapai 1.350 meter, jembatan layang yang dirancang itu keloknya juga sembilan. Mega proyek yang dalam rencananya diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2011 (namun ternyata belum!)  akan sangat bermanfaat untuk peningkatan ekonomi masyarakat Sumatera Barat.

Keberadaan jalan layang ini nantinya akan memperlancar arus di sekitar itu. Jalan layang yang merupakan buhul liat Padang-Pekanbaru yang mulai diurai itu bakal bisa dilewati dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Jadi kendaraan tidak perlu lagi beringsut-ingsut di ruas jalan Kelok Sembilan yang sempit tersebut.

Jalan layang kelok sembilan adalah impian. Impian berjuta-juta orang di Sumbar dan Riau. Dan impian itu kini akan terujud. Kini, jika kita melakukan perjalanan dari Padang menuju Pekanbaru atau sebaliknya, sejumlah kesibukan pekerja akan terlihat di beberapa tempat, terutama di Kelok Sembilan.

Perencanaan dan pembangunan Kelok Sembilan merupakan hasil karya para insiyur anak bangsa. Pembangunan ini merupakan pembangunan infrastuktur dengan mempergunakan biaya yang luar biasa.

Kelak, di tengah rimba belantara Padang – Pekanbaru akan membentang jembatan layang nan rancak, di bawahnya tetap terlihat jalan Kelok Sembilan tua membentang, seperti mengukir sejarah kedua daerah, Riau – Sumatera Barat.


Artinya,  setelah dibangun jalan layang, fungsi Kelok Sembilan tidak akan dihilangkan. Ruas jalan Kelok Sembilan tetap dihidupkan, terutama bagi para wisatawan. Sebab bagaimanapun historis dan keelokkan Kelok Sembilan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Makanya kekhawatiran sebagian orang bahwa Kelok Sembilan akan tinggal nama dan menjadi kenangan, tidak akan terjadi. Malahan dengan adanya jalan layang tersebut, kelestarian Kelok Sembilan akan bisa terus terjaga. Sebab nantinya Kelok Sembilan tidak lagi terlalu berat menerima beban yang makin meningkat akibat semakin padatnya arus lalu lintas disana.

Disarikan dari berbagai sumber

Gambar dan media lain yang digunakan mungkin memiliki hak cipta dan belum mendapat izin dari pemiliknya


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

22 Komentar

Filed under Pariwisata