Tag Archives: Fredom Flotilla

UNTUK RACHEL CORRIE


Salah satu dari flotilla enam kapal yang mencoba menembus blokade Israel di Gaza itu, dan diserang marinir Israel hingga sekitar sembilan korban tewas, diberi nama “Rachel Corrie”.

Tulisan ini dimuat kembali untuk mengenang pengorbanan mereka, orang-orang asing, dari pelbagai agama dan tanah air, yang mati untuk rakyat Palestina.

***

Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembali ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.

Hari itu 16 Maret yang tak tercatat. Hari selalu tak tercatat dalam kehidupan orang Palestina, orang-orang yang tahu benar, dengan ujung saraf di tungkai kaki mereka, apa artinya “sementara”.

Juga di Kota Rafah itu, di dekat perbatasan Mesir, tempat hidup 140 ribu penghuni-yang 60 persennya pengungsi-juga pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat ke tempat. Pekan itu tentara Israel datang, seperti pekan lalu, ketika 150 laki-laki dikumpulkan dan dikurung di sebuah tempat di luar permukiman. Tembakan dilepaskan di atas kepala mereka, sementara tank dan buldoser menghancurkan 25 rumah kaca yang telah mereka olah bertahun-tahun dan jadi sumber penghidupan 300 orang-orang-orang yang sejak dulu tak punya banyak pilihan.

Tentara itu mencari “teroris”, katanya, dan orang-orang kampung itu mencoba melawan, mungkin untuk melindungi satu-dua gerilyawan, mungkin untuk mempertahankan rumah dan tanah dari mana mereka mustahil pergi, karena tak ada lagi tempat untuk pergi.

Saya bayangkan kini Rachel Corrie di surga, sebab hari itu ia, seorang perempuan muda dari sebuah kota yang tenang di timur laut Amerika Serikat, memilih nasibnya di antara orang-orang di Rafah itu: mereka yang terancam, tergusur, tergusur lagi, dan tenggelam. Hari itu ia melihat sebuah buldoser tentara Israel menderu. Sebuah rumah keluarga Palestina hendak dihancurkan. Dengan serta-merta ia pun berlutut di lumpur. Ia mencoba menghalangi.

Tapi jaket jingga terang yang ia kenakan hari itu tak menyebabkan serdadu di mobil perusak itu memperhatikannya. Prajurit di belakang setir itu juga tak mengacuhkan orang-orang yang berteriak-teriak lewat megafon, mencoba menyetopnya. Buldoser itu terus. Tubuh itu dilindas. Tengkorak itu retak. Saya bayangkan Rachel Corrie di surga setelah itu; ia meninggal di Rumah Sakit Najar.

***

Rachel yang di surga, selalu kembalilah namamu. Korban dan kematian di hari ini menjadikan kita sebaya rasanya. Kau terbunuh di sebuah masa ketika tragedi dibentuk oleh berita pagi, dan makna kematian disusun oleh liputan yang datang dan pergi dengan sebuah kekuasaan yang bernama CNN. Tahukah kau, di seantero Amerika Serikat, tanah airmu, tak terdengar gemuruh suara protes yang mengikuti jenazahmu?

Tentu kita maklum, bukan singkat ingatan semata-mata yang menyebabkan sikap acuh tak acuh setelah kematianmu di hari itu. Bayangkanlah betapa akan sengitnya amarah orang dari Seattle sampai dengan Miami, dari Gurun Mojave sampai dengan Bukit Capitol, seandainya kau, seorang warga negara Amerika, tewas di tangan seorang Palestina yang melempar batu.

Tapi kau tewas di bawah buldoser tentara Israel; kau berada di pihak yang keliru, anakku. Itulah memang yang diutarakan beberapa orang di negerimu ketika mereka menulis surat ke The New York Times. Mereka menyalahkanmu. Sebab kau datang, bersama tujuh orang Inggris dan Amerika lain, untuk menjadikan tubuhmu sebuah perisai bagi keluarga-keluarga Palestina yang menghadapi kekuatan besar pasukan Israel di kampung halaman mereka.

Kau melindungi teroris, kata mereka. Meskipun sebenarnya kau datang dari Olympia, di dekat Teluk Selatan Negara Bagian Washington, bergabung dengan International Solidarity Movement, untuk mengatakan: “Ini harus berhenti.”

Kau salah, Rachel, kata mereka. Tapi kenapa? Dalam sepucuk e-mail bertanggal 27 Februari 2003 yang kemudian diterbitkan di surat kabar The Guardian, kau menulis, “Kusaksikan pembantaian yang tak kunjung putus dan pelan-pelan menghancurkan ini, dan aku benar-benar takut…. Kini kupertanyakan keyakinanku sendiri yang mendasar kepada kebaikan kodrat manusia. Ini harus berhenti.”

Saya bayangkan Rachel di surga, saya bayangkan ia agak sedih. Ia dalam umur yang sebenarnya masih pingin pergi dansa, punya pacar, dan menggambar komik lagi untuk teman-teman sekerjanya. Tapi di sini, di Rafah, ada yang ingin ia stop; bersalahkah dia? Beberapa kalimat dalam surat kepada ibunya menggambarkan perasaannya yang intens: “Ngeri dan tak percaya, itulah yang kurasakan. Kecewa.”

Ia kecewa melihat “realitas yang tak bermutu dari dunia kita”. Ia kecewa bahwa dirinya ikut serta di kancah realitas itu. “Sama sekali bukan ini yang aku minta ketika aku datang ke dunia ini,” tulisnya. “Bukan ini dunia yang Mama dan Papa inginkan buat diriku ketika kalian memutuskan untuk melahirkanku.”

Apa yang mereka inginkan, Rachel, dan apa yang kau minta?

Berangsur-angsur kau pun tahu: kau tak menghendaki sebuah rumah yang begitu nyaman, begitu “Amerika”, hingga si penghuni tak menyadari sama sekali bahwa ia sebenarnya berpartisipasi secara tak langsung dalam sesuatu yang keji, yakni “dalam pembantaian”.

***

Itulah sebabnya kau berangkat ke Palestina. “Datang ke sini adalah salah satu hal yang lebih baik yang pernah kulakukan,” begitu kau tulis pada 27 Februari 2003. “Maka jika aku terdengar seperti gila, atau bila militer Israel meninggalkan kecenderungan rasialisnya untuk tak melukai orang kulit putih, tolong, cantumkanlah alasan itu tepat pada kenyataan bahwa aku berada di tengah pembantaian yang juga aku dukung secara tak langsung, dan yang pemerintahku sangat ikut bertanggung jawab.”

Ia menuduh dirinya sendiri ikut bersalah. Tapi ia meletakkan kesalahan yang lebih besar pada pemerintahnya.

Rasanya ia betul. Saya kira ia bahkan bisa juga menggugat jutaan orang Amerika lain yang senantiasa membenarkan apa yang dilakukan Ariel Sharon-hingga dalam keadaan perang dengan Irak sekalipun, dari Washington, DC, datang tawaran satu triliun dolar untuk bantuan militer langsung kepada Israel, di celah-celah berita tentang orang Palestina yang ditembak dan dihalau, di antara kabar tentang anak-anak Palestina yang tewas. Bukan main-cuma beberapa hari setelah seorang Amerika tewas ditabrak buldoser di Kota Rafah!

Jika ada kepedihan hati di sana, kau pasti mengetahuinya lebih intim, Rachel. Dari lumpur Kota Rafah itu kau pasti mengerti apa yang jarang dimengerti orang Amerika: kekerasan bisa muncul di puing-puing itu, sebagai bagian dari usaha untuk, seperti kau katakan dalam suratmu, “melindungi fragmen apa pun yang tersisa”.

Kau akan bisa menunjukkan bahwa Usamah bin Ladin dan Saddam Hussein, dengan wajah mereka yang setengah gelap, menjadi penting karena mereka bisa bertaut dengan gaung Palestina di mana segalanya telah direnggutkan. Sampai hari ini, yang terdengar sebenarnya adalah sebuah gema dari geram bertahun-tahun yang terkadang kacau, terkadang keras, dan senantiasa kalah.

Senantiasa kalah-di Yerusalem, di Kabul, di Bagdad.

Tapi adakah kalah segala-galanya? Tidak, kau pasti akan bilang, semoga tidak. Dalam suratmu bertanggal 28 Februari, kau ceritakan kepada ibumu sesuatu yang menyebabkan engkau merasa lebih mantap sedikit, di antara perasaan pahitmu menyaksikan hidup yang dibangun oleh ketidakadilan. Tak semuanya ternyata hanya ngeri, tak percaya, dan kecewa. Di celah-celah luka yang merundung penghuni Palestina yang kau kenal di Rafah, kau menemukan sesuatu yang tidak pernah kau lihat dalam hidupmu sebelumnya: “…satu derajat kekuatan dan kemampuan dasar manusia untuk tetap menjadi manusia”. Dan kau punya sepatah kata untuk itu: dignity.

Tapi apa kiranya yang bisa didapat dari dignity, dari harga diri, yang menyebabkan manusia tak melata di atas debu sebelum menggadaikan segala-galanya? Tak banyak, juga sangat banyak.

Yang lemah akan tetap roboh. Tapi di depan tubuh yang tergeletak di lumpur, tubuh yang terjerembap dan menuding ketidakadilan, kemenangan sang superkuat sekalipun akan terhenti: ia hanya ibarat sebuah buldoser yang sekadar menghancurkan. Genggaman itu kosong. Penaklukan itu ilusi.

Ya, Rachel yang ada di surga, semoga namamu selalu akan kembali. Kini memang saya bimbang. Tapi masih ingin saya percaya bahwa tak mustahil akan ada sebuah ruang di mana yang lemah tak terusir, dan yang lain bisa sewaktu-waktu berteriak “Stop kau!”-dan sebab itu merdeka.

Goenawan Mohamad

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Umum

Kenapa Harus Ada Misi Maut Menembus Blokade Israel?


BAYANGAN tragedi itu masih melekat di ingatan Ferry Nur. Berada di atas kapal Mavi Marmara, kapal pengangkut bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina, dia menjadi saksi sekaligus korban dari serangan tentara Israel.

Ferry sedang shalat berjamaah ketika kapal itu mendekati perairan Israel. Dia berada di lantai dua. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di geladak, dan imam mempercepat shalat. Setelah jamaah bubar, dia berlari ke lantai tiga.

Kapal mereka rupanya dicegat tentara Israel. “Saya dengar jelas sekali mereka menurunkan tentara di dekat nakhoda,” ujar Ferry, koordinator Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa), kepada wartawan.

Selanjutnya, kegaduhan tambah menggila. Sleeping bag dan tikar berterbangan. Lalu ada letusan gas air mata serta peluru timah. Sejumlah korban jatuh, dan meninggal.

Ferry sempat melihat ke sisi kiri. Ada dua kapal perang, dan tiga kapal cepat. Dia dan rekannya yang berada di sisi kapal, lalu menyemprotkan air. Mereka mencegah tentara dari kapal perang Israel memanjat Mavi Marmara. Terdengar rentetan suara tembakan.

Dua rekannya, Oktvianto Baharudin (aktivis Kispa) tertembak di tangan dan kaki. Surya Fahrial, seorang jurnalis Suara Hidayatullah ditembak di bagian dada. “Dalam tempo satu jam, kapal berhasil diambil alih mereka,” ujar Ferry.

Tentara Israel lalu memborgol relawan. “Ada yang kepalanya ditendang, dipukuli. Mereka teriak-teriak ‘Sit down! Sit down!’”. Nahkoda diambilalih dan kapal dibelokkan ke Pelabuhan Ashdod.

Selama 12 jam, tangan mereka terborgol, bentakan bertubi-tubi, tak boleh ke toilet, dan tak ada makan dan minum. “Kami juga tidak diperbolehkan shalat, sehingga kami sholat sambil jongkok atau duduk dengan tangan terborgol,” Ferry mengisahkan.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada 31 Mei lalu. Tentara Israel menyerang para peserta konvoi “Armada Kebebasan untuk Gaza” (Freedom Flotilla to Gaza) – yaitu misi tak resmi pembawa bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina di Gaza, yang diblokade Israel selama tiga tahun.

Armada terdiri dari enam kapal. Para awaknya yang tak bersenjata itu, dicegat oleh pasukan komando, dan kapal angkatan laut Israel di perairan internasional. Mereka dilarang bergerak menuju perairan Gaza.

Aksi cegat itu berujung pada insiden berdarah. Sedikitnya sembilan aktivis tewas oleh berondongan tembakan tentara Israel. ??Dunia mengecam aksi brutal Israel itu. Masyarakat internasional menilai aksi itu sebagai pembajakan di laut netral, dan kejahatan internasional. PBB dan sejumlah negara pun menyerukan penyelidikan atas insiden Flotilla.

Tapi Israel berkilah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan para pejabatnya, menyatakan penembakan itu untuk membela diri, setelah pasukan mereka diserang begitu turun dari helikopter. Bagi Israel, pencegatan itu mereka lakukan untuk memastikan tak ada penyelundupan material yang bisa digunakan Hamas, organisasi radikal yang kini menguasai Gaza, untuk dijadikan senjata.

Seorang wartawan Israel malah menyebut selama ini Hamas menggunakan banyak bahan selundupan untuk membuat roket yang ditembakkan ke wilayah Israel. Soal kebutuhan di Gaza, seperti makanan, tak pernah diblokade. Selama ini bantuan ke Gaza harus melalui mereka, dan sudah tersalurkan. Tapi banyak yang meragukan pernyataan Israel itu, termasuk dari para pegiat yang ikut dalam armada “Freedom Flotilla to Gaza.”

Di tengah hujan kecaman terhadap Israel, berbagai upaya internasional tengah dilancarkan untuk menanggapi tragedi itu. Namun, masalah ini mungkin berbuntut panjang. Tak penyelesaian yang jelas,  konflik di Timur Tengah kian parah dan nasib penduduk Palestina di Gaza pun tidak menentu.

***

Tentu, yang menjadi pertanyaan mengapa Ferry Nur, dan para pembela Gaza dari berbagai penjuru dunia, nekad menembus blokade Israel?

Konvoi Freedom Flotilla adalah potret bangkitnya solidaritas dunia atas penderitaan rakyat Palestina di Gaza yang dizalimi Israel. Konvoi dari pelbagai bangsa, agama dan kelompok ini menunjukkan derita Palestina bukan soal agama atau politik belaka, tapi krisis kemanusiaan. Dia bukan cuma urusan orang Arab atau Palestina, tapi keprihatinan dunia.

Di Indonesia, yang terkenal garang atas sikap Israel kepada Palestina, para pegiat kemanusiaan bagi Gaza itu pernah datang berkunjung.  Suatu hari, seorang perempuan Palestina-Amerika datang berkunjung ke kantor Mer-C, lembaga kemanusiaan yang berbasis di Jakarta. Nama perempuan itu Huwaida. “Huwaida datang menewarkan kesempatan berlayar bersama ke Gaza,” ujar dr Joserizal Jurnalis, pengurus Mer-C Indonesia.

Dari situ koordinasi pun berlanjut. “Awalnya kami ingin membeli kapal, namun dana yang terkumpul dari berbagai iklan dan promosi tidak cukup,” ujar Joserizal. Karena keterbatasan dana, akhirnya mereka memutuskan menyewa kapal Mavi Marmara. Dari Indonesia, ada 12 relawan yang ikut. Latar belakang mereka beragam. Ada dokter, insinyur, jurnalis, ahli pendidikan dan lain-lain.

Misi ini, kata Joserizal, jelas misi sipil, dan bukan militer. Ada beragam bangsa dan agama yang turut bergabung. Mereka disatukan rasa kemanusiaan karena blokade Israel bertahun-tahun di Gaza membatasi pasokan makanan, listrik, obat-obatan. “Warga Palestina yang mencari ikan hanya boleh batas dua mil, lebih dari itu mereka akan ditembaki Israel,” kata Joserizal.

Di samping berupaya membuka blokade Israel dan memberi bantuan logistik, para relawan Indonesia memiliki tujuan lain. Mer-C, misalnya, ingin membuka rumah sakit.

Sementara, lembaga lain dari Indonesia, seperti Sahabat Al Aqsha pun punya tujuan tak kalah mulia. “Kami ingin beri bantuan untuk anak yatim dari sektor pendidikan. Kami pun fokus ke pembangunan sumber air, listrik biogas dan member santunan anak yatim,” kata Amirul, pengurus Sahabat Al Aqsha.

***

Kebijakan Israel atas Gaza memang menggemaskan. Tak kurang, International Crisis Group (ICG) melihat selama bertahun-tahun, dunia telah bersabar dengan kebijakan Israel yang mengucilkan  Gaza, dengan harapan bisa melemahkan Hamas.

Kebijakan itu, kata ICG, bukan cuma didukung Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lain. Bahkan Mesir, dan dibiarkan oleh negara-negara Arab lain, yang kebetulan tak sepaham dengan militansi politik Hamas. Penutupan Perlintasan Rafah sejak 2007 menjadi buktinya.

Masalahnya, pengucilan atas Gaza itu tak bisa melucuti kekuatan Hamas di sana. Sebaliknya, pengucilan berupa blokade dan penutupan perbatasan Gaza oleh Israel dan Mesir itu justru membuat rakyat setempat kian menderita.

Bahan-bahan kebutuhan pokok sulit didapat di Gaza. Aliran listrik dan air bersih padam. Pokoknya Gaza dijadikan seperti “Kota Mati” tapi masih dihuni oleh orang-orang yang setengah mati untuk bertahan hidup.

Pada titik inilah, kebijakan pengucilan itu mendatangkan bumerang , sekaligus kemarahan dunia. Maksudnya memperlemah Hamas, tapi yang jadi korban adalah anak-anak dan perempuan yang tak berdaya. Konflik politik yang kian buruk, menyebabkan krisis kemanusiaan. Karena alasan tak tahan melihat penduduk Palestina menderita, inisiatif para pegiat kemanusiaan pun muncul. Konvoi Freedom Flotilla ke Gaza salah satunya.

“Serangan atas konvoi Flotilla itu tak lain adalah suatu gejala dari suatu pendekatan yang secara tersirat dibiarkan banyak pihak,” kata Robert Malley, pengamat Timur Tengah dari International Crisis Group (ICG). “Ini cukup jelas menggambarkan perlunya suatu perubahan kebijakan atas Gaza,” kata Malley dalam penjelasannya di laman ICG.

Maka, seperti yang direkomendasikan ICG, kebijakan atas Gaza perlu ditinjau kembali secara menyeluruh. Amerika Serikat, Uni Eropa dan pihak Kuartet harus kompak menyuarakan pencabutan permanen blokade atas Gaza.

Tuntutan tidak saja disuarakan kepada Israel, namun juga kepada Mesir – yang sementara ini membuka kembali perbatasan dengan Gaza setelah insiden Flotilla.

Penyaluran kembali bantuan kemanusiaan ke Gaza patut disambut baik. Tapi tak ada jaminan kalau pengucilan itu tak akan berlaku kembali. Gaza memang harus diawasi, tapi tak perlu sampai memblokade jalur perdagangan ke dan dari Gaza.

Bila Israel dan Palestina masih belum saling percaya, maka perlu dilibatkan pasukan internasional untuk memastikan keamanan di Gaza.  Tapi, konflik sepertinya belum akan selesai. Israel bisa jadi hanya mengulang langkah matinya terhadap Gaza.

Sementara armada bantuan kemanusiaan, para relawan yang bertaruh nyawa demi Gaza, akan terus mengalir. Seperti disebut aktivis Mer-C, dr. Joserizal: “Kita tidak akan mundur, dan akan menunjukkan Israel adalah musuh dunia dan musuh kemanusiaan”.

Yahoo!

Tinggalkan komentar

Filed under Umum