Category Archives: Pariwisata

Kelok Sembilan : Mega Proyek yang (Mungkin) Akan Menjadi Objek Wisata Baru, Berapa Biayanya?


Mandaki jalan ka Payokumbuah

Baranti tantang kelok sambilan

Ondeh, baranti tantang kelok sambilan

Dimalah hati indah karusuah

Sadang basayang adiak bajalan

Ondeh, sadang basayang adiak bajalan….

Itulah lirik lagu dari tape bus umum yang kami (aku dan putra sulungku) tumpangi dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Riau pada tanggal 13 Mei yang lalu. Kami berangkat dari Bukittinggi selepas maghrib, karena sebelumnya baru sekitar jam 15.00 WIB sore dari Lubuk Sikaping, Pasaman.

Perjalanan yang diguyur hujan pada malam hari itu seolah tak memberikan kesan apa-apa, karena memang tak ada yang bisa dilihat dalam kegelapan, kecuali sibuknya keadaan lalu lintas di bawah penerangan cahaya lampu mobil yang melewati jalan. Keadaan yang telah memaksa kami untuk tertidur.

Sekitar pukul 22.00 WIB malam itu, aku tersentak dari tidur sesaat. Mobil telah berhenti, para penumpang sudah pada terbangun, ternyata kami telah sampai di ruas dengan medan terberat sekaligus paling menarik antara Padang – Pekanbaru, yakni Kelok Sembilan. Dengan sebuah rutinitas yang tak dapat dielakkan, macet!

Kelok Sembilan adalah ruas jalan sempit (bottleneck) menuju Riau di dekat Lubuk Bangku, Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat. Selain sempit, juga berliku-liku tajam.

Bangsa kolonial Belanda pasti tidak akan menduga bahwa hasil karyanya berupa “Kelok Sembilan” yang berada di ruas jalan yang menghubungkan Riau – Sumatera Barat  itu keberadaannya masih sangat berarti hingga sekarang. Setiap kendaraan yang menempuh rute Pekanbaru – Padang, pasti akan melewati Kelok Sembilan. Jalur ini merupakan yang paling dekat untuk menghubungkan kedua kota yang berjarak lebih kurang 350 km ini. Sedangkan Kelok Sembilan sendiri berada pada jarak 180 km dari arah Pekanbaru, yang letaknya di celah-celah pebukitan.

Bagi masyarakat Riau dan Sumatera Barat, nama ruas jalan Kelok Sembilan itu tidak asing lagi. Ruas jalan itu dinamakan Kelok Sembilan, karena memiliki belokan (bahasa Minang : kelok = belok) ke kiri dan ke kanan sebanyak sembilan belokan. Kalau dilihat dari atas, belokannya merupakan zig zag.

Ruas jalan itu sendiri dari dulu hingga sekarang cukup ditakuti para sopir yang menggunakan jalur tersebut, karena dinilai sangat berbahaya. Dengan lebar jalan lebih kurang enam meter dan punya kemiringan yang cukup tajam, jelas jalan ini bisa menimbulkan bahaya bagi kendaraan yang melewatinya. Jika sopir tidak ekstra hati-hati, kendaraan bisa masuk jurang dan terjatuh ke belokan berikutnya yang kedalamannya mencapai 40 meter, yang akan langsung hancur, karena terjun bebas dan terhempas di atas jalan beraspal.

Makanya setiap kendaraan tidak bisa melaju begitu saja di ruas jalan ini, tapi harus pelan-pelan dan sangat waspada, terutama setiap berada di belokan yang menanjak tajam. Begitu pula saat berpapasan dengan kendaraan lain, kendaraan yang datang dari atas harus berhenti untuk memberikan kesempatan kendaraan yang menanjak melewatinya.

Berhawa Sejuk

Namun dibalik kerawanan itu, Kelok Sembilan menyimpan pesona tersendiri. Letaknya yang di celah-celah bukit dengan hutan belantara membuat suasana di sekitarnya menjadi sangat asri dan terasa sejuk.

Soalnya sinar matahari hanya bisa menembus tempat tersebut mulai dari sekitar pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB. Sebelum itu, tempat tersebut selalu sejuk. Apalagi jika malam hari di musim hujan sebagaimana yang kami rasakan. Letaknya yang berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut membuat udaranya terasa dingin. Jika pada malam hari suhu udara disini bisa mencapai 17 derajat celcius. Sebuah suhu yang tergolong sangat dingin bagi bangsa yang tinggal di daerah tropis.

Jika di siang hari, liuk-liuk yang dimiliki Kelok Sembilan membuat tempat ini sangat menarik untuk dinikmati. Menikmati pemandangan di sekitar Kelok Sembilan ini bisa dilakukan dari ruas jalan paling atas. Di belokan paling atas ini terdapat pinggang jalan yang luas cukup. Disitu kita bisa berdiri untuk melihat bentuk Kelok Sembilan secara utuh.

Dari atas itu, bisa dilihat jelas puluhan kendaraan berjalan meliuk-liuk hilir mudik di ruas jalan mengikuti kelokan dari jalan tersebut. Dari situ juga bisa menikmati hutan yang belum terjamah yang tumbuh di lereng-lereng bukit yang mengapit Kelok Sembilan. Disamping itu juga bisa dilihat ujung belokan yang terletak sekitar 100 meter di bawah.

Setidaknya sejak tiga abad silam, perdagangan dari pedalaman Minangkabau ke Sumatera Timur telah melalui jalur ini. Kelok Sembilan ini dibangun oleh Belanda tahun 1932, bayangkan saja, pada tahun 1932, Belanda telah mampu menaklukkan garangnya alam Sumatera Barat untuk sarana jalan. Padahal pada zaman itu belum ada eskapator atau peralatan berat lainnya untuk mengerjakannya. Semuanya masih mempergunakan peralatan sederhana dengan teknologi pas-pasan. Tentu saja pembukaan Kelok Sembilan merupakan sebuah pembangunan jalan yang banyak memakan korban. Kelok sembilan sama beratnya dengan Kelok 44 di Maninjau, kelok di pendakian Sitinjau Laut antara Padang dengan Solok serta pendakian di Silaiang Kariang, Padangpanjang. Sumatera Barat memang kaya dengan jalan berkelok-kelok.

Jalan Layang

Saat ini rute Pekanbaru-Padang yang melewati ruas jalan Kelok Sembilan itu menjadi satu-satunya pilihan bagi setiap kendaraan yang menempuh rute tersebut. Makanya tidak heran setiap harinya tidak kurang 6.800 unit kendaraan melewatinya. Bahkan pada hari libur jumlahnya bisa menjadi dua kali lipat atau sekitar 11.350 per hari.

Masih sempitnya ruas jalan itu, tidak heran pada saat-saat tertentu terjadi kemacetan. Seperti yang kualami pada malam hari Kamis, tanggal 13 Mei itu. Tak jarang setiap musim mudik lebaran pasti akan terjadi kemacetan lalu lintas di sekitar ruas jalan Kelok Sembilan. Setiap terjadi kemacetan, kendaraan bisa tertahan berjam-jam lamanya.

Karena posisi Kelok Sembilan yang berfungsi sebagai faktor penentu mulusnya hubungan lalulintas darat Padang-Pekanbaru, maka Pemerintah Sumatera Barat memandang perlu untuk membuat sebuah jembatan layang di situ, yang dimaksudkan untuk mengatasi masalah kemacetan. Sehingga sejak beberapa tahun yang lalu, telah dilakukan studi kelayakan pembangunan jalan layang Kelok Sembilan, dengan perkiraan dana sekitar  Rp 2,2 miliar

Pembangunan jalan nasional kelok sembilan yang menghubungkan antara Padang – Pekanbaru ini dalam pengerjaannya baru rampung sekitar 60 persen dan masih membutuhkan dana sekitar Rp126,244 miliar lagi. Total dana yang dibutuhkan untuk proyek itu saat ini adalah Rp256 miliar, setelah terjadi kenaikan harga bahan-bahan bangunan akhir-akhir ini.

Jalan Layang Kelok Sembilan dalam pembangunannya terdiri dari enam jembatan dengan panjang jembatan secara keseluruhan 711 meter. Sedangkan jalan penghubung panjangnya mencapai 1.350 meter, jembatan layang yang dirancang itu keloknya juga sembilan. Mega proyek yang dalam rencananya diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2011 (namun ternyata belum!)  akan sangat bermanfaat untuk peningkatan ekonomi masyarakat Sumatera Barat.

Keberadaan jalan layang ini nantinya akan memperlancar arus di sekitar itu. Jalan layang yang merupakan buhul liat Padang-Pekanbaru yang mulai diurai itu bakal bisa dilewati dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Jadi kendaraan tidak perlu lagi beringsut-ingsut di ruas jalan Kelok Sembilan yang sempit tersebut.

Jalan layang kelok sembilan adalah impian. Impian berjuta-juta orang di Sumbar dan Riau. Dan impian itu kini akan terujud. Kini, jika kita melakukan perjalanan dari Padang menuju Pekanbaru atau sebaliknya, sejumlah kesibukan pekerja akan terlihat di beberapa tempat, terutama di Kelok Sembilan.

Perencanaan dan pembangunan Kelok Sembilan merupakan hasil karya para insiyur anak bangsa. Pembangunan ini merupakan pembangunan infrastuktur dengan mempergunakan biaya yang luar biasa.

Kelak, di tengah rimba belantara Padang – Pekanbaru akan membentang jembatan layang nan rancak, di bawahnya tetap terlihat jalan Kelok Sembilan tua membentang, seperti mengukir sejarah kedua daerah, Riau – Sumatera Barat.


Artinya,  setelah dibangun jalan layang, fungsi Kelok Sembilan tidak akan dihilangkan. Ruas jalan Kelok Sembilan tetap dihidupkan, terutama bagi para wisatawan. Sebab bagaimanapun historis dan keelokkan Kelok Sembilan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Makanya kekhawatiran sebagian orang bahwa Kelok Sembilan akan tinggal nama dan menjadi kenangan, tidak akan terjadi. Malahan dengan adanya jalan layang tersebut, kelestarian Kelok Sembilan akan bisa terus terjaga. Sebab nantinya Kelok Sembilan tidak lagi terlalu berat menerima beban yang makin meningkat akibat semakin padatnya arus lalu lintas disana.

Disarikan dari berbagai sumber

Gambar dan media lain yang digunakan mungkin memiliki hak cipta dan belum mendapat izin dari pemiliknya


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Iklan

22 Komentar

Filed under Pariwisata

Kelok 44


Jika manusia mau sedikit saja belajar dari hikmah alam yang diberikan kepadanya, maka hidup ini barangkali akan lebih nyaman dilakoni. “Alam takambang jadi guru”, pepatah Minang memberi petunjuk kearifan hidup.

Artinya, alam terkembang menjadi guru. Dari alam kita dapat belajar banyak hal, bukan saja untuk hidup dalam satu ekosistem yang menyejahterakan, tetapi alam juga memberi kearifan dan kecerdasan yang luar biasa unggul. Pergi ke ranah Minang atau daerah-daerah pedalaman lain yang alamnya relatif masih belum terdera habis-habisan oleh ulah buruk manusia-apabila kita jeli mengamati-akan kita dapati begitu banyak hal yang menuntun kita kepada kecerdasan hidup yang mengagumkan.

Pekan lalu Uda Jufrie, sahabatku dari ranah Minang, mengajakku memanjati punggung Bukit Barisan melalui “jalan menunju ke langit” Kelok Ampek-ampek yang menanjak terjal-meliuk tajam dari lembah Danau Maninjau sampai ke koto (artinya dataran) atap langit Puncak Lawang di wilayah Agam-kurang lebih 25 kilometer arah barat daya Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Elok nan menakjubkan tiada dua wilayah itu. Keelokan Danau Maninjau tak kalah dari keindahan danau-danau di Luzern, Zurich, atau Geneva (Swiss) yang terkenal di seluruh dunia.

Dari arah Padang, Kelok Ampek-ampek berada di ujung lingkaran Danau Maninjau, memanjat-meliuk tajam ke kiri ke kanan menapak langit Bukit Barisan. Sebaliknya, dari arah Bukittinggi, Kelok Ampek-ampek akan meliuk terjal menuruni punggung Bukit Barisan menuju lembah Danau Maninjau yang hijau makmur bagai lembah surgawi.

Dari lembah Maninjau, jalan tembus menjulang langit yang berkelok-kelok itu disebut Kelok Ampek-ampek karena berkelok-kelok naik menikung tajam sebanyak 44 kali. Sebenarnya ada lebih dari 44 tikungan tajam di sepanjang jalan tembus langit itu, tetapi beberapa kelok tak dihitung menjadi bagian dari Kelok 44, karena tak menanjak cukup tajam seperti ke-44 kelok yang sebenarnya.

Seluruh tikungan tajam yang berada di Kelok Ampek-ampek itu bersambung terus-menerus tanpa jeda sepanjang kurang lebih 10 kilometer. Dengan lebar jalan sekitar 3 sampai 3,5 meter tanpa median atau pagar pembatas di kiri-kanan tebing curam, jalan bikinan pemerintah kolonial Belanda itu menjadi jalan tembus Maninjau-Puncak Lawang-Bukittinggi.

Di Puncak Lawang itulah konon terjadi pertemuan bersejarah antara Tuanku Imam Bonjol dan mantan Panglima Perang Pangeran Diponegoro-Pangeran Alibasyah Sentot Prawirodirjo-untuk melanjutkan perlawanan bersama menentang pemerintah kolonial Belanda.

Etika Kelok Ampek-ampek

Karena ketajaman tikungan yang terjal berkelok-kelok naik terus-menerus tanpa henti, tak semua kendaraan pribadi maupun umum berani melewati jalan tembus langit itu. Apalagi di petang dan malam hari. Di samping kabut atau hujan akan menghadang kekelaman bukit, di kiri-kanan jalan sempit bertebing curam yang ditumbuhi pohon-pohon lebat yang tinggi-tinggi itu akan juga siap menjadi terminal akhir bagi para pengemudi kendaraan bermesin yang sembrono untuk berani melewati punggung Bukit Barisan tanpa kewaspadaan tinggi dengan kualifikasi teknik sopir kelas satu.

Telah sering terjadi kecelakaan fatal di daerah Kelok 44, semata-mata karena medan yang tak gampang dan kekhilafan sopir kendaraan. Kondisi mesin, ban, rem, kopling, persneling, lampu kendaraan, pembersih kaca depan-belakang- yang tak prima-menjadi penyebab utama kecelakaan yang berujung maut. Di samping keterampilan teknik dan pengalaman mengendara, diperlukan kesigapan reaksi mental dan kebugaran kondisi tubuh yang baik untuk menembus Kelok Ampek-ampek yang menakjubkan sekaligus menakutkan.

Sedikit saja meleng, tidak waspada, atau melanggar “aturan”, maut akan siap menerima tamu Kelok 44 yang sembrono di jalan tembus langit itu. Maka bagi para pengendara di kelok maut yang menegangkan itu berlaku kesepakatan sopan santun dan aturan jalanan tak tertulis yang mutlak harus dipatuhi bersama.

Kiat aturan jalanan Kelok Ampek-ampek itu sederhana saja acuannya. Jika dua kendaraan atau lebih berpapasan, maka “aturannya” adalah karena yang datang dari bawah tak sepenuhnya bisa melihat yang datang dari atas, maka (kendaraan) yang datang dari bawah harus memberi kode kehadiran dengan membunyikan klakson berulang-ulang; sementara (kendaraan) yang datang dari atas harus stop (mutlak berhenti!) untuk memberi jalan (ruang bergerak) bagi (kendaraan) yang datang dari bawah. Jika kesepakatan dan aturan tak tertulis itu dilanggar, maka chaos akan segera terjadi, dan tebing maut adalah dendanya.

Itulah egalitarianisme mupakek (mufakat) ala Minang sebagai reaksi yang tumbuh karena kondisi alam yang harus dipahami. Kata-kata “kendaraan”, “mutlak berhenti!”, dan “ruang bergerak” sengaja ditulis dalam tanda kurung karena kita dapat belajar bahwa hikmah “aturan” tak tertulis Kelok Ampek-ampek itu sesungguhnya secara politik, sosial, dan budaya, etosnya dapat diterapkan secara umum. Yaitu bahwa “yang di atas harus memberi jalan bagi yang di bawah”. Jabarannya jelas. Yang kuat harus melindungi yang lemah, yang kaya memberi yang miskin, yang kuasa mengayomi yang tak berdaya.

Saya menamai hikmah alam Bukit Barisan itu sebagai Etika Kelok Ampek-ampek, yang implikasi spiritnya menyangkut human solidarity, sistem egalitarian dan demokrasi yang saling menghormati. Dapatkah masyarakat dan pemerintahan yang dicita-citakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil hikmah Etika Kelok Ampek-ampek? Bila tak, alam Maninjau juga dapat memberi cermin kebatilan sebagai bias hidup yang tak baik untuk dianut.

Sumber : Forum Indonesiana

Foto : Bukan oleh Andukot


3 Komentar

Filed under Pariwisata

Lembah Harau dan Legendanya


Harau Valley, West Sumatera

Lembah Harau adalah objek wisata alam andalan di Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Lembah Harau suatu lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Berada ± 138 Km dari Padang ± dan 47 Km dari Bukittinggi dan sekitar ± 18 Km dari Kota Payakumbuh dan ±2 Km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. Dilingkungi batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter.

Sejak lama lembah Harau banyak dikunjungi wisatawan terutama pengunjung domestik dari daerah Riau, Sumut dan Jambi. Topografi Cagar Alam Harau adalah berbukit-bukit dan bergelombang. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang.

Memasuki lembah harau, mata akan dimanjakan suasana alam pengunungan yang luar biasa apalagi dengan pemandangan 5 buah air terjun ( sarasah ) yang sangat besar dengan ketinggian ± 100 meter yang. Luar biasa indah seperti cerita di dalam sorga yang dilalui oleh empat buah sungai yang jernih.
Lembah Harau sangat terkenal, dan dipercaya oleh penduduk setempat apabila turun pelangi maka para bidadari turun dari kayangan untuk mandi-mandi di keempat sarah tersebut ( sarah aie luluih, sarasah bunta, sarasah murai dan sarasah aka barayun ). Bahkan pada tahun 2008 lalu, kabarnya , kamera HP milik seorang mahasiswa yang sedang berwisata ke lembah Harau pernah menangkap gambar rombongan bidadari mandi berbaju putih dan coklat, melayang di air terjun. Saat ini foto tersebut tersimpan pada kamera HP para pedagang disekitar air terjun sarasah bunta.

Asal Usul Nama Harau
Pada awalnya nama Harau berasal dari kata “Orau”. Penduduk asal tinggal di atas Bukit Jambu, dikarenakan daerah tempat tinggal penduduk tersebut sering banjir dan Bukit Jambu juga sering runtuh yang menimbulkan kegaduhan dan kepanikan penduduk setempat sehingga penduduk sering berteriak histeris akibat runtuhnya Bukit Jambu tersebut dan menimbulkan suara “parau” bagi penduduk yang sering berteriak histeris tersebut. Dengan ciri-ciri suara penduduk yang banyak “parau” didengar oleh masyarakat sekitarnya maka daerah tersebut dinamakan “orau” dan kemudian berubah nama menjadi Arau, sampai akhirnya menjadi Harau.

Prasasti Lembah Harau
Menurut prasati yang masih terdapat di sekitar air terjun Sarasah Bunta, areal ini mulai dibuka tanggal 14 Agustus 1926 oleh Assisten Residen Lima Puluh Kota yang bernama J.H.G Boissevain, dengan E. Rinner bernama B.O.Werken bersama Tuanku Lareh Sarilamak yang bernama Rasyad Dt. Kuniang nan Hitam dan assisten Demang yang bernama Janaid Dt. Kodo Nan Hitam.

Untuk pertama kalinya Assisten Residen terpesona, kaget dan terkesima sembari berdecak kagum untuk melantunkan rasa kagum dan tiada taranya melihat keadaan alam Lembah “orau” sambil berdecak “Hemel,hemel…….(Indah, mempesona seperti sorga) dalam bahasa Belanda.

Dengan terkesimanya Assisten Residen tersebut terhadap keindahan lembah sempit yang diapit oleh terjalnya bukit batu di kiri kanannya maka dibuatlah prasasti dari batu marmar yang dipahatkan pada salah satu dinding sarasahnya yakni “Sarasah Bunta” pada tanggal 14 Agustus 1926, sehingga sejak waktu tersebut terkenallaah lembah sempit tersebut sampai ke Negara Belanda dengan nama “Hemel Arau” (Sorga Arau) dan kemudian disingkat dengan Harau.

Kemudian diterbitkan Besluitnya oleh Pemerintah Belanda (waktu itu) pada tanggal 19 Januari 1933 Nomor 15 Stbl Nomor 24 dengan status Cagar Alam di Bidang Biologis dan Aesthestis seluas 315 Ha ,kemudian dilakukan pengukuran ulang oleh Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) pada tahun 1979 dengan luas defenitif dilapangan adalah 298 Ha,) . Selanjutnya status Cagar Alam sebagian arealnya diubah menjadi Hutan Wisata yang diperuntukkan bagi taman wisata alam dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor : 478 / Kpts /Um / 8 / 1979, tanggal 2 Agustus 1979 ,tentang perubahan statusnya menjadi taman wisata seluas 27,5 Ha.

Dengan demikian status Lembah Harau selain cagar alam juga sebagian berstatus taman wisata. Berbagai sarana pertamanan, kupel, tempat duduk, jalan setapak, tempat bermain anak-anak, taman satwa, sepeda air, Mushalla, WC dan lapangan parkir serta dilengkapi dengan kios-kios souvenir, dan makanan/minuman dan sebagainya yang telah dibangun di objek wisata ini bagi kemudahan dan kenikmatan pengunjung.

Berbagai jenis tanaman dan binatang ada di sini. Monyet ekor panjang (Macaca fascirulatis) bisa dilihat di sini. Ada pula siamang (Hylobatessyndactylus), dan simpai (Presbytis melalopos).Hewan yang juag dilindungi di sini adalah harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), beruang (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus indicus), kambing hutan (Capriconis sumatrensis), dan landak (Proechidna bruijnii). Ada 19 spesies burung yang juga dilindungi. Di antaranya, burung kuau (Argusianus argus) dan enggang (Anthrococeros sp).

Potensi Lembah Harau

Saiful juga menjelaskan , pada kawasan Objek wisata Lembah Harau ini terdiri dari 3 (tiga) kawasan : Resort Aka Barayu, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo Piobang . Pada resort Aka Barayun yang memiliki keindahan air terjun yang mempunyai kolam renang, yang memberikan nuansa alam yang asri juga berpotensi untuk pengembangan olah raga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang terjal dan juga mempunyai lokasi yang bias memantulkan suara (echo). Disini juga terdapat fasiltas penginapan berupa homestay yang bisa dimanfaatkan wisatawan yang ingin menginap lengkap dengan fasilitasnya. Konon Sarasah Aka Barayun dari legenda dalam masyarakat yang berada di sekitarnya Cagar Alam Lembah Harau dulunya adalah Laut.

Diceritakan batu-batuan yang terdapat di sini adalah sejenis batu yang biasanya terdapat di dasar laut. Diantaranya dua dinding batu yang terjal, tergantung pada sebuah akar yang pada saat pasang naik terbenam dan waktu pasang surut Nampak di atas air tergantung dan berayun-ayun ditiup angin.
Resort Sarasah Bunta terletak disebelah timur Aka Barayun, memeliki 4( empat) air terjun (sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan sarasah Aie Angek ) dengan telaga dan pemandangan yang indah seperti ; Sarasah Aie Luluih, dimana pada sarasah ini air yang mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri, dari cerita dari orang tua-tua dulu, ada kepercayaan mandi atau membasuh muka di sarasah aie luluih dapat mengobati jerawat dan muka akan terlihat cantik dan awet muda. Sarasah Bunta dimana sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi apabila terpancar sinar matahari siang sehingga dinamakan “Sarasah Bunta” . Sarasah Murai , pada sarasah ini sering pada siangnya burung murai mandi sambil memadu kasih sehingga masyarakat menamakan “Sarasah Murai “.dan apabila mandi di bawah air terjun kedua sarasah ini, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa , lekas mendapat jodoh bagi yang belum menikah.

Pada Sarasah Aie Angek belum banyak dikunjungi wisatawan, airnya agak panas berada arah keutara dari “Sarasah Murai”.Pada Resort Rimbo Piobang sampai akhir tahun 2008 belum berkembang karena direncanakan untuk Taman Safari.

Legenda Puti Sari Banilai
Alkisah, waktu dulu berlayarlah seorang Raja Hindustan bernama Maulana Kari dengan permaisurinya Sari Banun untuk merayakan pertunangan anaknya bernama Sari Banilai dengan Bujang Juaro. Puti Sari Banilai ikut bersama orang tuannya. Sebelum berlayar, kedua anak muda tersebut telah bersumpah, kalau Sari banilai mengingkari janji pertunangan tersebut, ia akan menjadi batu dan sebaliknya kalau Bujang Juaro yang ingkar, ia akan menjadi ular naga.

Tanpa sadar kapal mereka terbawa arus dan hanyut terjepit di Lembah Harau di antara dua bukit batu terjal serta ditahan akar kayu yang melintang di antara kedua bukit tersebut. Agar kapal tidak hanyut, sang raja menambatkannya pada sebuah batu yang terdapat di sana. Batu tersebut sampai sekarang masih bernama Batu Tambatan Kapal/perahu.
Dengan persetujuan Rajo Darah Putiah yang berkuasa pada waktu itu di Lembah Harau maka Raja Maulana Kari beserta keluarganya diizinkan untuk tinggal menetap.

Karena sudah tidak mungkin lagi kembali ke negerinnya mereka putuskan untuk menetap di sana. Raja Maulana Kari tidak mengetahui sumpah putrinya, mengawinkan Puti Sari Banilai dengan seorang pemuda di daerah tersebut yang bernama “Rambun Pade”. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki yang gagah. Raja Maulana Kari dan istrinya sangat saying pada cucunya ini sehingga apapun permintaannya dipenuhi.

Tersebutlah suatu ketika sang raja membuatkan mainan untuk cucunya ini sehingga ia setiap hari asyik dengan mainannya itu. Pada suatu hari mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Sang cucu memanggil ibunya untuk mengambilkan mainan tersebut. Lalu si ibu melompat ke dalam laut untuk mengambilkannya, namun mainan itu hanyut tidak di temukan lagi. Pada saat itu datanglah ombak yang mendorong Sari Banilai sampai ke tepi dan terjepit di antara dua buah batu. Pada saat itu Puti Sari Banilai memohon agar air laut itu surut dan kering.

Lambat laun dari kaki Puti Sari Banilai mulai menjadi batu. Saat itulah teringat akan sumpahnya dan sebelum keseluruhan badannya menjadi batu, ia memohon kepada tuhan agar perlengkapan rumah tangganya dibawakan dan diletakkan di dekat ia terjepit.

Di lembah Harau pada dinding terjal di sebelah kiri (dekat echo) sayup-sayup Nampak sebuah batu seakan-akan berbentuk seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, hamparan tikar dan sebuah batu yang berbentuk lumbung padi.
Demikianlah legenda Lemba Harau. Legenda ini masih hidup dalam masyarakat, dalam cerita randai yang bernama “Randai sari Banilai” salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat di sana.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lima Puluh Kota


Tinggalkan komentar

Filed under Pariwisata