Category Archives: Sains

Warga Amerika Menemukan Eropa 500 Tahun Sebelum Columbus


Christopher Columbus, penjelajah warga Italia penemu benua Amerika bukanlah orang pertama yang menemukan dunia baru. Sebab ada seorang warga Amerika yang sudah menjelajah ke Eropa lima abad sebelum Columbus itu.

Kesimpulan itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan dari Universitas Spanyol. Hasil temuan itu dilansir sejumlah media massa di Eropa dan Amerika.

Para ahli itu menegaskan bahwa penjelajahan dunia pertama yang diklaim oleh Columbus dari Eropa ke arah Timur, dan berhasil menemukan benua Amerika. Tapi itu bukan temuan pertama sebab penjelajahan lain dari arah sebaliknya — dari Amerika ke Eropa -jauh sebelum Columbus menemukan Amerika.

Para peneliti itu menelusuri jejak genetik asli sebuah keluarga di Islandia. Peneliti percaya bahwa warga Amerika pertama tiba di Eropa sekitar abad ke sepuluh. Sekitar lima ratus tahun sebelum Columbus melakukan penjelajahan dan menemukan benua Amerika pada 1492. Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sains

Untuk Hindari Bencana, Manusia Akan Menjajah Mars


Pergi ke Mars jadi impian manusia, terutama mereka para ahli yang suka menjelajah angkasa. Apalagi planet merah itu adalah planet yang mendekati kondisi bumi, adan sudah diincar jadi koloni manusia jika suatu saat Bumi makin rusak dan tak layak huni lagi.

Mewujudkan impian itu memang bukan pekerjaan mudah. Selain soal teknologi yang belum memadai,  misi ini juga terkendala soal dana.

Untuk meminimalisasi biaya yang dikeluarkan, sejumlah ilmuwan menyarankan agar perjalanan ke Mars dilakukan sekali jalan. Artinya, begitu pergi ke sana, jangan kembali lagi ke bumi. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Sains

Ternyata Bulan Telah Menyusut Sekitar 100 Meter


Bulan mungkin sedang menyusut. Tetapi, tidak perlu khawatir, sebab rembulan tidak akan lenyap dalam waktu dekat.

Penelitian baru menunjukkan adanya keretakan di kerak bulan yang telah terbentuk menjadi interior telah berubah menjadi dingin dan menyusut selama satu miliar tahun terakhir. Itu berarti permukaan bulan juga telah menyusut. Namun Anda tidak dapat menilai hanya dari sekadar memandangnya saja.

Para ilmuwan telah mengidentifikasi 14 bentuk lahan yang disebut scarps lobate yang tersebar di permukaan bulan. Hal tersebut dijelaskan Thomas R Watters dari Pusat Studi Bumi dan Planet di Smithsonian National Air dan Space Museum.

Watters and rekan-rekannya itu menggambarkan hasil temuannya itu di jurnal Sains, edisi Jumat.

Lereng curam sebelumnya telah dicatat di khatulistiwa bulan, tapi ini adalah bukti pertama di daerah lain yang menunjukkan hasil dari proses global.

Studi ini menyebut lereng curam itu sebagai “bukti terbaru adanya daya dorong yang menjadi kesalahan di bulan.” Akan tetapi ini adalah ilmu planet, di mana “baru” dapat memaknai peristiwa satu miliar tahun yang lalu.

Watters yang dihubungi melalui telepon menjelaskan bahwa lereng curam atau tebing, membentang di beberapa kawah kecil, dan kawah kecil itu cenderung menghilang dari waktu ke waktu. Selain itu, lanjut Watters, tidak adanya kawah besar yang membebani di atas tebing merupakan indikasi lain yang mereka temukan yang relatif baru dalam istilah planet.

“Ini adalah salah satu bagian yang betul-betul dingin … kesalahan kelihatannya memang begitu muda, ini berarti bahwa Anda tidak dapat menghindari kemungkinan kontraksi yang terjadi baru-baru ini, dan bisa menunjukkan bahwa bulan tersebut masih aktif,” kata Watters.

Ukuran lereng curam itu menunjukkan penyusutan dalam ukuran bulan sekitar 100 meter (328 kaki), yang hampir tidak cukup untuk dilihat dengan mata telanjang. Ukuran bulan sekitar seperempat dari diameter ukuran bumi.

Jangkauan lereng curam mencapai hingga 10 meter (sedikit lebih dari 30 kaki), tinggi dan panjangnya mencapai beberapa kilometer. Sebagai perbandingan, planet Merkurius memiliki lereng curam jauh lebih besar, menunjukkan penyusutannya juga lebih cepat dari waktu ke waktu.

Dia menegaskan bahwa bulan tidak akan menghilang dan penyusutannya tidak akan mempengaruhi bumi dengan cara apapun.

Tinggalkan komentar

Filed under Sains

Manusia Akan Punah


Stephen Hawking kembali membuat geger dengan pernyataannya. Astrofisikawan ternama ini mengkhawatirkan manusia sedang menghadapi bahaya besar dan harus mencari kehidupan di luar angkasa di masa depan jika ingin bertahan hidup.

Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa ancaman terhadap keberadaan umat manusia seperti perang, sumber daya alam yang menipis dan populasi yang meledak adalah risiko besar. “Cukup sulit untuk menghindari bencana dalam seratus tahun ke depan, apalagi seribu atau sejuta tahun ke depan,” katanya kepada situs web Think Big. “Satu-satunya kesempatan untuk hidup dalam jangka panjang adalah jangan hanya menetap di planet bumi saja, tetapi menyebar ke ruang angkasa.“

Itulah sebabnya, Profesor Hawking mendukung misi penerbangan ruang angkasa. Meski awal tahun ini, dia katakan bahwa eksplorasi ruang angkasa mungkin tidak sepenuhnya tanpa risiko. Dalam seri Discovery Channel, dia mengatakan bahwa, manusia harus berhati-hati melakukan kontak dengan bentuk-bentuk kehidupan asing karena mereka bisa jadi tidak ramah.

Namun, dia melanjutkan, selama manusia tetap hidup berkutat di galaksinya sendiri dan menghindari saling menghancurkan diri sendiri akan aman. “Saya melihat bahaya besar bagi umat manusia,” kata Hawking.

Menerjemahkan pernyataan Hawking ini, Katherine Freese, seorang astrofisikawan Universitas Michigan, mengatakan Big Think –bintang terdekat dengan Bumi– jaraknya adalah Proxima Centauri atau 4,2 tahun cahaya.

Itu berarti bahwa, jika ingin bepergian dengan kecepatan cahaya sepanjang waktu, perlu 4,2 tahun untuk sampai ke sana atau sekitar 50.000 tahun dengan menggunakan ilmu roket saat ini.

Dicopas dari TEMPO Interaktif

Tinggalkan komentar

Filed under Sains