Category Archives: Lingkungan

Di Kotaku Pelaksanaan Earth Hour Paling Sukses Seluruh Dunia


Apa sih istimewanya Earth Hour (60+) 2011 di Indonesia? Atau lebih tepatnya di Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat, salah satu bagian dari wilayah Republik Indonesia dimana aku secara langsung berpartisipasi? Atau seharusnya dengan bangga bisa kukatakan bahwa di tempatku berdomisili itulah peringatan Earth Hour 2011 paling sukses dilaksanakan di seluruh dunia. Sehingga aku baru bisa menulisnya lebih dari 24 jam setelah waktu pelaksanaannya.

Pertanyaan dan pernyataan itu berangkat dari sebuah pengalaman yang baru saja menimpaku. Sebuah peristiwa yang sedikit banyaknya punya kaitan dengan hari istimewa yang baru saja berlalu : Earth Hour. Baca lebih lanjut

Iklan

1 Komentar

Filed under Lingkungan, Umum

Presiden Menyetujui Pemindahan Ibu Kota Negara Dengan Alasan Strategis


Pakar Pemukiman Institut Teknologi Bandung, Muhammad Jehansyah Siregar, belum mendengar ITB telah melakukan kajian terhadap pemindahan Ibukota Jakarta. Memindahkan Ibukota diperlukan visi yang kuat untuk membangun Indonesia baru serta regulasi yang kuat setingkat Undang-Undang.

“Belum pernah saya mendengar ITB telah membuat kajian tentang pemindahan Ibukota seperti yang telah disampaikan Hatta Rajasa beberapa waktu lalu,” ujar M Jehansyah Siregar di Bandung, Rabu, 4 Agustus 2010.

Membicarakan pemindahan Ibukota, menurut Jehansyah, Indonesia dapat belajar dari berbagai negara yang terlebih dahulu telah memindahkan Ibukota seperti Malaysia dengan Putrajaya. Membangun sebuah Ibukota baru diperlukan waktu yang panjang, seperti membangun Putrajaya yang telah dimulai sejak akhir 1980.

Indonesia perlu meniru model regulasi yang diterapkan oleh Malaysia untuk membangun Putrajaya. Jika regulasi setingkat Undang-undang di Indonesia telah siap maka secara simultan langsung dibuat badan yang berkompeten untuk membangun Ibukota baru guna menghindari berbagai konflik dan spekulan.

“Jika sudah ada ketetapan politik maka besoknya harus langsung SK Presiden keluar dan ditetapkan badan yang mengatur pemindahan Ibukota, dalam UU harus sudah ditetapkan kota yang menjadi Ibukota baru. terus bergerak simultan untuk menghindari semua spekulan,” ujar salah satu anggota Tim Visi Indonesia 2033.

Tidak perlu membuka lahan baru untuk membangun Ibukota baru, melainkan cukup dengan melanjutkan pembangunan kota yang telah ada. Berdasarkan berbagai kajian yang telah ada, Kalimantan pulau yang telah siap secara infrastruktur dan secara geografis Kalimantan jauh dari pusat gempa dan gunung berapi.

Semua eksekutif dan legislatif harus pindah ke Ibukota yang baru, namun BUMN biarkan tetap di kota-kota pusat bisnis. Menurutnya hal ini diperlukan untuk mencegah tindak praktik korupsi yang ada di pemerintahan karena pemerintahan masih dikontrol oleh Presiden.

Pria bergelar doktor di bidang pemukiman dari Universitas Tokyo, Jepang ini menjelaskan untuk memindahkan ibukota memerlukan visi besar untuk membuat Indonesia baru dan menyingkirkan pandangan pesimis. Ia meminta agar pemerintah segera membuat kajian yang menyeluruh tentang pemindahan Ibukota, karena menurutnya kajian yang ada saat ini masih bersifat partikular.

Jehansyah menjelaskan dengan membangun ibukota baru maka diharapkan akan ada multiplier effect yang terjadi. Di Ibukota yang baru ini maka akan muncul potensi wisata kota dan ketenangan. Ibukota yang baru dapat digunakan sebagai pusat penelitian yang membutuhkan ketenangan dalam melakukan penelitian.

“Jadi kalau ada anggapan nanti di Ibukota kalau malam menjadi kota mati dan sepi itu benar karena itulah dapat dijadikan kota penelitian, mungkin LIPI juga akan pindah ke sini. Kalau mau kehidupan malam jangan ke Ibukota namun ke pusat bisnis,” katanya.

Kebijakan pemindahan Ibukota harus segera dilaksanakan agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain. Menurut Jehansyah saat ini Indonesia telah tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Bahkan ia memprediksi, Vietnam akan segera menyalip posisi Indonesia karena Vietnam telah lebih dahulu memindahkan Ibukota negara pada 2005 lalu.

“Mungkin nanti saat kita memulai pemindahan Ibukota, Vietnam telah maju. Semoga saja kita tidak tersalip Timor Leste,” ujarnya lalu tertawa.

Kemarin, Presiden melalui Staf Khusus Bidang Pemerintahan Daerah Felix Wanggai menyatakan pemindahan Ibukota telah dikaji sejak Maret 2010. Presiden, kata Felix, terbuka dengan wacana ini namun hendaknya pemindahan dilakukan dengan alasan strategis, bukan karena faktor kemacetan di Jakarta.

Dicopas dari VIVAnews

Tinggalkan komentar

Filed under Lingkungan

Surat Dari Tahun 2070


Sebuah pesan dari masa depan sebagai suatu hasil kearifan orang di masa kini, andaikan kita masih berbuat sebagaimana yang kita lakukan selama ini, niscaya semua itu akan terjadi.

SURAT DARI TAHUN_2070

Tinggalkan komentar

Filed under Lingkungan

Gara-gara Macet, Ibukota RI Akan Pindah ke Indonesia Timur


Lagi, wacana pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa kembali bergulir. Keruwetan yang sungguh tak terperikan di Jakarta sebagai ibu kota negara melatarbelakangi munculnya wacana ini.

Saat ini, tak kurang 59 persen populasi di Indonesia terpusat di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 6,8 persen dari total daratan di Indonesia. Kemacetan pun telah menjadi pemandangan lazim di Jakarta, utamanya pada pagi dan sore hari.

Diperkirakan, kerugian material akibat kemacetan di DKI Jakarta mencapai Rp 17,2 triliun per tahun, atau nyaris setara dengan anggaran belanja dan pendapatan DKI Jakarta setiap tahunnya.

Data dari Tim Visi Indonesia 2033 juga menyebutkan, tak kurang 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini menimbulkan pembangunan yang tak merata serta kesenjangan antara Pulau Jawa dan non-Jawa.

“Menurut saya, ibu kota itu wajib dipindahkan,” tegas Wakil Ketua Komisi II DPR RI Ganjar Pranowo. “Tak ada (gubernur) yang mampu. Sudah sekian gubernur, tetap sama saja kok,” tambah anggota Fraksi PDI-P ini.

Ketika dibangun oleh Belanda, sambung Ganjar, Jakarta hanya didesain menampung sekitar dua hingga tiga juta penduduk. Seiring dengan perkembangan zaman, kini tak kurang 10 juta orang memadati Jakarta setiap harinya. Pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa, sambung Ganjar, dinilai mampu merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah.

Hal senada ini disampaikan Direktur Kemitraan untuk Tata Pemerintahan yang Lebih Baik Wicaksono Sarosa, yang juga pemerhati isu-isu perkotaan. “Selama ini, kegiatan ekonomi di Jakarta hanya mendorong kemajuan segelintir daerah saja, seperti Jawa Barat dan Banten,” ujar Wicaksono, mengutip penelitian Profesor Budi Reksosudarmo.

Usulan pemindahan ibu kota juga disampaikan pemerhati lingkungan hidup, A Sonny Keraf, yang juga dosen Universitas Atma Jaya Jakarta. Usulannya merupakan langkah paling radikal. Namun banyak negara melakukan itu dan berhasil mengatasi kemacetan di ibu kota negaranya. Bung Karno, presiden pertama, telah berpikiran visioner menyiapkan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sebagai calon ibu kota RI sejak 1960-an.

Melanjutkan visi Bung Karno, sebaiknya ibu kota baru berada di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur. Ada banyak keuntungan positif untuk itu.

Pertama, pemindahan ibu kota jangan dilihat sebagai beban ekonomi karena besarnya dana yang dialokasikan. Ini harus dilihat sebagai peluang ekonomi yang sangat menggiurkan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang yang akan mengerjakan persiapan, pembangunan, dan relokasi ibu kota tersebut. Akan dibutuhkan waktu 5-10 tahun untuk realisasi, dan itu peluang ekonomi yang sangat baik.

Kedua, dari segi politik, pemindahan ibu kota ke luar Jawa dan Indonesia bagian timur (IBT) akan serta-merta menggeser episentrum pembangunan nasional dari Jawa dan Indonesia bagian barat (IBB). Ini akan menjadi sebuah langkah dan peluang pemerataan pembangunan ke IBT untuk memberi kesempatan lebih besar bagi berkembangnya wilayah luar Jawa, khususnya IBT.

Ketiga, selain untuk mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya, ini sekaligus menjadi peluang untuk membangun sebuah ibu kota baru dengan tata ruang, jaringan, dan pola transportasi yang jauh lebih ramah lingkungan, ramah secara sosial dan psikis, atau jauh lebih manusiawi.

Kita bangun ibu kota baru dengan sistem transportasi multimoda yang ramah lingkungan, nyaman, aman, dan mudah dijangkau. Kita bangun sebuah ibu kota baru dengan hutan kota yang asri, tempat-tempat rekreasi umum yang ramah secara sosial, dengan berbagai fungsi sosial yang futuristik untuk kehidupan modern, tetapi dengan warna etnik yang khas.

Pilihan di Kalimantan lebih diutamakan mengingat Kalimantan bebas dari pusat gempa, demikian A. Soni Keraf.

Pemindahan ibu kota, terutama ke Indonesia bagian timur, dinilai menjadi sebuah langkah dan peluang pemerataan pembangunan di kawasan tersebut. Ini memberi kesempatan yang lebih besar bagi berkembangnya wilayah luar Jawa.

Dicopas dari Kompas.com

7 Komentar

Filed under Lingkungan