Renungan Hari Pendidikan : Menjadikan Perguruan Tinggi Swasta Lebih Baik


Satu persoalan krusial yang menghadang di pelupuk mata pasca Ujian Nasional (UN), adalah mengatasi keterbatasan daya tampung perguruan tinggi negeri dalam penerimaan mahasiswa baru. Dikatakan rumit, peserta  seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) setiap tahun,  selalu mencapai angka fantastis, sehingga tidak pernah seimbang dengan daya tampung yang ada.
Menyikapi suasana gundah-gulana ini, bergaung segenggam usul-saran yang menyemburat dari pemerhati/pengamat pendidikan, agar stakeholders kependidikan selekasnya menukuk perguruan tinggi negeri dengan menggunakan pelbagai infrastruktur yang nyaris tidak berfaedah bagi kemaslahatan umum. Bila perlu, menjamah ke kabupaten/kota. Namun, usul—yang sekilas terkesan bernas ini, sejatinya dipertimbangkan masak-masak. Pasalnya? Bukankan di pelbagai pojok tanah  air tegak-berdiri lembaga pendidikan swasta. Apa tak lebih afdal, saatnya kita melirik lembaga pendidikan swasta tersebut. Pertimbangannya? Agar generasi kini tidak terkooptasi oleh yang serba negeri.

Lebih dari itu, supaya perguruan swasta yang jumlahnya bak cendawan tumbuh di musim hujan tidak gulung tikar. Bukan mengada-ada, sebab nyaris semua perguruan tinggi negeri (PTN) menerapkan sistem penerimasan mahasiswa baru non reguler—yang biaya perkuliahannya rumit dijangkau oleh si kantong tipis. Yang lebih penting pula, tidak semua perguruan swasta bermutu di bawah standar (low standarditation). Kecuali itu, tidak pula semua perguruan tinggi swasta  (PTS) menerapkan pola dan sistem hight cost (biaya selangit). Bahkan tidak bisa dibilang sedikit, PTS justru lebih “boneh” bahkan terjamin ketimbang institusi pendidikan berlabel negeri.
Melacak lebih mencukam, betapa pentingnya mempertimbangkan PTS, singkron dan seirama dengan satu adagium yang diapungkan Francis Fukuyama: “Setiap kegalauan besar, mesti dianyam satu rekonstruksi besar. Kiatnya? Tumbuhkan team work  dan trust  berskala besar – demi menggapai kemenangan lebih besar. Pendapat Francis Fukuyama yang tertera memukau dalam “The Great Distruption” (1997) itu, justru telah dimulai oleh Pemko Daerah Khusus Ibukota (DKI) pada dekade lalu. Dalam menghadapi ledakan murid/mahasiswa di Ibukota, Pemko DKI merakit satu kerjasama dengan lembaga manajemen universitas negeri dan universitas swasta berkategori bonafid. Buahnya, terlahirlah satu pilot project yang cukup membantu memecahkan gunung es keterbatasan daya tampung perguruan negeri tadi.
Konkretisasinya, konsep-konsep community based dan school based education management yang lebih berorientasi pemberdayaan dan pencerahan mulai diuji-cobakan di DKI. Bagaimana hasilnya? Secara umum lumayan bagus. Maksudnya, anak-anak – termasuk para urban yang tidak dapat jatah bangku di perguruan negeri, berduyun-duyun melamar ke swasta. Ada swasta dengan biaya murah (low cost), biaya sedang/terjangkau (mid cost), dan tentu ada pula swasta dengan biaya membubung ke langit ke-tujuh!
Yang disebut pertama biasanya adalah perguruan di bawah sungkup Ormas Islam. Sebut saja Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al Washliyah, Asy-syafi’iyah dan lain sebagainya. Sedang yang disebut kedua adalah sekolah-sekolah di bawah payung yayasan papan atas semisal Al Azhar dan beberapa yayasan milik kaum Shalibiyah. Harap maklum! Swasta yang memang sangat mahal ini cukup komit dengan satu istilah dalam ilmu marketing, yaitu serqual alias service quality – baik aspek tangible maupun dimensi intangible (sarana, fasilitas, kurikulum, guru, disiplin dan proses belajar mengajar/PBM).
Untuk itu, diperlukan kiranya para petinggi pendidikan (strukturalis dan kulturalis/pihak swasta) menggelar ADB alias acara duduk bersama agar terjadi keseimbangan daya mampu tampung perguruan negeri dan swasta. Sebagai wujud keterbatasan anggaran seabrek program pendidikan negeri (masih belum mencapai 20 persen dari totalitas APBN dan APBD), agaknya kita sependapat dengan Francis Fukuyama, betapa urgennya memberikan perhatian lebih besar terhadap community participation. Salah satu bentuknya adalah menganyam sedemikian rupa school commite board pada tatanan yang sesuai dengan konteks daerah – provinsi dan kabupaten/kota.
Hal-ihwal perbaikan cita dan citra perguruan swasta seperti yang didambakan banyak orang, tak terkecuali calon peserta didik memang satu keharusan mendesak. Untuk itu—pada hemat penulis, sebagaimana halnya perguruan negeri, perguruan swasta pun mesti komit dengan beberapa aspek kependidikan. Pertama, punya visi, misi serta tujuan yang jelas dan spesifik. Kedua, berupaya gigih tercapainya apa yang disebut dengan pemerataan equity. Ketiga, legal issues mesti jelas dan terarah. Sebab, di perguruan swasta hingga kini belum begitu jelas: siapa yang berwenang memformulasikan kurikulum; apa gawe pihak yayasan dan apa saja tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dekan dan rektor; dan apa serta bagaimana keberadaan komite/dewan kurator. Lantaran masih kaburnya legal issues ini, masing-masing pihak saling menunggu dan saling “basiasan” mengambil tindakan/kebijakan. Keempat, fasilitas plus input juga mesti merata, dan ukuran kualitas (quality degratie) mesti terang-benderang – kapan perlu tampil beda dengan sekolah negeri
Disadari memang, mengemas empat persoalan di atas menguras energi, pikiran dan bahkan biaya besar. Dalam konteks ini, mungkin kita bisa menuai segenggam iktibar dari Muhammadiyah, NU, Perti, Tarbiyah Islamiyah – yang sudah lama menggeluti ratusan perguruan—sejak TK hingga perguruan tinggi, baik umum maupun agama (madrasah/pondok pesantren). Selain punya majlis/bagian atau apapun namanya yang berkonsentrasi penuh dalam dunia pendidikan, mereka diakui cukup lihai dan campin menggali sumber dana (mengalir atau insidentil) secara halal dan tidak mengikat. 
Bila sudah begitu, perguruan swasta yang “dituduh” segelintir orang mahal, kurang bermutu, dan kurang bergengsi itu, secara gradual bakal bisa ditampik. Di atas dari semua itu, pada saatnya nanti perguruan negeri dan swasta bukan bersaing, tapi bergandengan bahu mencerdaskan, memberdayakan dan mencerahkan  anak bangsa. Wallahu a’lam bish shawab.


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s