Monthly Archives: Desember 2012

Perguruan Tinggi yang Dibutuhkan Masyarakat


Memasuki milenium ketiga, berarti kita menginjakkan kaki di dunia tanpa batas. Sebab, milenium ketiga ditandai oleh informasi,  komunikasi dan iptek yang kian meroket dan tersebar dengan cepat. Dalam kondisi semacam itulah Perguruan Tinggi (PT) kita hidup dan mengembangkan diri. Dalam kerangka ini, paradigma lama yang masih melekat di sebagian PT perlu dikaji ulang.  Sistem sentralistik yang memosisikan PT di menara gading, memerlukan peninjauan visi-misi. Tidak saja Perguruan Tinggi  Negeri (PTN) tapi juga Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Baik yang di bawah binaan Departeman Pendidikan Nasional (Depdiknas) maupun yang berteduh di bawah payung  Kementerian Agama (Kemenag) dan lainnya.
Visi-misi di alam global yang sarat persaingan kini—tak terkecuali persaingan “memperebutkan” mahasiswa, setidaknya terpaut dua dimensi yang saling berjalin-kelindan. Pertama dimensi lokalisme, dan yang kedua dimensi globalisme. Yang disebut penggal awal, sejatinya PT kita memiliki unsur akuntabilitas, relevansi, kualitas, otonomi kelembagaan dan jaringan kerja sama. Sedang yang dibilang kedua, PT dituntut punya aspek kompetitif, mutu dan networking. Baik sesama PT dalam negeri maupun  dengan PT luar negeri.

Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Pendidikan

Renungan Hari Pendidikan : Menjadikan Perguruan Tinggi Swasta Lebih Baik


Satu persoalan krusial yang menghadang di pelupuk mata pasca Ujian Nasional (UN), adalah mengatasi keterbatasan daya tampung perguruan tinggi negeri dalam penerimaan mahasiswa baru. Dikatakan rumit, peserta  seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) setiap tahun,  selalu mencapai angka fantastis, sehingga tidak pernah seimbang dengan daya tampung yang ada.
Menyikapi suasana gundah-gulana ini, bergaung segenggam usul-saran yang menyemburat dari pemerhati/pengamat pendidikan, agar stakeholders kependidikan selekasnya menukuk perguruan tinggi negeri dengan menggunakan pelbagai infrastruktur yang nyaris tidak berfaedah bagi kemaslahatan umum. Bila perlu, menjamah ke kabupaten/kota. Namun, usul—yang sekilas terkesan bernas ini, sejatinya dipertimbangkan masak-masak. Pasalnya? Bukankan di pelbagai pojok tanah  air tegak-berdiri lembaga pendidikan swasta. Apa tak lebih afdal, saatnya kita melirik lembaga pendidikan swasta tersebut. Pertimbangannya? Agar generasi kini tidak terkooptasi oleh yang serba negeri.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Manusia Telah Menghancurkan Bumi Secara Perlahan


Tiap 21 April, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kartini. Tapi, pada 22 April, kita nyaris lupa, hari itu adalah “Hari Bumi”. Menurut Nasfryzal Carlo, Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Guru Besar FTSP Universitas Bung Hatta, Padang (2011): “Hari Bumi ditetapkan atas usul Sekretaris PBB, U Than—yang dicanangkan pertama-kali Prof. John Mc-Connel, pada 1 Maret 1970. Usulan bernas U Than tersebut, dijadikan momentum semua umat manusia berpikir kembali ihwal nasib bumi—sebuah planet yang kini dihuni miliaran anak manusia”.
Sedang mengacu analisa The Population Council – seperti dikutip pakar IPB Prof. Ir. Rokhmin Dahuri (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Laut RI), di forum International Confrence of Islamic Scholars (ICIS) 20 – 21 Juni 2006 lalu, di Jakarta dikatakan: sepuluh ribu tahun SM – penghuni bumi secara kuantitatif baru terpaut angka 5 juta jiwa. Kisaran 12 ribu tahun kemudian (1650 M), angka tersebut membengkak drastis menjadi 545 juta jiwa. Memasuki gerbang abad ke-21, lonjakkan penduduk bumi masih fantastis. Kepadatannya melaju 40 jiwa per kilometer bujursangkar – dengan jumlah keseluruhan diprediksi melampaui angka 6,2 miliar jiwa.

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Lingkungan Hidup

Akhirnya Iran Berhasil Mengalahkan Amerika


Siapa tak kenal salah seorang Presiden Iran Dr Mahmoud Ahmadinejad! Seperti pernah diberitakan mass media cetak dan elektronik, Ahmadinejad yang  kerap menyebut dirinya sebagai khadamu al-ummah alias pelayan masyarakat itu, pernah menggelindingkan statemen “bagak” dan berani : “Agar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) menghapus hak veto bagi lima negara anggota tetap, yaitu Amerika Serikat (AS), Inggris, China, Prancis dan Rusia”
Pernyataan Presiden Iran—yang terbilang tabu dilafazkan petinggi negara manapun di bawah kolong langit ini, mengingatkan kita pada Revolusi Islam di Iran yang klimaksnya berkelebat pada Februari—April 1979. Sebuah revolusi spritual dan kultural lagi spektakuler yang dapat mengubah peta politik negara-negara Timur Tengah. Betapa tidak? Revolusi yang diarsiteki ulama kharismatik Ayatullah Ruhullah Khomeini dan cendikiawan terkemuka Dr Ali Syariati serta ditopang penuh mahasiswa/masyarakat, berhasil menumbangkan diktatorial Mohammad Reza Syah Pahlevi  yang mewarisi kursi kekuasaan secara turun-temurun sejak 1925. Bahkan, nama yang populer dengan sebutan Syah Iran—yang dalam buku The Fall of the Syah (Fereydoun, Hoveida, 1980) dijuluki Farmandeh (pemimpin besar tak boleh ditegur), lari terbirit-birit, dan kemudian ditampung oleh bos atau induk-semangnya. Siapa lagi kalau bukan AS.
Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Internasional