Refleksi Ulang Tahun Pasaman : Dengan Semangat Egaliter Mendayung Pasaman


Oleh H. Marjohan

Siapa tak kenal Pasaman? Tanah yang pernah melahirkan dua pahlawan perjuangan kemerdekaan RI. yaitu Tuankoe Imam Bonjol, bernama kecil Peto Syarief dan Pakiah (Faqih) Moehammad, gelar Tuanku Rao. Kedua beliau yang pernah menyauk sprit of Islam ke tempat turunnya wahyu (Makkah dan Madinah) inilah yang mentransformasikan substansi dan semangat Islam dalam kancah Gerakan/Perang Paderi menentang Belanda pada 1821-1837 silam!

Masih di zaman Belanda, Kabupaten Pasaman termasuk Afdeling Agam yang dikepalai  seorang Asisten Residen. Afdeling Agam tersebut meliputi empat Onder Afdeling masing-masing Agam Tuo, Maninjau, Lubuk Sikaping dan Onder Afdeling Ophir. Dan, bertumpu pada konsep plus presep yang dirancang-bangun oleh kolonial Belanda—yang nota bene tak bisa diungkai dari politik devide et impera-nya tiap Onder Afdeling dinakhodai seorang Contreleur, dan tiap Contreleur dipilah lagi menjadi Distrik.

Harap maklum! Distrik dibiduki seorang Demang, lebih populer dengan sebutan Angku Damang. Distrik ini dikerucutkan lagi menjadi Onder Distrik (Asisten Demang). Sedangkan Onder Afdeling Lubuk Sikaping—yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Pasaman, dipimpin Bupati Benny Utama dan Wabup Daniel Lubis terdiri dari Distrik Lubuk Sikaping dan Distrik Rao. Sementara Onder Afdeling Ophir mencakupi Distrik Talu dan Distrik Air Bangis.Yang disebut penggal akhir, sejak 2003, termasuk Wilayah Kabupaten Pasaman Barat, dengan Ibu Kota Simpang Ampek, serta dipimpin Bupati  Baharuddin, R dan Wabup Dt. Syahrul.

Setelah Belanda hengkang, dan atau “bakirok” dari bumi Indonesia, dengan sigap Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI, pada 17 Agustus 1945.  Tak berselang lama, Onder Afdeling Agam Tuo dan Maninjau digabung dan diubah nama menjadi Kabupaten Agam. Sedang Onder Afdeling Lubuk Sikaping dan Ophir sontak pula berubah menjadi Kabupaten Pasaman dengan tiga kewedanaan, yaitu Kewedanaan: Lubuk Sikaping, Talu dan  Air Bangis.

Di mana sentral kepemerintahan ketika itu? Dengan alasan menyeimbangkan sistem pelayanan publik, ditetapkanlah di wilayah pertengahan, yaitu Talu. Namun pada Agustus 1947, periodesasi jabatan Bupati digenggam Basyrah Lubis, ibu kota kabupaten Pasaman dihijrahkan  ke Lubuk Sikaping. Dalil ‘aqliyah yang dikedepankan kala itu, selain relatif dekat dari Kabupaten Agam, Pasaman wilayah timur kurang menguntungkan dari aspek sumber daya alam (natural resourcess). Sebab, tak kurang sebanyak 82 persen wilayahnya terdiri dari hutan lindung, sebagai paru-paru dunia, dan rumit untuk dijamah serta dieksploitasi—walau dengan alasan demi meraup kesejahteraan masyarakat sekalipun!

Berdalil kesejahteraan, denyut nadi dan aspirasi masyarakat pula, 45 tahun kemudian, DPRD Kabupaten Pasaman yang  waktu itu diketuai Masril Payan menggulirkan Surat Keputusan—termaktub dalam Nomor.11/KPTS/DPRD/PAS/1992, tertanggal 22 Pebruari 1992, tentang Hari Jadi Kabupaten Pasaman. Surat Keputusan monumental tersebut, secara teknis operasional keeksekutifan ditindak-lanjuti dengan Surat Keputusan Bupati Pasaman, Taufik Martha, Nomor 188.45/81/BUP PAS/1992, tertanggal 26 Pebruari 1992. Kombinasi kedua SK monumental itu, menetapkan hari jadi Kabupaten Pasaman, yakni pada tanggal 8 Oktober 1945. Adapun dasar atau legalitas formal penetapannya mengacu pada awal berjalannya roda pemerintahan yang dikeluarkan melalui Keputusan Residen Sumatera Barat Nomor. R.I/I tanggal 8 Oktober 1945 yang menetapkan  Luhak Kecil Talu di bawah kepemimpinan Bupati Abdul Rahman Sutan Larangan. Dan, bertolak dasar dari kedua SK itu pula, pada 8 Oktober 2011, yang jatuh pada Sabtu ini, masyarakat Pasaman menggelar helat hari jadi kabupatennya yang ke-66, di Gedung Syamsiar Thaib, Lubuk Sikaping—Dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno; Beberapa SKPD Provinsi; Ikatan Keluarga Pasaman (IKP) dari sejumlah provinsi dan kabupaten/kota; Tungku Tigo Sajarangan (Ninik mamak/Huta Bangun, Bundokanduang, alim ulama dan cerdik pandai); para Muspida/SKPD dan instansi vertikal; serta anggota DPRD setempat.

Dan, di usianya yang ke-66 di tahun 2011 ini, Kabupaten Pasaman telah dipimpin oleh enam belas orang Bupati. Beliau-beliau itu adalah Darwis Taram Dt. Tumangguang (1946-1947); Basyrah Lubis (1947-1949); Sutan Bahrum Syah (1950-1951); AM. Djalaluddin (1951-1952); Syahboeddin L. Dt. Siboengsoe (1952-1954); A. Muin Dt. Rangkayo (1954-1958); Johan Rivai (1958-1965); Bongar Sutan Pulungan, SH (1965-1966); Drs. Zainoen (1966-1975); Drs. Saruji Ismail (1975-1985); Rajuddin Noeh, SH (1985-1990); Taufik Martha (1990-2000); Drs. Baharuddin, R, MM/Wakil Bupati Benny Utama, SH, MM (2000-2005);  Yusuf Lubis, SH, Msi/Wakil Bupati Drs. Hamdy Burhan, Msi (2005-2010); dan Benny Utama/Wakil Bupati Daniel Lubis (2010-2015).

Selama dijurumudi-i Trio Eksekutif (Bupati/Wakil Bupati, dan Sekda Drs. Syamsurizal, MM), serta ditopang sepenuhnya 30 anggota DPRD yang kini diketuai Yasri Rolan (dari Fraksi Golkar/menggantikan Benny Utama—terutama dalam konteks anggaran, legislasi plus social control, Kabupaten Pasaman dengan luas 4.011,08 Km ², dengan 12 kecamatan dan 32 nagari serta 205 jorong tersebut, semakin menggeliat nyaris dalam semua sektor kepembangunan secara signifikan. Dan, ini tidak terlepas dari sustainable development yang diteruka Bupati-Bupati sebelumnya .

Empat tahun lalu saja misalnya, secara kuantitatif tidak kurang sebanyak 49,1 persen dari populasi penghuni Pasaman masih bergelimang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun kini, angka yang cukup bengkak itu telah menurun cukup drastis menjadi 31 persen. Kuncinya? “Dalam mengayunkan langkah kekinian dan ke depan, kita lebih mengutamakan kredo egaliterianisme (baca: semangat kebersamaan)—yang secara implementasi aplikatif dituangkan ke dalam motto: Pasaman Saiyo  alias “Pasaman sehat, aman, indah, yakin dan optimis”, ujar Bapati Benny—dalam pelbagai pertemuan dengan masyarakat.

Dan, pada momentum HUT ke-66 tersebut, insya Allah akan diikrarkan “secabik”: Ikrar Sosial-budaya antar etnis yang menghuni bumi Pasaman. Ikrar itu berbunyi: “Menyadari komunitas Pasaman—amatlah beragam (adat, sosial dan budaya), dalam konteks realitas dan identitas—maka kami pemuka negeri (Ninik mamak/Huta Bangun, Bundokanduang, alim ulama dan cerdik pandai), berikrar: “Akan seayun-selangkah menggapai Pasaman ke depan yang lebih anggun, damai, aman, sentosa dan sejahtera, serta berkeadilan.

Sepertinya, ikrar yang “membusat” secara sosio-kultural dari arus/suara bawah itu, sengaja memilih kata “ikrar”—yang justru lebih mengikat secara budaya. Bandingkan dengan kata kesepakatan, dan atau kesepahaman—yang justru bersifat relatif longgar. Harapan kita, ikrar yang dituangkan ke dalam sebuah prasasti, dan ditanda-tangani oleh pemuka nagari tadi—tidak hanya sebuah slogan tanpa makna—melainkan benar-benar mewujud ke ranah realitas sosial-objektif komunitas Pasaman yang memang amat sangat heterogen dan pluralisme tersebut. Soalnya, jangankan dibanding dengan beberapa wilayah Indonesia bagian timur—dimana nyaris tiap sebentar berkelebat konflik horizontal, dibanding kabupaten tetangga saja (Pasaman Barat), Kabupaten Pasaman (kabupaten induk)—relatif masih jauh dari guncangan “gesek-gesek daun pimpiang”—secara signifikan!

Dan, untuk lebih memat(r)i-ambalau-i sikap mental masyarakat yang kompak—tanpa terjerembab mempermasalahkan kemajemukan budaya tersebut, maka ikrar tokoh nagari tadi-lah yang menjadi perekat, bagi mengayunkan langkah: guna merajut kekinian plus kemendatangan Pasaman. Dan, ikrar sosial-budaya ini, menjadi lebih bergetah andai dipertautkan dengan motto Pasaman—yang selalu dikepit Bupati Benny Utama beserta Wabup Daniel Lubis ke manapun ia bertandang. Semoga! (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Gambarnya punyanya

TENTANG PENULIS


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

1 Komentar

Filed under Pasaman

One response to “Refleksi Ulang Tahun Pasaman : Dengan Semangat Egaliter Mendayung Pasaman

  1. @Buya Marjohan: Terimakasih kiriman tulisannya, Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s