Jadi Haji Tanpa Mengunjungi Makkah al-Mukarramah


Oleh: H. Marjohan

“Mereka akan dibalut selimut kehinaan, di mana pun mereka berada. Kecuali jika mereka mau dan mampu merajut tali vertikal dengan Allah serta mau dan mampu pula merenda benang horizontal sesama anak manusia—yang berteduh di bawah kolong langit-Ku” (QS. Ali-‘Imran ayat 112)

Dalam salah satu riwayat yang shahih lagi mutawatir (valid dan berkesinambungan) dikisahkan! Satu ketika, bertemu dua Malaikat di depan Ka’bah usai musim haji. Kedua makhluk suci itu, terlibat dalam sebuah dialog seputar jemaah haji yang baru saja selesai menunaikan thawaf wada’ (perpisahan dengan Baitu al-Allah). Salah satu Malaikat bertanya: Berapa jumlah jema’ah haji tahun ini? Sekian ratus jiwa! Berapa di antara mereka yang mampu meraup haji maqbul dan haji mabrur? Hanya tiga orang, dan salah satunya bahkan tidak sempat menyaksikan keperkasaan Masijidil Haram di kota Makkah al-Mukarramah, dan  keteduhan Masjid Nabawi di kota Madinatu al-Munawwarah.

Lalu dikisahkan yang satu itu: Ketika seorang lelaki berusia setengah baya tersebut berangkat ke tanah haram dengan bekal secukupnya, tiba-tiba di tengah perjalanan  bertemu satu keluarga miskin beserta anak-anaknya yang masih ingusan—sedang  menyantap daging keledai mati.

Lantaran terenyuh atau terkesiap menyaksikan pemandangan langka tersebut, calon haji tadi menyerahkan seluruh bekalnya pada keluarga amat  melarat itu. Akibatnya, urunglah nawaitu-nya menunaikan rukun Islam kelima. “Tapi, karena itu pulalah Allah SWT menerima hajinya”, imbuh  seorang Malaikat–masih di bawah kiswah—tepatnya   di pojok Hajratu al-Aswad.

Dalam ungkapan lain, secara esensial/substansial, Hamba Allah yang kaya rahim/kepedulian sosial  (ruhama’ bainahum) itu, sudah haji sebelum naik haji. Ia sudah berada di bawah sungkup maghfiratu Allah (ampunan Allah), dan atau berteduh di bawah tudung  mardhati Allah,  (ridha Allah)—kendati ia tidak sempat menginjakkan kaki di Masjidil Haram, di Shafa–Marwa, di Padang ‘Arafah, di Muzhdalifah, di Mina dan lain sebagainya.

Banyak hal sebenarnya yang dapat di-iktibari dari kisah di atas. Antara lain, nilai atau bobot ibadah haji sepertinya tidak cuma tergantung pada syarat, rukun plus ritual-ritual haji. Tapi, seberapa jauh para dhuyufurrahman (tamu-tamu Allah) bisa menyerap hakekat, roh, jiwa dan kontekstualitas seluruh rangkaian ibadah haji.

Makna dan i’brah (pelajaran bernas) lain, seberapa jauh pula umat Islam mau dan mampu menyeimbangkan antara ibadah dan mu’amalah. Antara kesalehan individual/personal (at-Tha’ah al-fardh) dengan kesalehan sosial (at-Tha’ah al-ijtima’i). Nabi bersabda: Belum dikatakan beriman seorang kamu, bila kamu bersuka-ria di samping (di atas) jeritan dan derita panjang orang-orang miskin (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang lebih fundamental lagi: Islam datang tidak hanya menyuruh umatnya: shalat, puasa, haji, zikir, tahmid, tasbih, tahlil, dan ber-talbiyah. Tapi, Islam merayap ke muka bumi adalah juga sebagai  liberating force. Yaitu membebaskan anak manusia dari penjara kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Baik kemiskinan absolut (absolute poperty) maupun kemiskinan relatif (relative poperty).

Makanya, skop orientasi dari sebuah ibadah, tak terkecuali ibadah haji oleh karena itu meliputi: hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal/sosial dengan sesama manusia—itulah makna hakikiyah yang termaktub penuh zauq/getaran dalam Al-quran Surat Ali-ímran ayat 112, seperti yang kita kutip di atas. Terutama jelas manusia-manusia yang masih bergelimang dengan kepahitan hidup–seperti keluarga miskin yang terpaksa memakan daging keledai mati tadi.

Lalu, agar umat tidak terjebak ke dalam kesombongan ibadah personal (Ananitul Ibadah)—semisal naik haji berkali-kali—sementara banyak ikhwan di seberang sana bergumul dengan berbagai kepahitan dan kesengsaraan hidup.  Mari  diresapi kembali firman Allah! “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama? Itulah orang yang hobi menghardik anak yatim, dan mereka tidak punya nyali terhadap derita orang-orang miskin. Kecelakaan bagi orang yang lalai dari shalatnya (lalai: waktu, niat, kaifiat, roh atau jiwa). Mereka suka berbuat ria, dan enggan menyuguhkan pertolongan yang berdaya-guna dan berhasil-guna”. (QS. Al Maa’uun ayat 1- 7).

Dalam ayat lain disebutkan tentang kelompok di yaumil akhir menerima kitab di tangan kirinya : “Orang yang diberi kitab di tangan kirinya, lalu ia berkata: Duhai! Alangkah baiknya kalau aku tidak diberi kitab saja, dan aku tidak mengalami hari pengadilan ini. Alangkah baiknya kalau sesudah maut berakhirlah semuanya. Tidak ada gunanya seluruh kekayaanku. Binasalah seluruh kekuasaanku (di dunia dulu). Lalu Allah berfirman: “Ambil orang itu, lalu belenggu dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (zira’), lalu lemparkan dia. Sebab, orang ini tidak beriman kepada Allah yang Maha Besar, dan dia tidak mengacuhkan derita panjang orang-orang miskin” (QS. Al-Haaqqah ayat 25 – 34).

Sebaliknya, Al-Quranu Al-Karim melukiskan ahli syurga sebagai orang-orang yang memiliki  kesalehan individual dan kesalehan sosial yang ditandai peduli terhadap komunitas/kelompok dhu’afa’ wa al- mustadh’afin (kaum lemah dan dilemahkan): “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik – nanti pada hari kiamat, di syurga akan minum dari sebuah gelas yang kacanya terbuat dari “kafura” (putih-bersih dan sedap dipandang). Mereka minum dari air-air yang dipancarkan sekehendak hati mereka. Sebab, mereka suka memenuhi janji, dan mereka takut pada hari pembalasan. Orang-orang yang memberi makan pada orang miskin, anak yatim, tawanan perang dan budak-budak belian—walau mereka senang makanan itu. Kemudian mereka berkata: Kami ini memberi makan kepada kamu karena Allah, aku tidak mengharapkan balasan dari kamu, dan tidak pula mengharapkan terima kasih” (QS. Al-Insan ayat 5 – 9). Fa’tabiru ya uli al- aghniya’.

TENTANG PENULIS


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Iklan

2 Komentar

Filed under "Idul Adha

2 responses to “Jadi Haji Tanpa Mengunjungi Makkah al-Mukarramah

  1. @Buya Marjohan: Terimakasih kiriman tulisannya, Pak

  2. Bagus-sangat dipahami, dimengerti, dan dilaksanakan , terima kasih banyak atas tulisanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s