Ada Kejujuran Seharga 389 Juta Rupiah


Sore kemaren sebuah hape yang dikenal dengan sebutan BB tergeletak di sudut meja kerjaku. Kuraih benda itu, kuamati sejenak, jenis Curve 8900 dengan kesing berwarna putih. Gadget itu bukan punyaku, karena aku belum pernah sanggup untuk membelinya. Ada seseorang yang telah lupa dan meninggalkannya di mejaku. Tapi aku tak pernah tahu siapa orangnya.

Kucoba berpikir keras untuk mengingat-ingat siapa saja yang telah berkunjung ke warungku sehari itu. Ada banyak orang, tapi aku tak berhasil untuk tahu siapa gerangan yang telah berbaik hati meninggalkan sebuah hape untukku.

Untuk-ku? Pikiran itu membuatku tersadar seketika kalau benda itu bukan untukku, bukan hakku, melainkan punya orang yang tengah kehilangan. Satu-satunya yang harus kulakukan hanyalah mengembalikannya. Haruskah aku mengembalikannya?

Tak perlu berlama-lama serta banyak pertimbangan bagiku untuk memutuskan semua itu. Langsung saja kuhubungi salah satu nomor telepon yang ada di daftar kontak. Menanyakan siapa yang punya hape tersebut. Sekaligus minta tolong menyampaikan pesanku tentang semua itu.

Kejadian kemaren itu mengingatkanku akan sebuah cerita yang diturunkan Associated Press beberapa hari yang lalu. Cerita tentang sebuah kejujuran. Adalah seorang pria bernama Josh Ferrin, yang tinggal di pinggiran kota Salt Lake City, Amerika Serikat. Dia baru saja membeli sebuah rumah baru.

Setelah mengambil kunci pada awal pekan, dia berniat untuk memeriksa keadaan rumah itu. Ketika berada dalam garasi, Ferrin melihat ada secarik kain yang menjuntai di loteng. Dia membuka dengan memecahkan loteng itu dan naik dengan tangga. Dia menemukan sebuah kotak logam yang mirip dengan kotak amunisi peninggalan Perang Dunia II. Berikutnya ada tujuh buah kotak yang sama ditemukannya di loteng itu. Semuanya berisi bundelan uang tunai yang diikat dengan tali.

Ferrin membawa semua kotak itu ke rumah orang tuanya, menebarkan bundelan ribuan uang dolar di atas meja, lalu ia menghitung uang itu dengan isteri dan anak-anaknya. Dan mereka berhenti pada hitungan ke 40.000 dolar, namun masih ada sekitar 5 ribu dolar lagi berserakan di atas meja.

Ferrin terombang ambing antara berbagai kebutuhannya yang memerlukan uang dengan keinginannya untuk mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya. Sebagai manusia biasa Ferrin menyadari kalau dengan uang sebanyak itu dia bisa memperbaiki mobilnya yang sedang rusak, bisa membayar berbagai tagihan, serta membeli barang-barang yang sebelumnya tak terbayangkan dia akan sanggup membelinya.

Namun yang menjadi keputusan adalah sebagaimana ujarannya “Tapi uang itu bukan milik kami dan aku percaya tidak banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan kejujuran yang radikal, melakukan suatu kegilaan yang mengagumkan bagi orang lain dan itu adalah sebuah pelajaran yang kuharap bisa kuajarkan pada anak-anakku”

Serangkaian ucapan yang membuat Ferrin menghubungi melalui berita, anak sipemilik rumah sebelumnya, yang memang untuk dialah ayahnya menyimpan uang itu. Kepada siapa Ferrin telah tunjukkan kejujurannya senilai $45.000!.

Sebuah pengalaman dan satu cerita yang pernah kubaca itu telah membuatku setuju akan apa yang telah banyak diulas para penulis  bahwa kejujuran adalah sesuatu yang mahal. Ada yang seharga Blackberry dan ada juga berharga 45 ribu dolar. Pantas saja banyak pejabat di negara kita yang tak punya kejujuran. Karena mereka tak sanggup membeli!

Gambarnya punyanya

Tulisan ini juga diposting di SINI


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s