Hadiah Sang Penyair


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (2)

Pertama kali kami berjumpa, ada selinapan kekaguman dalam batinku. Kagum akan keadaan diri yang dihadirkannya. Walau aku tak pernah tahu, apakah ini satu kenyataan ataukah hanya subyektifitas belaka.

Namun beberapa hari waktu berlalu, satu hal yang tak pernah lepas dari kesadaranku sampai kedua kalinya kami bertemu, hanyalah kecantikannya yang kuagungkan itu memang ada. Dan keakraban yang terjalin melalui sikap dan pembicaraan telah menunjukkan kepadaku sesuatu yang semakin memperbesar keagungan itu. Sehingga dari perhatian telah bisa kukatakan bahwa sesungguhnya kekagumanku padanya lebih banyak di sisi-sisi yang tak nampak daripada yang terlihat.

Ingin aku menggambarkan lebih jelas tentang dia, namun aku tak punya kemampuan untuk itu. Karena untuk memperoleh gambaran sebenarnya, kita hanya akan bisa mengerti melalui cinta dan merabanya melalui ketulusan hati. Dan bila aku berusaha melukiskan dengan untaian lisan mengenai wanita seperti dia, ia akan merupakan biasan sinar yang tak terlihat.

Dia memiliki tubuh serta jiwa yang baik, namun bagaimana aku dapat melukiskan dengan kata-kata mengenai dirinya kepada orang yang tak pernah mengenalnya.

Bisakah setelah kita mati untuk ingat lagi nyanyian dari kejauhan malam dan harumnya aroma kasturi serta desah nafas panjang kita?

Tentu saja tidak pembaca-ku, tapi aku sendiripun masih ragu, mungkin kekaguman telah membuatku terhalang untuk melukiskannya dengan kata-kata biasa, sementara aku tak sanggup melukiskan kecantikannya yang sebenarnya dengan keindahan lisan penuh makna.

Setiap kali dia datang, bagi pandanganku tubuh indahnya dalam busana yang selalu serasi dikenakannya laksana cahaya lembut sang rembulan yang kusaksikan lewat jendela. Dia berjalan dengan lemah gemulai penuh ritme. Suaranya rendah dan merdu dalam tangkapanku, dan kata-kata yang diucapkan lewat bibirnya yang indah bagaikan tetes-tetes embun yang jatuh dari pucuk-pucuk cemara dalam guncangan angin pagi yang sepoi-sepoi basah.

Namun wajahnya, tak cukup kata-kataku untuk sanggup melukiskannya dengan ucapan. Kecantikannya memiliki nilai tersendiri yang amat menyenangkan, lebih megah daripada suara, bahasa dan kata-kata. Karena kecantikan wajahnya seperti umumnya wanita Cina yang cantik-cantik, bagaikan mimpi yang menyingkap rahasianya. Yang tak bisa dibandingkan dengan sapuan kuas paling indah dari seorang pelukis sekalipun.

Memang, kecantikannya yang kukagumi bukan terletak pada rambut hitamnya yang dipotong pendek, melainkan dari binar yang keluar dari matanya, bukan pada tarian bibir tipisnya menguntai kata, melainkan pada kemanisan budi bahasa dari kata-kata yang dihasilkannya, bukan pada kulit putih bagaikan sutranya, bukan pula pada leher jenjang bagaikan gadingnya, juga bukan pada bentuk tubuhnya yang sempurna, melainkan pada kemurahan hati, kebesaran jiwa, kejujuran dan kecerdasannya, yang menyala bagai jilatan api tertiup angin antara bumi dan langit. Kecantikannya bagaikan hadiah bagi para penyair.

Mungkin itulah yang telah membuatku memiliki keinginan untuk bisa selalu bertemu dengannya. Dan yang telah membuatku seperti merasakan suatu kekuatan tangan gaib yang selalu mengajakku untuk berada di dekatnya, memandang kecantikannya, mengagumi kecerdasannya dan mendengarkan keceriaannya dalam kejujuran.

Keinginan itu kuwujudkan dengan memintanya sesering mungkin mengunjungiku. Meskipun dengan alasan yang mungkin berbeda, namun dia selalu memenuhi permintaan itu. Sehingga terciptalah beberapa kali pertemuan dalam beberapa kunjungan.

Setiap kunjungan selalu memberi makna dan warna baru bagiku tentang kecantikannya, juga tentang hatinya yang pemurah. Kunikmati cerita-cerita yang disuguhkannya, kulengkapi tanya-tanya terbetik dengan jawabnya dan kukemasi semua penjelasan dari pertanyaan mengenai dirinya. Tapi bagiku, dia tetap seperti sebuah buku dengan halaman yang bisa aku pahami, dan baitnya bisa aku nyanyikan, namun aku tak pernah bisa untuk menyelesaikan membacanya. Entah esok di suatu hari ………… (bersambung)

Audio of  Hadiah Sang Penyair  DOWNLOAD

Sebelumnya:
SATU : Si Pungguk dan Burung Laut

Sesudahnya:
TIGA : Cerita Dalam Sepotong Cermin

Gambarnya punyanya


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI

Kisah Terkait :

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s