Monthly Archives: April 2011

Astaghfirullah, Aku Telah Membuat Isteriku Menangis


Satu ketika menjelang ulang tahun ketiga pernikahan kami, kuajak isteriku untuk mengevaluasi perjalanan cinta yang tengah kami rajut dalam bingkai perkawinan. Kami tidak punya masalah, semuanya berjalan baik-baik saja. Namun kami, terutama aku, sangat menyadari bahwa untuk menyatukan dua unsur yang berbeda ke dalam sebuah kesatuan membutuhkan usaha yang tak sedikit dari masing-masing pihak. Sebagian dari usaha itulah yang ingin kami wujudkan.

Untuk menyelami tiap-tiap pribadi yang datang dari latar belakang yang berbeda, kami menyepakati suatu cara. Masing-masing kami membuat sebuah daftar yang terdiri dari dua bagian : hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai dari pasangan. Tanpa saling mengetahui, kami harus mengisi daftar sendiri berdasarkan hal-hal yang ditemui dari keseharian. Semuanya akan kami lakukan sampai tanggal peringatan penikahan kami di tahun itu. Dimana kami akan mempertukarkan daftar yang telah dilengkapi. Dengan harapan akan membuat kami berubah menjadi diri yang lebih disukai dan memahami. Baca lebih lanjut

12 Komentar

Filed under Opini

Cerita Dalam Sepotong Cermin


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (III)

Pertemuan demi pertemuan yang terjadi antara kami telah menjelaskan kepadaku tentang arti sebuah kedekatan. Dalam waktu-waktu sebelumnya, dia bagiku tak lebih seperti seorang teman biasa dan bagaikan seorang saudara. Tapi sekarang aku merasakan suatu perasaan aneh muncul, yang lebih manis daripada kasih sayang persaudaraan. Suatu perasaan yang tidak lazim, tentang kerinduan dan rasa takut memenuhi hatiku dengan penderitaan dan kebahagiaan.

Apakah kesepian telah membutakan mataku akan kewajaran dan membuatku menginginkan keindahan matanya, senyumnya yang manis dan jemarinya yang halus? Ataukah keindahan, kemanisan dan kelembutannya yang telah membuka mataku dan memperlihatkan kepadaku akan kebahagiaan dan penderitaan cinta?

Itu adalah pertanyaan yang sukar untuk dijawab, namun hatiku berkata sejujurnya bahwa di saat aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan, ada sebentuk kasih sayang yang datang bersemayam dengan tenangnya di lubuk hatiku. Seperti roh dari cinta, kebahagiaan dan penderitaan itu, yang melayang-layang dalam dunia ciptaan di atas permukaan air.

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Kisah

Koleksi Video Porno Arifinto


Hebohnya pemberitaan media massa seputar kepergoknya Arifinto, seorang anggota DPR RI lagi menonton video tak senonoh di tablet PC-nya ketika sidang paripurna sedang berlangsung cukup mengejutkan. Adalah Muhammad Irfan, wartawan Media Indonesia yang menjepret kegiatan ekstra anggota dewan yang terhormat itu dari balkon gedung dewan.

Dalam pernyataannya Arifinto membantah telah menonton video khusus dewasa itu di tengah sidang. Menurut pengakuannya, karena sedikit bosan dengan sidang yang berlangsung monoton, dan dia membuka e-mail, lalu ketemu link yang mengarahkannya ke film tersebut, yang katanya hanya dipelototi tak lebih dari setengah menit. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Perilaku

Hadiah Sang Penyair


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (2)

Pertama kali kami berjumpa, ada selinapan kekaguman dalam batinku. Kagum akan keadaan diri yang dihadirkannya. Walau aku tak pernah tahu, apakah ini satu kenyataan ataukah hanya subyektifitas belaka.

Namun beberapa hari waktu berlalu, satu hal yang tak pernah lepas dari kesadaranku sampai kedua kalinya kami bertemu, hanyalah kecantikannya yang kuagungkan itu memang ada. Dan keakraban yang terjalin melalui sikap dan pembicaraan telah menunjukkan kepadaku sesuatu yang semakin memperbesar keagungan itu. Sehingga dari perhatian telah bisa kukatakan bahwa sesungguhnya kekagumanku padanya lebih banyak di sisi-sisi yang tak nampak daripada yang terlihat.

Ingin aku menggambarkan lebih jelas tentang dia, namun aku tak punya kemampuan untuk itu. Karena untuk memperoleh gambaran sebenarnya, kita hanya akan bisa mengerti melalui cinta dan merabanya melalui ketulusan hati. Dan bila aku berusaha melukiskan dengan untaian lisan mengenai wanita seperti dia, ia akan merupakan biasan sinar yang tak terlihat. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tuduhan Plagiat Sebagai Bagian Perseteruan Lekra-Manikebu


Oleh : Syamsuddin

Dari kemarin aku sudah tak berminat untuk menelusuri dari mana asal merebaknya isu plagiat yang dituduhkan terhadap Taufiq Ismail, penyair angkatan 66 yang sudah 58 tahun berbuat di ranah sastra itu. Mungkin saja itu hanya igauan sentimen dari orang-orang yang lebih ddasari suka dan tidak suka . Sehingga aku sudah merasa cukup dengan jawaban Taufiq Ismail yang menafikan tuduhan itu dalam postingan  Ternyata Puisi Kerendahan Hati Bukan Karya Taufiq Ismail di blog ini.

Namun ketika kubuka akun fesbuk-ku pagi ini, status pertama yang muncul di dinding adalah dari seorang teman yang mengambil nama Denai Sangdenai dengan men-share status Bramantyo Prijosusilo sebagaimana cropingan gambar di bawah ini : Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Sastra

Ternyata Puisi Kerendahan Hati Bukan Karya Taufiq Ismail


Adalah Bramantyo Prijosusilo, seorang pegiat sastra yang pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra yang menghembuskan tuduhan tindakan plagiarisme itu di akun facebooknya. Tidak tanggung-tanggung, yang dituduh sebagai plagiator tersebut adalah Taufiq Ismail, penyair angkatan 66 pemilik buku kumpulan puisi “Tirani dan Benteng”, yang selama 55 tahun terakhir telah mengukuhkan diri sebagai penyair, sastrawan dan budayawan.

Tuduhan plagiarisme itu berawal dengan sangkaan segelintir orang terhadap sebuah puisi berjudul Kerendahan Hati yang katanya karya Taufiq Ismail. Puisi tersebut mirip dengan Be the Best of What You Are karya Douglas Malloch, penyair Amerika yang lahir pada tahun 1877. Sehingga dituduhlah Taufiq Ismail telah melakukan tindak plagiat atau menjiplak puisi tersebut. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Sastra

Si Pungguk dan Burung Laut


Perempuan Cina Itu Membuatku Bahagia Sekaligus Terluka (1)

“Kita berdua bagaikan dua ekor burung. Engkau ibarat burung laut yang datang dari ufuk jauh dan hinggap di sarangku, membawa nyanyian serta cerita tentang keindahan untuk menghibur hati yang sunyi. Sedangkan aku ibarat burung pungguk yang kesepian merindukan bulan di langit tinggi.

Ketika engkau kuundang ke sarangku, kurasa gairah dan kehangatan mengalir dari dekapan kedua sayapmu. Aku sempat mengungkapkan cinta, lalu engkau kembali terbang menempuh keluasan laut, menyeberangi cakrawala mencapai pantai berpasirkan emas, daratan tempatmu dengan bebas mengepakkan sayap. Sedangkan aku tetap sebagai pungguk  di sarangku, merindukan bulan dari malam ke malam, menanti dirimu dari bulan ke bulan.”

Entah dari mana aku pernah mendengar rangkaian kata itu. Entah siapa yang telah mengucapkan kalimat-kalimat yang demikian tepat untuk menggambarkan rintihan jiwaku. Yang jelas, memang seperti itulah suara keprihatinan dan jerit tangis yang kudengar dari sudut terdalam lubuk hatiku. Kuhayati tetes kepedihan dari sayatan perasaan yang tertakik. Maka kutuliskan kisah ini dengan tinta airmata.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah