Daily Archives: 3 September 2010

Menakar Indonesia …..


“SAYA PERCAYA SEBAGIAN BESAR DARI MEREKA (TKI –admin) ADALAH ORANG-ORANG YANG MENGHARGAI APA YANG TELAH KAMI LAKUKAN UNTUK MEMBANTU MEREKA. KAMI JUGA SANGAT MENGHARGAI PELAYANAN MEREKA UNTUK MALAYSIA. BAHKAN, JIKA MEREKA KEMBALI KE INDONESIA, TIDAK ADA JAMINAN BAHWA MEREKA AKAN MENDAPATKAN PEKERJAAN DAN MEMPEROLEH PENGHASILAN.” (Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin)

Tingkah Malaysia cukup sering membuat geram Indonesia. Dan itu terjadi sejak zaman pemerintahan Soekarno pada 1963 lampau. Presiden pertama Republik Indonesia itu pernah menggagas aksi “Ganyang Malaysia”. Reaksi disuarakan Soekarno menyikapi demonstrasi anti-Indonesia di Malaysia.

Demo anti-Indonesia dipicu sikap kontra Presiden Soekarno terhadap rencana Federasi Malaysia menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak. Waktu itu Presiden Soekarno menilai rencana Federasi Malaysia melanggar perjanjian internasional konsep The Macapagal Plan. Antara lain perjanjian Manila Accord, Manila Declaration, dan Joint Statement.

Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia memasuki Sarawak dan Sabah menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan serta sabotase. Selanjutnya pada 3 Mei 1963, dalam sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Soekarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora).

Dwikora berisi dua poin. Pertama perintah untuk mempertinggi ketahanan revolusi Indonesia. Kedua perintah bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia. Saat itu Filipina tidak ikut perang, melainkan hanya memutus hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Ketegangan mereda sejak Soeharto berkuasa pada 1965. Hanya berselang setahun, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik.

Cukup keras reaksi Soekarno kala itu. Berbeda dengan sikap pemerintah Indonesia saat ini. Diplomasi menjadi jalan terbaik yang dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dibanding perang. Jalan yang diambil Presiden Yudhoyono adalah melayangkan surat kepada Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Tun Najib Razak.

Cara ini dianggap paling baik demi menjaga hubungan bilateral kedua negara. Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, pemerintah mengedepankan kemitraan, kerja sama, dan persaudaraan. Poin penting dalam surat tersebut di antaranya Presiden SBY meminta hubungan Indonesia-Malaysia diselesaikan dengan baik. Kedua negara mendorong adanya pembicaraan soal perbatasan pada pertemuan 6 September nanti.

Tak ada yang salah dengan cara pemerintah. Namun, persoalannya, sejumlah kalangan menilai ketegasan pemerintah itulah yang dibutuhkan rakyat Indonesia terhadap Malaysia. Dan ketidaktegasan itu kembali diperlihatkan Presiden Yudhoyono dalam pidatonya di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9) malam silam. Sekali lagi, SBY menekankan jalan diplomasi.

Kalangan anggota DPR menilai sikap diplomasi pemerintah Indonesia lembek. Mereka pun geram. “Bila kita siap damai, berarti berani berperang,” ujar anggota DPR Hidayat Nur Wahid. Jika perang menjadi pilihan, maka TNI Angkatan Udara pun menyatakan kesiapannya.

Penyesalan juga diungkapkan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Helmy Fauzi. Ia mengatakan, mengirim pasukan ke Malaysia lebih baik dibanding surat. “Surat itu bikin malu kita saja, sudah bikin surat, namun tidak dibaca sama sekali. Ini kan pelecehan,” imbuh Helmy.

Sikap lembek SBY diamini peneliti Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Alexandra Retno Wulan dan Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan.

Sebanyak 30 aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) bahkan bereaksi keras. Tidak puas dengan pernyataan SBY, puluhan aktivis membakar bendera Malaysia. Belum lagi aktivis Forum Jateng Bersatu yang membuka pos komando pendaftaran relawan ganyang Malaysia di Salatiga, Jawa Tengah. Puluhan relawan mendaftar.

Reaksi ini muncul karena beberapa kali Malaysia mengusik ketenangan. Mulai dari masalah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia, masalah panjang perbatasan Ambalat, dan klaim Malaysia terhadap berbagai produk Indonesia. Terakhir yang meruncing yakni insiden penangkapan terhadap pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh pemerintah Malaysia di Pulau Bintan, 13 Agustus silam.

Masalah seperti ini, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad sudah sepuluh kali terjadi. Dan sekali lagi tak ada sikap tegas dari pemerintah. Kasus penangkapan pegawai KKP akhirnya diselesaikan dengan melepaskan tujuh pencuri ikan Malaysia dan memulangkan tiga petugas KKP Indonesia.

Hal itu yang menjadi salah satu pokok yang disampaikan Pemerintah Indonesia dalam nota diplomatik, 18 Agustus silam. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, ini adalah nota kesembilan yang dikirimkan ke Pemerintah Malaysia. Delapan nota sebelumnya yang telah dikirimkan sepanjang tahun ini, juga terkait masalah perbatasan perairan kedua negara.

Saat kasus perebutan wilayah Ambalat bergolak, kapal-kapal TNI berulang kali menghadapi provokasi kapal perang Malaysia. Saat itu Departemen Luar Negeri melayangkan nota protes ke-36 kepada Malaysia.

Berkali-kali nota protes dilayangkan, tapi hasil yang diharapkan tak terwujud. Berulang kali pula terjadi Malaysia menantang Indonesia. Provokasi Malaysia seakan memancing Indonesia ke meja perundingan. Ini pula yang ditekankan SBY dalam pidatonya untuk menuntaskan perundingan batas wilayah dengan Malaysia.

Namun jangan sampai kekalahan Indonesia di meja perundingan di Mahkamah Internasional terulang. Saat itu Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia sehingga memperoleh kedaulatan atas Pulau Sipadan dan Ligitan.

Tentunya banyak “amunisi” yang harus disiapkan Indonesia di meja perundingan nanti. Soal ini Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan kesiapannya. Purnomo siap menyelesaikan masalah perbatasan yang belum selesai, baik perbatasan darat maupun laut.

Saat ini Indonesia mesti menggunakan diplomasi politik. Manfaatkan segala sumber daya dan dukungan publik. Hendaknya pula Indonesia tak terjebak dalam diplomasi politik serumpun. Semuanya tak lain bertujuan menunjukkan kuatnya kedaulatan RI di mata Malaysia.

Kekerasan sikap Soekarno patut menjadi pelajaran. Kalimat sang proklamator yang tak terlupakan, yakni: “Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat. Yoo… ayoo… kita… Ganyang… Ganyang… Malaysia….”

Sedangkan SBY melalui diplomasinya sempat menyatakan: “Kita kini menempuh politik luar negeri ke segala arah. Kita dapat mempunyai sejuta kawan, tanpa musuh.”

Dicopas dari Liputan6.com

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Internasional

Reaksi Malaysia Terhadap Postingan Blog dan Facebook Penyulut Ketegangan


Pemerintah Malaysia membentuk unit khusus untuk mencari posting-postingan internet yang dapat menyulut ketegangan rasial dan perpecahan. “Departemen akan mengumpulkan unit pelaksana yang memiliki keahlian seperti, polisi, kejaksaan, dan peradilan, untuk menyelidiki kasus tersebut,” kata Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein di Kuala Lumpur, Malaysia.

Langkah ini dilakukan menyusul ulah beberapa kelompok, seperti Federasi Mahasiswa Selangor Semenanjung Malaysia, Gagasan Pendidikan Melayu Malaysia, dan Perkasa, yang dilaporkan polisi karena menghina sensitivitas Malaysia melalu situs jejaring sosial Facebook.

Hishammuddin menambahkan, ada pihak tertentu yang ingin mengangkat isu-isu sensitif untuk menciptakan kebencian dan perpecahan di antara rakyat.

Sementara itu, Perdana Menteri Najib Razak mengatakan, masyarakat harusnya bisa mempercayai media massa sebagai pelaporan yang didasarkan pada fakta yang tidak seperti media alternatif. “Beberapa artikel yang dipublikasikan di media alternatif, seperti portal online dan blog adalah setengah kebenaran dan tidak akurat,” katanya.

Dikatakan Najib, media massa memiliki satu kekuatan yang tidak dapat ditemukan di media alternatif, karena mereka berdasarkan fakta. “Jika kita membaca media mainstream, secara intuitif kita menganggapnya sebagai laporan fakta otoritatif yang tidak bisa dipertanyakan, ” katanya di kantor Straits Times New Press.

Semua prinsipnya didasarkan pada fakta, jelas Najib, dibandingkan dengan blog yang pribadi. “Biasanya hanya menunjukkan satu orang dan berdasarkan pendapat. Harusnya ada masyarakat yang dapat melihat kekuatan media massa,” tambahnya.

Dicopas dari Liputan6.com

2 Komentar

Filed under Internasional

Ada Kehidupan di Kedalaman 700 Meter di Bawah Tanah


Penyelamatan atas 33 pekerja tambang di Chile yang terperangkap di bawah tanah sejak awal Agustus diperkirakan bisa memakan waktu hingga empat bulan. Sementara menunggu penyelamatan, mereka terus mendapat pasokan makanan dan minuman dari atas.

Selama ini, tim penyelamat melalui tiga lubang sebesar empat inci hanya bisa menyalurkan asupan nutrisi cair kepada para pekerja, yang terjebak di bawah tanah sedalam hampir 700 meter.

Tim penyelamat memasok makanan padat dan segala macam keperluan yang akan menjaga para pekerja tambang tersebut tetap sehat secara fisik dan mental. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Bencana

Daftar Nama 26 Anggota DPR Tersangka Kasus Suap


Dua puluh enam mantan anggota DPR sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap pemilihan deputi gubernur senior Bank Indonesia 2004 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kendati demikian, pengumuman yang dibacakan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto di Jakarta, Rabu (1/9), tak menyebutkan nama lengkap para tersangka.

Para tersangka penerima cek perjalanan (travellers cheque) itu adalah AHZ, MBS, PSz, BS, AZA, ACP, MM, RL, PS, WMT, MN, ARS, RK, BA, HB, DT, SU, PN, EP, MI, B, JT, NLM, SP, S, dan MP. Mereka semua mantan anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR periode 1999-2004 dari berbagai fraksi.

Hanya saja, informasi yang beredar di kalangan wartawan menyebutkan 26 tersangka itu adalah sebagai berikut :

1. Max Moein (mantan anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau F-PDIP)

2. Agus Prayitno Condro (mantan anggota F-PDIP)

3. Daniel Tandjung, (mantan anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan atau FPPP)

4. Panda Nababan, (anggota F-PDIP)

5. Pazkah Susetta, (mantan anggota Fraksi Partai Golkar dan mantan Kepala Bappenas)

6. Poltak Sitorus, (mantan anggota F-PDIP)

7. Anthony Zeidra Abidin, (mantan anggota Fraksi Partai Golkar atau F-PG)

8. Willem Tutuarima, (mantan anggota F-PDIP)

9. Ahmad Hafiz Zawawi (mantan anggota F-PG)

10. Marthin Bria Seran (mantan anggota F-PG)

11. Bobby Suhadirman (mantan anggota F-PG)

12. Rusman Lumbantoruan (mantan anggota F-PDIP)

13. Muhammad Nurlif (mantan anggota F-PG dan Anggota BPK)

14. Asep Ruchimat Sudjana (mantan anggota F-PDIP)

15. Kamarullah (mantan anggota F-PG)

16. Baharuddin Aritonang (mantan anggota F-PG/mantan anggota BPK)

17. Henky Baramuli (mantan anggota F-PG)

18. Sofyan Usman (mantan anggota F-PPP)

19. Engelina Patiasina (mantan anggota F-PDIP)

20. M Iqbal (mantan anggota F-PPP)

21. Budiningsih (mantan anggota F-PDIP)

22. Jefri Tongas (mantan anggota F-PDIP)

23. Ni Luh Mariani (mantan anggota F-PDIP)

24. Sutanti Pranoto (mantan anggota F-PDIP)

25. Soewarni (mantan anggota F-PDIP)

26. Marheos Pormes (mantan anggota F-PDIP)

Dicopas dari Liputan6.com

Tinggalkan komentar

Filed under Hukum

Kemacetan Terlama di Dunia Sepanjang 100 Kilometer


Barisan truk berjajar memanjang. Mereka masih terjebak di kemacetan terpanjang dan terlama di dunia, yang terjadi di Provinsi Hebei, Cina. Jalur cepat Cina-Tibet itu sekarang berubah menjadi ‘tempat parkir’ kendaraan paling luas. Hingga kemarin, kemacetan sudah memasuki hari ke-10. Panjang kemacetan pun sudah mencapai 100 km.

Biasanya, jalur tersebut merupakan jalur lalu lintas paling sibuk dengan raungan kendaraan yang tiada henti. Kini, yang terdengar di jalur itu hanya rengikan jangkerik. Otoritas Cina terus bekerja menyelesaikan pemeliharaan konstruksi di jalur tersebut demi lancarnya arus lalu lintas. Pemeliharaan ini sudah masuk hari ke-11, dan diperkirakan baru bisa selesai dalam 12 hari ke depan.

Pemeliharaan konstruksi ini menjadi sangat diperlukan mengingat terus bertambahkan beban jalan akibat dilalui truk-truk barubara dengan tonase tinggi. Ini terjadi setelah ditemukannya ladang batubara bervolume besar di wilayah Mongolia Dalam, provinsi Hebei. Di masa mendatang, jalur ini diperkirakan bakal menjadi jalur lalu lintas paling sibuk di dunia.

Kemacetan ini sudah terjadi sejak 14 Agustus lalu. Kendaraan hanya bisa bergerak kurang dari satu km dalam sehari. Masyarakat di sekitar kemacetan pun menjadikan fenomena tersebut jadi peluang untuk mengais rezeki. Mereka berdagang makanan dengan harga sekitar Rp 20 ribu per bungkus. “Ini bukan harga yang murah, tapi kami tak punya pilihan,” kata seorang sopir truk, Zhang Xingping, seperti dikutip Guardian.

Ribuan sopir yang banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, jalan-jalan, main kartu dan catur, menjadi pasar yang menjanjikan keuntungan bagi warga sekitar. Satu botol air mineral yang biasa dijual seharga Rp 2 ribu, kini bisa mereka jual seharga Rp 20 ribu. Biaya makanan di area macet terlama di dunia ini menjadi jauh lebih mahal dibanding makan di restoran.

Mulai tadi malam, sebenarnya lalu lintas mulai bergerak, tapi masih sangat pelan. Dan para sopir pun mulai didera kelelahan luar biasa dan rasa ngantuk. Mereka pun menyalahkan pemerintah yang tidak baik dalam mengelola sistem lalu lintas. Menurut para sopir, kemacetan berkepanjangan sering terjadi di jalur-jalur pegunungan Cina, akibat sistem yang kurang tertata baik.

Dicopas dari Republika.co.id

Tinggalkan komentar

Filed under Lalulintas