Ketika Tetanggaku Ulang Tahun


Oleh : Syamsuddin

Anda mungkin pernah punya seorang tetangga. Seorang wanita cantik, baik hati, murah senyum dan menarik perhatian. Aku  juga pernah. Tetapi  mungkin hanya satu bedanya, tetanggaku yang kelas dua di sebuah SMA itu tak pernah lagi menegurku.

Rumah kami bersebelahan, aku di atas dan dia dibawah, sesuai tekstur tanah. Halaman kami dibatasi pagar tembok yang tak begitu tinggi. Persis di sebelah pagar itu tempat dia menjemur cucian, sekaligus tempat kami saling ngobrol saat kuberada di balik pagar, yang tak bisa lagi kulakukan semenjak dia tak menegurku.

‘Perang dingin’ itu bermula semenjak Ibu-ku menjemur ikan asin di pagar samping. Sore itu aku lagi duduk-duduk sambil menghitung-hitung bekas kudis masa kecil di kakiku. Lalu kulihat seekor kucing sedang berjalan di atas pagar, ke arah ikan yang sedang terjemur. Di dekat aku duduk ada sebuah kaleng bekas, dan aku bermaksud mengusir si kucing dengan mengagetkannya. Maka kulemparkanlah kaleng bekas itu ke arah pagar. Mungkin aku melempar terlalu tinggi, sehingga kaleng itu tak mengenai pagar melainkan lewat di atasnya dan terus ke sebelah. Dan sumpah mati aku tak menyangka kalau di sana ada tetanggaku itu sedang mengangkat kain jemuran. Sehingga kalengku mendarat mulus di kepalanya. Menyisakan sebuah benjolan di sisi jidatnya yang membuatku harus kehilangan teman ngobrol.

Namun yang ingin kuceritakan kepada Anda bukanlah tentang benjolan tetanggaku, melainkan mengenai beberapa minggu kemudian saat dia akan merayakan ulangtahunnya yang ke tujuh belas. Tentu saja aku tidak diundang. Tapi semenjak kejadian tragis di samping pagar itu aku masih sering ke rumahnya, karena aku tak bermasalah dengan abang dan orangtuanya.

Maka sore itu, di saat mereka sibuk membereskan rumah untuk ‘pesta’ nanti malamnya, aku datang ke sana. Dengan satu niat baik, kalau ada yang bisa dibantu.

Sewaktu aku datang, tetanggaku itu hanya membuang muka di ruang tamu. Maka aku terus ke dapur. Di ruang tengah kulihat kue ulangtahunnya telah terletak di sebuah meja rendah. Seekor kucing sedang menaikkan kedua kaki depannya ke atas meja dan akan menggigit kue itu.

Semula ada juga pikiran jahatku untuk membiarkan saja kucing itu namun rasanya aku tak tega dan tetap ingin menunjukkan niat baik walaupun dia membenciku. Sehingga dengan refleks aku mengambil sepotong triplek yang tergeletak dekat pintu, lalu melemparkan ke lantai di dekat kue itu. Entah lemparanku yang terlalu keras atau triplek itu yang terlalu ringan, memang suara yang ditimbulkannya telah membuat kucingnya terkejut dan lari. Namun yang kulihat kemudian di atas kue telah menancap potongan triplek yang kulemparkan itu.

Aku tak tahu harus berbuat apa, ternyata niat baikku tak kesampaian, maksud hati mengusir kucing apa daya kue yang kena. Secepatnya aku mencabut triplek itu dan membuang keluar lewat jendela. Mumpung belum ada orang yang tahu, pikirku.

Memang sampai akhirnya tidak ada yang tahu apa penyebab ‘codet’ di kue tersebut. Untung saja tak ada yang tahu, seandainya kalau ada, mungkin aku tak hanya kehilangan teman ngobrol, melainkan akan kehilangan seorang tetangga.


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI
Postingan Terkait :

Tinggalkan komentar

Filed under Humor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s