Gaza : Penjara Terbesar di Dunia!


AMNESTI INTERNASIONAL : EMPAT DARI LIMA PENDUDUK GAZA DALAM KEADAAN TAK BERDAYA

Perempuan itu  membuai bayinya yang kurus di dapur rumahnya yang sempit–di mana dia tinggal bersama 21 anggota keluarga lainnya–di Gaza, kota di Palestina yang diblokade militer Israel. Menghela nafas berat, dia memandangi putri kecilnya dengan nelangsa.

Saat itu, Olfat (25) dan anaknya baru pulang dari sebuah pusat kesehatan di  wilayah Al Sabara, dekat Gaza. Ibu muda itu cemas dengan kondisi anaknya yang tak normal. Doha namanya. Usianya sudah sembilan bulan, namun berat badannya hanya setengah dari berat rata-rata bayi seusianya. Kata dokter, Doha menderita malnutrisi.

“Aku tak punya uang untuk memberinya makan. Kami tak punya uang untuk memeberi makan diri kami sendiri,” kata Olfat, dengan suara tercekat, seperti dikabarkan laman Telegraph, 6 Mei 2010.

Beberapa mil dari Gaza, tepatnya di Beit Hanoun, Iyas Al Kafarna dihantui perasaan takut. Bocah 12 tahun itu tak pernah berani melangkahkan kaki ke luar rumah. “Perbatasan dengan Israel hanya empat mil dari sini. Aku berada di wilayah tembak mereka… Aku tak mau tentara Israel menembakku,” kata Iyas.

Menurut lembaga kemanusiaan Save the Children mayoritas anak di Gaza mengalami gangguan psikis berupa rasa takut berlebihan, insomnia, dan
depresi. Sekalipun tak terlihat, tentara Israel sepeti ‘hantu’. Mayoritas penduduk Gaza selalu menutup rapat-rapat gordin jendela. Mereka merasa selalu diawasi.

Masih di kota yang sama, nestapa lain dialami Rabah, seorang bocah tujuh tahun. Trauma fisik membuat kakinya kehilangan fungsi. Tim dokter dari Slovenia menawari perawatan gratis di negara mereka. Namun, permintaan agar Rabah bisa keluar Gaza selalu ditolak Israel. Tanpa alasan.

“Rabah hanya satu dari jutaan kisah serupa yang akan kau dengar di mana pun di Gaza. Di sini, jika kau kehilangan anggota badan, menderita infeksi, atau hanya terluka karena sayatan benda tajam, itu bisa berarti malapetaka,” kata Paolo Pellegrin, fotografer yang mengabadikan kehidupan masyarakat Gaza di bawah bayang-bayang Israel.

Dilindas Buldoser
Sudah tiga tahun Israel mengurung Gaza, sejak Juni 2007, baik di darat,
udara, maupun laut. Enam pintu keluar Gaza ditutup, termasuk Raffah yang berbatasan dengan Mesir. Lapangan terbang dihancurkan, pelabuhan dan laut dikepung Angkatan Laut Israel. Sekitar 1,5 juta penduduk Gaza terkurung tak berkutik.

Israel berdalih blokade itu untuk menghukum Hamas, partai berkuasa di
Palestina setelah menang pemilu 2006. Hamas dianggap bertanggung jawab atas berbagai serangan roket ke wilayah Israel. Pemerintah Israel beralasan blokade itu diperlukan untuk menyumbat aliran senjata ke wilayah Gaza.

Hanya saja, alih-alih semata senjata, blokade Israel menghalangi pasokan apa pun. Tak peduli apakah itu makanan, keperluan rumah tangga, ataupun bahan bangunan untuk menambal rumah yang bolong dihajar misil atau buldoser Israel.

Laporan Amnesti Internasional 2010 menyebutkan empat dari lima penduduk Gaza dalam keadaan tak berdaya. Mereka hidup bergantung pada bantuan internasional.

“Yang paling menderita adalah anak-anak, orang tua, tuna wisma, dan mereka yang sakit, termasuk mereka yang perlu mendapat perawatan di luar Gaza; bukan kaum militan yang bertanggung jawab menembakkan roket ke wilayah Israel,” Amnesti Internasional menyatakan.

Lebih jauh, lembaga itu menyebutkan militer Israel bahkan menyerang rumah sakit, petugas medis, serta relawan organisasi kemanusiaan internasional. Setidaknya 15 dari 27 rumah sakit di Gaza rusak berat bahkan hancur, 30 ambulans rusak, dan 16 petugas medis tewas.

Amnesti Internasional tidak menemukan bukti bahwa Hamas atau anggota
kelompok militan bersenjata bersembunyi di rumah sakit atau memanfaatkan bangunan itu menjadi markas sebagaimana yang selalu dijadikan alasan setiap serangan Israel.

“Ratusan penduduk sipil terbunuh akibat serangan jarak jauh militer Israel
yang dilancarkan dari pesawat tempur, helikopter, atau tank yang disiagakan beberapa kilometer dari target.”

“Para korban tidak tewas di tengah pertempuran atau saat menjadi perisai kelompok militan. Mereka tewas saat sedang tidur, mengerjakan aktivitas sehari-hari, atau saat bermain. Beberapa korban sipil, termasuk anak-anak, ditembak dari jarak dekat, dalam posisi yang tidak mengancam militer Israel,” demikian tertera dalam laporan Amnesti Internasional.

Penjara-terbuka

“Tidak, Israel tidak sedang menghukum Hamas, tapi menghukum seluruh masyarakat sipil Gaza atas kesalahan yang tidak mereka lakukan,” tulis pemenang Nobel Perdamaian 1976 asal Irlandia, Mairead Maguire.

Dengan kedua matanya, Mairead melihat sendiri bagaimana porak porandanya Gaza dan derita warganya saat mengunjungi wilayah itu di tahun 2008. Mairead yang mulai renta tak tinggal diam. Pada 2009 dia mencoba menembus blokade Israel untuk mengirim bantuan, dan gagal. Tentara Israel menyerbu kapal dia dan rekan-rekannya, menahan para aktivis selama seminggu, sebelum akhirrnya mendeportasi mereka ke negara masing-masing.

Dengan lantang, Mairead menuding Israel telah melanggar hukum internasional termasuk Konvensi Jenewa. Dia juga mengecam beberapa negara dan lembaga-lembaga dunia yang mendiamkan aksi brutal itu.

“Israel mengubah Gaza menjadi penjara-terbuka terbesar di dunia. Penduduknya dikurung dari darat, laut, dan udara,” Mairead menulis.

Derita Gaza diperparah aksi-aksi militer Israel, terkhusus Operasi “Cast
Lead” sejak Desember 2008 hingga Januari 2009. Ketika itu bom dan fosfor putih dijatuhkan ke pemukiman penduduk sipil. Akibatnya, 1.400 orang tewas, termasuk lebih dari 400 anak-anak. Sisa-sisa fosfor mempolusi tanah dan meracuni penduduk Gaza. Kanker pun menyebar.

“Di mana harapan untuk mereka? Di mana cinta untuk Gaza? Komunitas internasional gagal melindungi Gaza dan tidak bersikap tegas menentang kebrutalan Israel,” kata Mairead yang kini berada di Kapal Rachel Corrie dalam perjalanan menuju Gaza.

Kapal Rachel Corrie–demikian dinamai untuk menghormati aktivis kemanusiaan AS yang tewas dilindas buldoser Israel–akan mencoba menembus Gaza, paska serangan militer Israel ke Freedom Flotilla yang menewaskan 19 relawan dan melukai puluhan lainnya.

Sebenarnya, Kapal Rachel Corrie bergabung dengan Mavi Marmara memasuki Gaza. Namun, karena ada kerusakan mesin, Kapal Rachel Corrie tidak bisa melanjutkan perjalanan. Baru saat ini Kapal Rachel Corrie kembali berlayar menuju Gaza

Toh, Mairead menulis, masyarakat Gaza adalah masyarakat yang tak pernah menyerah. “Apapun yang kulihat di Gaza hancur. Tapi penduduk yang aku temui di jalan semua tersenyum.”

Juga dengarlah analisis Fernando Rossi, politisi Italia yang mengunjungi Gaza pada 2008, “Israel menyangka Gaza akan seperti Yugoslavia. Setelah dibombardir, orang akan mengabaikan Hamas. Israel salah besar. Makin kejam mereka disiksa, makin kuat mereka.”

Amnesty International- BBC- Telegraph

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s