Serajut Kenangan yang Terjawab (1)


Rentangan jarak yang bernama waktu yang pernah kita tempuh ternyata sangat panjang. Ketika kucoba untuk menyelami rendaan masa silam yang hampir lusuh  telah membuatku seakan berada di hamparan gersang gurun tandus yang tak bertepi, sehingga membuatku bingung untuk mengawali langkahku. Aku ingin menelusuri kembali sulaman benang-benang masa lalu yang berwujud kenangan, walau aku tidak tahu harus memulai dari mana.

Yang kutahu hanyalah awal dari perjumpaan kita di Pertengahan Juli 1989, di saat aku mengikuti Orientasi dan Pengenalan Sekolah. Dimana kutemukan satu sosok yang penuh perhatian, yang tak lain adalah dirimu. Sehingga bisa menimbulkan rasa damai dikala aku ada di dekatmu, dan malah melahirkan keinginan dalam diriku untuk bisa tak berjauhan denganmu barang sekejappun.

Perasaan itulah yang telah mendorong kita untuk selalu bersama di setiap kesempatan, terutama di sekolah. Yang memungkinkan kita untuk selalu bicara tentang kita, tentang masa lalu dan juga tentang masa depan.

Sebagaimana yang masih kuingat dan masih bisa kusaksikan biasannya dalam agendaku, sewaktu dulu engkau pernah memaparkan tutur kata : “Harapanku hanyalah agar dikau rajin dalam belajar. Masa depanmu terletak pada usahamu hari ini, dan tak ada orang lain yang akan memperbaiki dirimu selain dirimu sendiri.

Dan senantiasa pegang teguhlah adat ketimuran di manapun engkau berada. Hati-hatilah dalam berbuat, jaga dirimu baik-baik. Jalan yang paling sempurna untuk menyelamatkan diri adalah membentengi hidup dengan iman dan taqwa. Di kala cahaya agama telah menyinari segenap kehidupanmu, disanalah kebahagiaan paling hakiki dan abadi akan diperoleh.

Adik-ku, ketahui dan sadarilah selalu bahwa engkau adalah seorang wanita, yang mempunyai begitu besar beban moral yang harus dipikul. Kenyataan hidup akan begitu kejam bagimu wahai adik-ku, jika engkau salah perhitungan dalam melangkah. Senantiasa ingatlah semua itu, sebab hanya itu yang dapat kupersembahkan sebagai seorang kakak. Seorang yang akan turut bahagia jika engkau berhasil dan seorang yang akan bersedih manakala kegagalan merintangimu. Karena sesungguhnya kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku jua”.

Kakak-ku, suatu rangkaian kata yang membuatku terpana. Begitu jauh kau memikirkan tentang aku. Sehingga kalimat-kalimat yang kau ucapkan itu menimbulkan kesan mendalam di batinku, yang tak bisa kulupakan sampai saat ini.

Namun ucapan itu juga kurasakan sebagai pembatas dari keinginnan yang pernah kumiliki, karena semua itu kuanggap sebagai pernyataan yang menciptakan suatu ikatan diantara kita, ikatan persaudaraan antara seorang kakak dengan adiknya. Walau sedikit berbeda dari yang kuharapkan. Tapi karena itu adalah keinginanmu, yang bisa kulakukan hanyalah menurutinya.

Karenanya semenjak saat itu aku semakin mempercayaimu, kakak-ku. Ada suatu kebanggaan karena aku merasa telah memiliki orang yang bisa menuntunku menyusuri kehidupan ini. Sehingga setiap saat aku mengeluh bagai serunai, mengungkapkan persoalan-persoalan hidup yang kuhadapi, yang tak pernah kukatakan kepada orang lain selain dirimu.

Hal itu kulakukan karena aku tahu bahwa engkau seorang kakak yang sangat menyayangiku. Dan aku semakin mempercayai anggapanku tatkala diakhir salah satu sangkalanmu terhadap gugatanku akan kepedulianmu, engkau mengatakan : “Aku bukan tak mau peduli terhadap persoalan yang menimpamu. Bukannya aku tak ingin memperhatikan dirimu. Memang bukan itu, adik-ku! Sebagai seorang kakak aku ingin membahagiakanmu, ingin melihatmu bahagia, ingin membebaskanmu dari belenggu kesepian dan himpitan keresahan, ingin mengeluarkanmu dari lorong-lorong gelap persoalan yang membuat dirimu tak tenang dan tak tenteram, sekaligus ingin membimbingmu di pelataran kedamaian. Aku sangat menyayangimu Rina, meskipun hanya rasa sayang dari seorang kakak pada adiknya. Tak pernah ada secercahpun keinginan dalam diriku untuk melihatmu dibalut derita. Karena di dalam kebahagiaanmulah akan kutemukan kebahagiaan diriku.”

Kakak-ku, ungkapan kata hatimu itu telah menumbuhkan keberanianku, beraninya aku untuk mengalahkan keinginan dan kehendak hatiku sendiri, berani untuk mengambil suatu kesimpulan bahwa engkau benar-benar saudara-ku. Sehingga aku sanggup mengatakan padamu, kalau memang engkau telah terlanjur menganggap aku sebagai adik-mu, maka aku pun akan menganggap engkau sebagai kakak-ku, seorang kakak yang mencintai dan menyayangiku. Ternyata kau pun menyetujuinya.

Tetapi sewaktu aku meminta saranmu bagaimana aku seharusnya menyikapi adanya seorang teman lelaki yang menyukaiku. Engkau tak lagi memberiku kekuatan untuk menghadapi masalah itu. Yang kudapatkan hanyalah jawabanmu : “Aku menyadari sepenuhnya posisiku sebagai seorang kakak yang seharusnya melindungimu, membahagiakanmu dan berbahagia apabila mendengar kebahagiaanmu. Aku tahu bahwa kau telah terlanjur menganggapku sebagai seorang kakak, sehingga aku tak mengharapkan apa-apa darimu.”

Satu jawaban yang tak pernah kumengerti, yang bisa kumengerti hanyalah bahwa engkau telah menjadi kakak-ku, dan aku adalah adikmu. Hanya itu yang bisa kuterima dan kuberikan. Mudah-mudahan memang tak lain yang kau inginkan. (bersambung)


Jika Anda Menyukai Cerita ini Mohon KLIK DISINI

Kisah Terkait :

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s