Daily Archives: 19 Mei 2010

Serajut Kenangan yang Terjawab (1)


Rentangan jarak yang bernama waktu yang pernah kita tempuh ternyata sangat panjang. Ketika kucoba untuk menyelami rendaan masa silam yang hampir lusuh  telah membuatku seakan berada di hamparan gersang gurun tandus yang tak bertepi, sehingga membuatku bingung untuk mengawali langkahku. Aku ingin menelusuri kembali sulaman benang-benang masa lalu yang berwujud kenangan, walau aku tidak tahu harus memulai dari mana.

Yang kutahu hanyalah awal dari perjumpaan kita di Pertengahan Juli 1989, di saat aku mengikuti Orientasi dan Pengenalan Sekolah. Dimana kutemukan satu sosok yang penuh perhatian, yang tak lain adalah dirimu. Sehingga bisa menimbulkan rasa damai dikala aku ada di dekatmu, dan malah melahirkan keinginan dalam diriku untuk bisa tak berjauhan denganmu barang sekejappun.

Perasaan itulah yang telah mendorong kita untuk selalu bersama di setiap kesempatan, terutama di sekolah. Yang memungkinkan kita untuk selalu bicara tentang kita, tentang masa lalu dan juga tentang masa depan.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Salah Orang


Oleh : Syamsuddin

Dalam suatu perkemahan keakraban Gudep Pramuka di sekolahku. Entah kenapa secara tiba-tiba aku merasa tertarik terhadap seorang peserta putri. Dia adalah seorang anggota baru dan merupakan adik kelasku. Tapi aku belum mengenalnya dan bahkan tak berani untuk langsung mendekatinya. Yang kulakukan hanya sekedar memperhatikannya dari jauh. Tak usah ditanya apa penyebab ketertarikan ini.

Dari seorang teman sesama panitia aku tahu namanya, Junia Asmira. Dan aku berpikir keras bagaimana cara menarik perhatiannya. Aku ingin untuk memberi satu kesan bagus yang bisa membuatnya dekat denganku. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Humor

SEX (II)


(TETRALOGI : PERANG MELAWAN PORNOGRAFI)

Khusus untuk perilaku pengguna Internet di Indonesia, Google Trends memaparkan sejumlah data Ternyata meskipun jumlah pengguna Internet masih terkonsentrasi di ibukota, Jakarta hanya menduduki posisi ke-5 kota dengan jumlah pencari konten dewasa dengan memasukkan kata kunci yang sangat umum, ‘sex’. Setelah Jakarta, kemudian disusul oleh Bandung. Adapun jawaranya adalah kota Semarang. kemudian Yogyakarta, Medan dan kemudian disusul Surabaya.

Jika kita mencari dengan kata kunci ‘sex’ di Google, maka akan muncul 662.000.000 situs, 568.881 video, 157.000.000 gambar dan 111.057.569 blog. Maka dapatlah terbayang, bagaimana upaya untuk menyaring informasi dari sekian banyak sumber tersebut. Apalagi jika harus dipilah antara informasi ‘sex’ yang layak untuk keperluan pendidikan kesehatan, ilmu bercinta ataupun sekedar sebagai pemuas birahi belaka

Industri pornografi bukanlah industri kacangan. Bahkan pada tahun 2006 saja, gabungan penghasilan (revenue) dari sejumlah perusahaan teknologi papan atas semisal Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo! dan Apple, tak akan mampu mengimbangi pendapatan dari bisnis pornografi dengan pemasukan mencapai lebih dari US$ 97 miliar tersebut.

Dengan perputaran uang yang besar dan persaingan yang ketat, maka industri pornografi yang diyakini sebagai industri online paling menguntungkan, kerap menjadi perintis dalam kelahiran ataupun optimalisasi atas sejumlah teknologi baru yang kemudian setelah itu diadopsi secara luas dalam dunla Internet. Sejumlah teknologi tersebut, menurut penelitian yang dilakukan terpisah oleh USA Today, Adult Video News dan Nielsen/NetRatings, terbagi atas teknologi yang berdampak positif dan negatif.

Teknologi yang positif adalah video-audio streaming, layanan berbayar video¬ on-demand, piranti lunak digital-rights management, piranti lunak geo-location (program pelacak lokasi pengguna Internet), konten tersegmentasi dan layanan konten nirkabel melalui ponsel. Adapun teknologi yang negatif, setidaknya bagi sebagian kalangan, adalah spam. Menu Pop-ad dan cookies (program pelacak aktifitas di Internet).

Bahkan dipercaya pula bahwa layanan tayangan video olahraga dan musik yang dapat dinikmati melalui ponsel saat ini adalah hasil penggodokan yang dilakukan pada industri pornografi sebelumnya. Termasuk pula teknologi yang dapat menyajikan konten dan iklan di PC atau piranti nirkabel, berdasarkan demografi dan perilaku penggunanya.

Jadi sudah sewajarnya kita mengkaji ulang, bagaimana agar sebuah teknologi yang lawas dan biasa saja, seperti piranti lunak penyaring (filter) konten, dapat berhadap- hadapan dengan para jawara penghasil teknologi konten masa depan. Ini ibarat David melawan Goliath! (bersambung)

Sumber : InternetSehat.org

Tinggalkan komentar

Filed under Umum