Kelok 44


Jika manusia mau sedikit saja belajar dari hikmah alam yang diberikan kepadanya, maka hidup ini barangkali akan lebih nyaman dilakoni. “Alam takambang jadi guru”, pepatah Minang memberi petunjuk kearifan hidup.

Artinya, alam terkembang menjadi guru. Dari alam kita dapat belajar banyak hal, bukan saja untuk hidup dalam satu ekosistem yang menyejahterakan, tetapi alam juga memberi kearifan dan kecerdasan yang luar biasa unggul. Pergi ke ranah Minang atau daerah-daerah pedalaman lain yang alamnya relatif masih belum terdera habis-habisan oleh ulah buruk manusia-apabila kita jeli mengamati-akan kita dapati begitu banyak hal yang menuntun kita kepada kecerdasan hidup yang mengagumkan.

Pekan lalu Uda Jufrie, sahabatku dari ranah Minang, mengajakku memanjati punggung Bukit Barisan melalui “jalan menunju ke langit” Kelok Ampek-ampek yang menanjak terjal-meliuk tajam dari lembah Danau Maninjau sampai ke koto (artinya dataran) atap langit Puncak Lawang di wilayah Agam-kurang lebih 25 kilometer arah barat daya Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Elok nan menakjubkan tiada dua wilayah itu. Keelokan Danau Maninjau tak kalah dari keindahan danau-danau di Luzern, Zurich, atau Geneva (Swiss) yang terkenal di seluruh dunia.

Dari arah Padang, Kelok Ampek-ampek berada di ujung lingkaran Danau Maninjau, memanjat-meliuk tajam ke kiri ke kanan menapak langit Bukit Barisan. Sebaliknya, dari arah Bukittinggi, Kelok Ampek-ampek akan meliuk terjal menuruni punggung Bukit Barisan menuju lembah Danau Maninjau yang hijau makmur bagai lembah surgawi.

Dari lembah Maninjau, jalan tembus menjulang langit yang berkelok-kelok itu disebut Kelok Ampek-ampek karena berkelok-kelok naik menikung tajam sebanyak 44 kali. Sebenarnya ada lebih dari 44 tikungan tajam di sepanjang jalan tembus langit itu, tetapi beberapa kelok tak dihitung menjadi bagian dari Kelok 44, karena tak menanjak cukup tajam seperti ke-44 kelok yang sebenarnya.

Seluruh tikungan tajam yang berada di Kelok Ampek-ampek itu bersambung terus-menerus tanpa jeda sepanjang kurang lebih 10 kilometer. Dengan lebar jalan sekitar 3 sampai 3,5 meter tanpa median atau pagar pembatas di kiri-kanan tebing curam, jalan bikinan pemerintah kolonial Belanda itu menjadi jalan tembus Maninjau-Puncak Lawang-Bukittinggi.

Di Puncak Lawang itulah konon terjadi pertemuan bersejarah antara Tuanku Imam Bonjol dan mantan Panglima Perang Pangeran Diponegoro-Pangeran Alibasyah Sentot Prawirodirjo-untuk melanjutkan perlawanan bersama menentang pemerintah kolonial Belanda.

Etika Kelok Ampek-ampek

Karena ketajaman tikungan yang terjal berkelok-kelok naik terus-menerus tanpa henti, tak semua kendaraan pribadi maupun umum berani melewati jalan tembus langit itu. Apalagi di petang dan malam hari. Di samping kabut atau hujan akan menghadang kekelaman bukit, di kiri-kanan jalan sempit bertebing curam yang ditumbuhi pohon-pohon lebat yang tinggi-tinggi itu akan juga siap menjadi terminal akhir bagi para pengemudi kendaraan bermesin yang sembrono untuk berani melewati punggung Bukit Barisan tanpa kewaspadaan tinggi dengan kualifikasi teknik sopir kelas satu.

Telah sering terjadi kecelakaan fatal di daerah Kelok 44, semata-mata karena medan yang tak gampang dan kekhilafan sopir kendaraan. Kondisi mesin, ban, rem, kopling, persneling, lampu kendaraan, pembersih kaca depan-belakang- yang tak prima-menjadi penyebab utama kecelakaan yang berujung maut. Di samping keterampilan teknik dan pengalaman mengendara, diperlukan kesigapan reaksi mental dan kebugaran kondisi tubuh yang baik untuk menembus Kelok Ampek-ampek yang menakjubkan sekaligus menakutkan.

Sedikit saja meleng, tidak waspada, atau melanggar “aturan”, maut akan siap menerima tamu Kelok 44 yang sembrono di jalan tembus langit itu. Maka bagi para pengendara di kelok maut yang menegangkan itu berlaku kesepakatan sopan santun dan aturan jalanan tak tertulis yang mutlak harus dipatuhi bersama.

Kiat aturan jalanan Kelok Ampek-ampek itu sederhana saja acuannya. Jika dua kendaraan atau lebih berpapasan, maka “aturannya” adalah karena yang datang dari bawah tak sepenuhnya bisa melihat yang datang dari atas, maka (kendaraan) yang datang dari bawah harus memberi kode kehadiran dengan membunyikan klakson berulang-ulang; sementara (kendaraan) yang datang dari atas harus stop (mutlak berhenti!) untuk memberi jalan (ruang bergerak) bagi (kendaraan) yang datang dari bawah. Jika kesepakatan dan aturan tak tertulis itu dilanggar, maka chaos akan segera terjadi, dan tebing maut adalah dendanya.

Itulah egalitarianisme mupakek (mufakat) ala Minang sebagai reaksi yang tumbuh karena kondisi alam yang harus dipahami. Kata-kata “kendaraan”, “mutlak berhenti!”, dan “ruang bergerak” sengaja ditulis dalam tanda kurung karena kita dapat belajar bahwa hikmah “aturan” tak tertulis Kelok Ampek-ampek itu sesungguhnya secara politik, sosial, dan budaya, etosnya dapat diterapkan secara umum. Yaitu bahwa “yang di atas harus memberi jalan bagi yang di bawah”. Jabarannya jelas. Yang kuat harus melindungi yang lemah, yang kaya memberi yang miskin, yang kuasa mengayomi yang tak berdaya.

Saya menamai hikmah alam Bukit Barisan itu sebagai Etika Kelok Ampek-ampek, yang implikasi spiritnya menyangkut human solidarity, sistem egalitarian dan demokrasi yang saling menghormati. Dapatkah masyarakat dan pemerintahan yang dicita-citakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil hikmah Etika Kelok Ampek-ampek? Bila tak, alam Maninjau juga dapat memberi cermin kebatilan sebagai bias hidup yang tak baik untuk dianut.

Sumber : Forum Indonesiana

Foto : Bukan oleh Andukot


Iklan

3 Komentar

Filed under Pariwisata

3 responses to “Kelok 44

  1. foto bukan oleh andukot… karena andukot yang di foto hahahahaaa…

  2. beberapa daerah memiliki budaya yang sama tentang aturan seperti kelok 44, umumnya aturan budaya di buat oleh alam dengan buah pikiran orang bijak yang perduli akan kepentingan dan kemaslahatan banyak pihak yang utama. kalau pemimpin kita masih menghargai adanya aturan tak tertulis tersebut, alhamdulillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s