Monthly Archives: April 2010

Tentang Aku


TENTANG AKU

(Buat Pembaca, Sang Rembulan Kalbu)

Andaikan terbayang bagimu wahai pembacaku,

kalau aku seorang yang bahagia,

mungkin itu hanya kesalahan dalam sangka.

Walau setiap kata-kataku membuatmu tersenyum

dan setiap keinginanku membuatmu tertawa,

namun disudut lain yang tak kau dengar,

sesungguhnya lara itupun pernah ada.

Mungkin nanti di satu ketika,

sempatnya aku bercerita,

akan kuurai bagi mu semua rahasia,

dalam bentuk duka dan nestapa.

Yang akan membuatmu

harus berkata dalam tanya :

“(Kala engkau bertutur kepadaku

dengan kata terindah

yang bisa kau ucapkan lewat bibirmu,

namun kenapa tetap hanya kepedihan

yang terungkap dalam baitmu?)”

Sebenarnya tak ada yang salah dengan hal itu, Pembacaku.

Sebab boleh dan bisa saja

penderitaan itu terucap dengan indah.

Karena kadang-kadang kepedihan-kepedihanmu

adalah obat paling manjur untuk menyembuhkan

semua penyakit yang ada dihati dan perasaanmu!

Tetapi andaikan begini kata kudengar :

(Tidakkah semua yang kau berikan

hanyalah suatu harapan?

Harapan yang di suatu saat

bisa melambungkanku menggapai langit

namun yang sebelum kumenyadarinya

telah kembali menghunjamkanku jauh ke dasar bumi?)

Yang ku bisa hanya sarankan kepadamu :

“Teruslah melangkah di pelataran harapan wahai rembulanku,

sebab harapan akan lebih berarti dibanding pemenuhan.

Kala semua harapan telah terpenuhi,

hanya keletihan yang membalut jiwa,

yang akan membuatmu tak berdaya,

menjelang datangnya sebuah harapan baru.”

(Rasanya yang kumiliki hanyalah penantian,

penantian yang tak akan pernah mengenal titik akhirnya.

Kapankah penantian itu akan larut dalam penyaksian,

wahai Jiwa yang tak nyata?

Saat kita merengkuh segala keindahan

dalam pesona rupa raga kita?)

Andaikan itu yang engkau damba,

memang tak kan sanggupnya aku berbuat,

selain hanya seuntai kata untuk jawaban :

“Keindahanmu dan keindahanku

bak puisi wahai rembulanku,

dapat dirasakan namun tak bisa disaksikan.

Bersebab itulah aku lebih suka

berada dalam perasaan

dan tiada dalam penyaksian,

sebab penyaksian itu

sementara dan punya batasan.

Hanya yang kita rasakan tanpa nyatalah

yang bisa melampaui dimensi tak berhingga.

Sebagaimana aku merasakan keindahanmu!”

Engkau tunggulah kehadiranku di lain waktu,

meski hanya berupa kata tergurat,

namun semua itulah tentang aku,

yang selama ini belum pernah engkau tahu.

April 2010


Iklan

4 Komentar

Filed under Puisi-ku

West Sumatera’s Tourism


Sunset at Carocok's Beach

Tambua Tasa

Wedding Dress

Cottage in Harau Valley

Sunset in Carocok Beach

Sunset in Carocok Beach

Tinggalkan komentar

Filed under Foto

Ulang Tahun di Rumah Sakit


Oleh : Syamsuddin

Peristiwa ini terjadi sewaktu aku tinggal di sebuah asrama pelajar di Jogjakarta. Hari itu tanggal 5 September 1991, aku pulang ke asrama sekitar pukul delapan malam. Ketika masuk, secara tiba-tiba seorang kawan ‘menangkap’ku dari belakang, dan kulihat beberapa orang lagi mengejar ke arahku. Aku langsung mengerti gelagat mereka, dan aku ingat kalau di fotocopy kartu identitas yang dikumpulkan pengurus asrama, tanggal lahirku 5 September. Dan memang sudah menjadi kebiasaan di asrama itu, bagi yang ulang tahun akan diceburkan ke kolam taman. Dengan satu sentakkan aku berhasil melepaskan diri, dan lari ke halaman lewat pintu samping, dan semua teman-teman mengejarku. Maka terjadilah kejar-kejaran yang seru.

Aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk berlari sambil sesekali berkelit mengelakkan tangkapan mereka, sampai akhirnya aku tak tahu apa-apa lagi……………

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Humor

Lembah Harau dan Legendanya


Harau Valley, West Sumatera

Lembah Harau adalah objek wisata alam andalan di Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Lembah Harau suatu lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Berada ± 138 Km dari Padang ± dan 47 Km dari Bukittinggi dan sekitar ± 18 Km dari Kota Payakumbuh dan ±2 Km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. Dilingkungi batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter.

Sejak lama lembah Harau banyak dikunjungi wisatawan terutama pengunjung domestik dari daerah Riau, Sumut dan Jambi. Topografi Cagar Alam Harau adalah berbukit-bukit dan bergelombang. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang.

Memasuki lembah harau, mata akan dimanjakan suasana alam pengunungan yang luar biasa apalagi dengan pemandangan 5 buah air terjun ( sarasah ) yang sangat besar dengan ketinggian ± 100 meter yang. Luar biasa indah seperti cerita di dalam sorga yang dilalui oleh empat buah sungai yang jernih.
Lembah Harau sangat terkenal, dan dipercaya oleh penduduk setempat apabila turun pelangi maka para bidadari turun dari kayangan untuk mandi-mandi di keempat sarah tersebut ( sarah aie luluih, sarasah bunta, sarasah murai dan sarasah aka barayun ). Bahkan pada tahun 2008 lalu, kabarnya , kamera HP milik seorang mahasiswa yang sedang berwisata ke lembah Harau pernah menangkap gambar rombongan bidadari mandi berbaju putih dan coklat, melayang di air terjun. Saat ini foto tersebut tersimpan pada kamera HP para pedagang disekitar air terjun sarasah bunta.

Asal Usul Nama Harau
Pada awalnya nama Harau berasal dari kata “Orau”. Penduduk asal tinggal di atas Bukit Jambu, dikarenakan daerah tempat tinggal penduduk tersebut sering banjir dan Bukit Jambu juga sering runtuh yang menimbulkan kegaduhan dan kepanikan penduduk setempat sehingga penduduk sering berteriak histeris akibat runtuhnya Bukit Jambu tersebut dan menimbulkan suara “parau” bagi penduduk yang sering berteriak histeris tersebut. Dengan ciri-ciri suara penduduk yang banyak “parau” didengar oleh masyarakat sekitarnya maka daerah tersebut dinamakan “orau” dan kemudian berubah nama menjadi Arau, sampai akhirnya menjadi Harau.

Prasasti Lembah Harau
Menurut prasati yang masih terdapat di sekitar air terjun Sarasah Bunta, areal ini mulai dibuka tanggal 14 Agustus 1926 oleh Assisten Residen Lima Puluh Kota yang bernama J.H.G Boissevain, dengan E. Rinner bernama B.O.Werken bersama Tuanku Lareh Sarilamak yang bernama Rasyad Dt. Kuniang nan Hitam dan assisten Demang yang bernama Janaid Dt. Kodo Nan Hitam.

Untuk pertama kalinya Assisten Residen terpesona, kaget dan terkesima sembari berdecak kagum untuk melantunkan rasa kagum dan tiada taranya melihat keadaan alam Lembah “orau” sambil berdecak “Hemel,hemel…….(Indah, mempesona seperti sorga) dalam bahasa Belanda.

Dengan terkesimanya Assisten Residen tersebut terhadap keindahan lembah sempit yang diapit oleh terjalnya bukit batu di kiri kanannya maka dibuatlah prasasti dari batu marmar yang dipahatkan pada salah satu dinding sarasahnya yakni “Sarasah Bunta” pada tanggal 14 Agustus 1926, sehingga sejak waktu tersebut terkenallaah lembah sempit tersebut sampai ke Negara Belanda dengan nama “Hemel Arau” (Sorga Arau) dan kemudian disingkat dengan Harau.

Kemudian diterbitkan Besluitnya oleh Pemerintah Belanda (waktu itu) pada tanggal 19 Januari 1933 Nomor 15 Stbl Nomor 24 dengan status Cagar Alam di Bidang Biologis dan Aesthestis seluas 315 Ha ,kemudian dilakukan pengukuran ulang oleh Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) pada tahun 1979 dengan luas defenitif dilapangan adalah 298 Ha,) . Selanjutnya status Cagar Alam sebagian arealnya diubah menjadi Hutan Wisata yang diperuntukkan bagi taman wisata alam dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor : 478 / Kpts /Um / 8 / 1979, tanggal 2 Agustus 1979 ,tentang perubahan statusnya menjadi taman wisata seluas 27,5 Ha.

Dengan demikian status Lembah Harau selain cagar alam juga sebagian berstatus taman wisata. Berbagai sarana pertamanan, kupel, tempat duduk, jalan setapak, tempat bermain anak-anak, taman satwa, sepeda air, Mushalla, WC dan lapangan parkir serta dilengkapi dengan kios-kios souvenir, dan makanan/minuman dan sebagainya yang telah dibangun di objek wisata ini bagi kemudahan dan kenikmatan pengunjung.

Berbagai jenis tanaman dan binatang ada di sini. Monyet ekor panjang (Macaca fascirulatis) bisa dilihat di sini. Ada pula siamang (Hylobatessyndactylus), dan simpai (Presbytis melalopos).Hewan yang juag dilindungi di sini adalah harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), beruang (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus indicus), kambing hutan (Capriconis sumatrensis), dan landak (Proechidna bruijnii). Ada 19 spesies burung yang juga dilindungi. Di antaranya, burung kuau (Argusianus argus) dan enggang (Anthrococeros sp).

Potensi Lembah Harau

Saiful juga menjelaskan , pada kawasan Objek wisata Lembah Harau ini terdiri dari 3 (tiga) kawasan : Resort Aka Barayu, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo Piobang . Pada resort Aka Barayun yang memiliki keindahan air terjun yang mempunyai kolam renang, yang memberikan nuansa alam yang asri juga berpotensi untuk pengembangan olah raga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang terjal dan juga mempunyai lokasi yang bias memantulkan suara (echo). Disini juga terdapat fasiltas penginapan berupa homestay yang bisa dimanfaatkan wisatawan yang ingin menginap lengkap dengan fasilitasnya. Konon Sarasah Aka Barayun dari legenda dalam masyarakat yang berada di sekitarnya Cagar Alam Lembah Harau dulunya adalah Laut.

Diceritakan batu-batuan yang terdapat di sini adalah sejenis batu yang biasanya terdapat di dasar laut. Diantaranya dua dinding batu yang terjal, tergantung pada sebuah akar yang pada saat pasang naik terbenam dan waktu pasang surut Nampak di atas air tergantung dan berayun-ayun ditiup angin.
Resort Sarasah Bunta terletak disebelah timur Aka Barayun, memeliki 4( empat) air terjun (sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan sarasah Aie Angek ) dengan telaga dan pemandangan yang indah seperti ; Sarasah Aie Luluih, dimana pada sarasah ini air yang mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri, dari cerita dari orang tua-tua dulu, ada kepercayaan mandi atau membasuh muka di sarasah aie luluih dapat mengobati jerawat dan muka akan terlihat cantik dan awet muda. Sarasah Bunta dimana sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi apabila terpancar sinar matahari siang sehingga dinamakan “Sarasah Bunta” . Sarasah Murai , pada sarasah ini sering pada siangnya burung murai mandi sambil memadu kasih sehingga masyarakat menamakan “Sarasah Murai “.dan apabila mandi di bawah air terjun kedua sarasah ini, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa , lekas mendapat jodoh bagi yang belum menikah.

Pada Sarasah Aie Angek belum banyak dikunjungi wisatawan, airnya agak panas berada arah keutara dari “Sarasah Murai”.Pada Resort Rimbo Piobang sampai akhir tahun 2008 belum berkembang karena direncanakan untuk Taman Safari.

Legenda Puti Sari Banilai
Alkisah, waktu dulu berlayarlah seorang Raja Hindustan bernama Maulana Kari dengan permaisurinya Sari Banun untuk merayakan pertunangan anaknya bernama Sari Banilai dengan Bujang Juaro. Puti Sari Banilai ikut bersama orang tuannya. Sebelum berlayar, kedua anak muda tersebut telah bersumpah, kalau Sari banilai mengingkari janji pertunangan tersebut, ia akan menjadi batu dan sebaliknya kalau Bujang Juaro yang ingkar, ia akan menjadi ular naga.

Tanpa sadar kapal mereka terbawa arus dan hanyut terjepit di Lembah Harau di antara dua bukit batu terjal serta ditahan akar kayu yang melintang di antara kedua bukit tersebut. Agar kapal tidak hanyut, sang raja menambatkannya pada sebuah batu yang terdapat di sana. Batu tersebut sampai sekarang masih bernama Batu Tambatan Kapal/perahu.
Dengan persetujuan Rajo Darah Putiah yang berkuasa pada waktu itu di Lembah Harau maka Raja Maulana Kari beserta keluarganya diizinkan untuk tinggal menetap.

Karena sudah tidak mungkin lagi kembali ke negerinnya mereka putuskan untuk menetap di sana. Raja Maulana Kari tidak mengetahui sumpah putrinya, mengawinkan Puti Sari Banilai dengan seorang pemuda di daerah tersebut yang bernama “Rambun Pade”. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki yang gagah. Raja Maulana Kari dan istrinya sangat saying pada cucunya ini sehingga apapun permintaannya dipenuhi.

Tersebutlah suatu ketika sang raja membuatkan mainan untuk cucunya ini sehingga ia setiap hari asyik dengan mainannya itu. Pada suatu hari mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Sang cucu memanggil ibunya untuk mengambilkan mainan tersebut. Lalu si ibu melompat ke dalam laut untuk mengambilkannya, namun mainan itu hanyut tidak di temukan lagi. Pada saat itu datanglah ombak yang mendorong Sari Banilai sampai ke tepi dan terjepit di antara dua buah batu. Pada saat itu Puti Sari Banilai memohon agar air laut itu surut dan kering.

Lambat laun dari kaki Puti Sari Banilai mulai menjadi batu. Saat itulah teringat akan sumpahnya dan sebelum keseluruhan badannya menjadi batu, ia memohon kepada tuhan agar perlengkapan rumah tangganya dibawakan dan diletakkan di dekat ia terjepit.

Di lembah Harau pada dinding terjal di sebelah kiri (dekat echo) sayup-sayup Nampak sebuah batu seakan-akan berbentuk seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, hamparan tikar dan sebuah batu yang berbentuk lumbung padi.
Demikianlah legenda Lemba Harau. Legenda ini masih hidup dalam masyarakat, dalam cerita randai yang bernama “Randai sari Banilai” salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat di sana.

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lima Puluh Kota


Tinggalkan komentar

Filed under Pariwisata

Malam


Tak adil-lah anggapan

yang menjadikan

Malam mewakili penderitaan

Walau kebahagiaan adalah sinar

Sebagaimana cinta juga cahaya

Dan yang membatasi

rasa bahagia

Adalah kesuraman

Kegelapan dan kematian

Tapi

Dengan berakhirnya benderang siang

di sudut ufuk

Menyerahnya kemilau biasan mentari

di kaki malam

Tidak mengawali deraan kepedihan

Tidak berlanjutnya lilitan kesengsaraan

di kesunyian yang melarut

Karena,

Bukankah di lingkupan

kegelapan malam

Terlahirnya sajak-sajak paling indah

Dari bibir para penyair?

Bukankah di senyapnya

suara malam

Membangkitkan hasrat

Untuk ekspresikan bahana cinta

Yang membahagiakan?

Bukankah suasana malam

Telah hasilkan

Sejuta mimpi-mimpi indah?

Mimpi memang bukan kenyataan

Namun keindahan

Adalah simbol kebahagiaan

Tanjungpinang, 1999

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi-ku