Tuduhan Plagiat Sebagai Bagian Perseteruan Lekra-Manikebu


Oleh : Syamsuddin

Dari kemarin aku sudah tak berminat untuk menelusuri dari mana asal merebaknya isu plagiat yang dituduhkan terhadap Taufiq Ismail, penyair angkatan 66 yang sudah 58 tahun berbuat di ranah sastra itu. Mungkin saja itu hanya igauan sentimen dari orang-orang yang lebih ddasari suka dan tidak suka . Sehingga aku sudah merasa cukup dengan jawaban Taufiq Ismail yang menafikan tuduhan itu dalam postingan  Ternyata Puisi Kerendahan Hati Bukan Karya Taufiq Ismail di blog ini.

Namun ketika kubuka akun fesbuk-ku pagi ini, status pertama yang muncul di dinding adalah dari seorang teman yang mengambil nama Denai Sangdenai dengan men-share status Bramantyo Prijosusilo sebagaimana cropingan gambar di bawah ini :

1301846607606256001

Status fesbuk dimana bola salju tuduhan plagiat itu mulai digulirkan, pada hari kelima kehadirannya telah disesaki sebanyak 129 komentar dan 51 orang menyukainya (komentar-komentar selengkapnya terlampir di bagian bawah tulisan ini).  Iseng-iseng kubaca beberapa komentar, yang memang cukup memerihkan jika kita mencoba berdiri disisi orang yang dituduh. Sekaligus memperjelas bahwa sebagian besar yang memberi komentar terhadap status itu adalah orang-orang yang nyata-nyata berseberangan pendapat dengan Taufiq Ismail. Bahkan beberapa orang tampak berusaha untuk menggiring pembahasan ke masalah klasik ranah sastra mutakhir tanah air : perseteruan Lekra – Manikebu. Sebuah sikap dengan pola berpikir yang khas Indonesia.

Dimana disatu pihak sastrawan-sastrawan muda yang memiliki dendam warisan juga merasa ditekan ketika orang-orang yang didukung berada dibawah tekanan. Maka mereka selalu berupaya untuk mencari celah yang bisa menjatuhkan pihak-pihak yang dianggap lawan. Itulah yang dilakukan terhadap sosok Taufiq Ismail, memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pembunuhan karakter dengan sebuah fakta yang coba disesuaikan dengan logika.

Opini yang berkembang dalam pergunjingan yang dilabeli ‘diskusi’ oleh para pesertanya ini, pada akhirnya mencapai titik seimbang dengan hadirnya beberapa orang yang mumpuni untuk memberikan penjelasan, diantaranya Fadli Zon seorang politikus yang juga Ketua Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail Berkarya Tahun 2008.

Sebagai seorang yang bukan pegiat sastra apalagi sastrawan, aku tak bisa punya pendapat yang memihak dalam hal ini. Karena menurutku, tidak ada sastra beraliran Lekra ataupun yang beraliran Manikebu di Indonesia, sastra ya sastra! Yang ada itu hanyalah pribadi sastrawan yang diistilahkan berhaluan kiri dan dulu pernah dekat dengan ideologi kekuasaan, yang mungkin saja dulu itu berbuat semena-mena terhadap sastrawan lain yang dianggap memiliki ideologi berbeda. Sehingga ketika terjadi pergantian kekuasaan, maka berubah pulalah kelompok yang tertekan menjadi penekan, Satu hal yang akan senantiasa berulang jika kesempatan memihak pada mereka.

Anak-anak muda yang dibesarkan selama 32 tahun dalam rezim Orba yang represif, mencoba untuk melakukan penentangan dengan memuja hal-hal yang dinegasikan oleh penguasa. Sehingga tak heran para aktivis kampus dalam kurun waktu 90-an akan senang jika memiliki gambar palu arit di dinding kamarnya, padahal jelas-jelas dia bukan penganut paham komunis. Aku pun yang dulu aktif sebagai filatelis atau kolektor prangko, merasa sangat senang ketika mendapatkan prangko Uni Sovyet yang bergambar palu arit.

Ketika para anak muda ini telah menceburkan diri ke dunia nyata dan beberapa diantaranya eksis di dunia sastra, maka secara otomatis mereka menjadi pengikut kelompok bentukan alamiah ideologi politik, terutama yang berada di bawah tekanan. Karena pada umumnya idealisme seseorang selalu akan berpihak kepada yang kalah dan tertindas.

Pertarungan ini akan terjadi sepanjang zaman, jika tidak ada perubahan dalam irama yang mewacanai gagasannya. Jika kelompok yang menyatakan diri sebagai sastrawan Lekra tengah mengupayakan suatu kebangkitan dengan mencoba menenggelamkan kelompok lain, tentu pada gilirannya akan terjadi hal yang sama. Makanya suatu jalan yang menurutku layak dicoba, ketika anda tengah mewujudkan eksistensi di bidang sastra dan kebudayaan, berbuat dan berkaryalah, apapun jenis karya anda, tanpa harus melabeli diri dengan sebutan Lekra atau Manikebu, tetapi hanya murni sastra, maka anda akan hidup untuk selamanya.

Tulisan ini juga dipublikasikan di Kompasiana

Gambarnya punyanya

Lampiran :

Bramantyo Prijosusilo

Khabarkan kepada dunia, penyair jahat Taufiq Ismail yang suka menekan-nekan seniman muda dengan cara-cara selintutan, adalah plagiator tuna-budaya.
30 March at 07:34

Tole Aribowo Hahahaha….tuduhan ini perlu dibahas benar tidaknya

Nurhidayat Poso Si taupik yg kalo baca puisi suka mewek, nangis itu..hi..hi.. Masa sih ?

Bramantyo Prijosusilo Ini satu sajak yang dijiplak mentah tanpa ngaku oleh Taufiq Ismail, menjadi salah satu sajak terbaik dia:

If you can’t be a pine on the top of the hill,

Be a scrub in the valley — but be

The best little scrub by the side of the rill;

Be a bush if you can’t be a tree.
…If you can’t be a bush be a bit of the grass,

And some highway happier make;

If you can’t be a muskie then just be a bass —

But the liveliest bass in the lake!
We can’t all be captains, we’ve got to be crew,

There’s something for all of us here,

There’s big work to do, and there’s lesser to do,

And the task you must do is the near.
If you can’t be a highway then just be a trail,

If you can’t be the sun be a star;

It isn’t by size that you win or you fail —

Be the best of whatever you are!
by Douglas Malloch

Hotma Gameniac Puisi Douglas ini dia terjemahin sebagai apa judulnya?

Odji Lirungan Hahahaha sudah kuduga…! Kalo baca puisi bergaya sok nangis2 (sok penjiwaan)………hahahah lucu juga tuh..

Bramantyo Prijosusilo Dia jiplak jadi berjudul “Kerendahan Hati” dan jiplakan ini merupakan salah satu “karya” terbaiknya. Biasa, seniman jahat yang suka menekan-nekan seniman lain yang lebih kreatif, umumnya nggembol tai.

Bramantyo Prijosusilo

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau
…Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..

Hotma Gameniac Terjemahan nih…!!! Payah plagiator gini kok bisa ngetop?

Bramantyo Prijosusilo Aku gak sukanya dengan dia karena, dendamnya terhadap LEKRA dan upayanya mengerahkan Kelompok Salah Paham untuk menyerang penulis muda macam Ayu Utami yang dicemoohnya sebagai ‘sastra selangkangan’ … Diskusi soal Bumi Tarung yang dihadiri Om Hardi kemarin di HB Jassin, juga dia upayakan gagal, karena sirik.

Nurhidayat Poso Waduh, payah juga nih. Emang suruh tobat aja tuh jadi penyair yang suka mewek, pantesnya jadi ustadz di kampung aja. Aku jadi kaget baca tulisan Martin Adela, soal main telikung itu.

Odji Lirungan Apalagi lagaknya SOK SUCI, SOK SENIMAN BESAR, sok sensitif sandiwara ‘air mata buaya’…….hahahahaha…..lucunya padahal cuma PLAGIATOR………

Sang Hardi Kaget saya ..baca syair pak Douglas Malloch.

Bramantyo Prijosusilo Sohibmu kuwi piye to Om, mbok dikandani aja sok mbebengek seniman liyane, pada-pada golek pangan je …

Asy Ngomong Begini
‎: ..Mungkin lirik salah satu lagu kami ketika masih di band “Undetected Grim Duties” (1997) cocok buatnya..

” BANGSAT OKNUM SENI “

omongmu tinggi,

gak ada bukti,

mengaku hebat,

…ternyata bangsat !!

..kicaumu, akumu, senimu.. matamu !!

Odji Lirungan Saya maluuuuu…………..,kalo Taufik Ismail org Jepang,mgk skr uda bunuh diri……..ngeeeeek….matilah tukang contek……………kukira dulu dia seniman…..

Bramantyo Prijosusilo Karena dia orang Endhonesha, pasti ngaku didzolimi seniman neo-LEKRA hahaha …

Odji Lirungan Mungkin saja sambil nangis-nangis ngakunya, dan nama kita ikut dibawa-bawa,…….

Mahatma Anto Sesuai anjuran, maka saya sebar luaskan berita ini agar diketahui banyak khalayak… : Kamsiah den!

Bramantyo Prijosusilo Penggemar sastra selangkangan dan karya seniman Lekra, fight back!

Nina Suminar Oo..gitu toh, zaman sekarang ustadz-ustadz lagi turun daun karena kelakuannya…emang dah mau kiamat…

Maximinus Purnomo Padi semakin berisi akan semakin menunduk..lha kog TI soyo tuwo seko epyek ro nggatheli ngono yo kang Bram?

Nova Wirawan Padahal puisine apik..jebule mak busss..padahal kalau merendahkan hati mengaku bahwa itu karya saduran, toh tak ada sesuatu yang hilang….originalitas dalam karya memang DNA yo, Mas….coba nek ngene apa kita tidak berpikiran jelek…jangan-jangan karyanya yang lain juga…

Bramantyo Prijosusilo ‎Nova Wirawan, aku juga mikir begitu, masak nyolong cuma satu? Namun sesungguhnya dia bukan penyair kok, nggak pernah menemukan diksinya sendiri … karena miskinnya kita saja dia dapat tempat.

Kuss Indarto Kalau karya-karya Chairil Anwar diduga mirip, bahkan ada yg menyadur karya Garcia Lorca, ini kok malah parah? Pak TI atau anak buah setianya suruh komentar jal…

Bramantyo Prijosusilo

Kuss Indarto, Chairil Anwar nggak ada urusan dengan Lorca, yang menyadur beberapa baris dan ungkapan dari Lorca itu Rendra tapi gak ada yang mentah-mentah ditelan seperti TI ini. Chairil yang pernah menjiplak dan menyadur, misalnya sajak “Fragmen” “D…ara” dan yang paling terkenal “Kerawang Bekasi” … namun Chairil tidak sok moralis, motivasinya honorarium, tegas! Dan juga, jiplakannya lebih baik daripada aslinya. Rendra sendiri gak pernah komentar jelas tentang tuduhan Subagio Sastrowardoyo bahwa dia menjiplak Lorca namun kalau kita teliti, jiplakannya hanya sedikit dan selanjutnya dia menemukan diksi sendiri … TI ini sok moralis … jadi beda aku menilainya.

Nova Wirawan Maturnuwun, Mas Bram…sedikit pencerahan tentang Chairil dan Lorca…wes ora ngganjel meneh….TI pernah menggempur PAT dalam polemik kebudayaan itu apa bukan??

Bramantyo Prijosusilo Betul, TI ini, setelah PAT keluar dari Buru dan sudah menerbitkan karya-karyatama tetraloginya, lalu mendapat hadiah Magsaysay, diserang oleh TI habis-habisan lewat buku jelek yang berjudul “Prahara Budaya” yang menampilkan diri TI sebagai pahlawan.

Dadang Christanto TI si antek Orba-lah yang paling getol kampanye mendukung pemberangusan buku oleh Kejagung “Lekra Tidak Pernah Membakar Buku” karya: Rhoma Dwi Aria Yuliantari/Muhidin M Dahlan.

Odji Lirungan Mas Bram, bila anda ada foto copy keduanya, sebagai pembanding, akan di copy 1000 exemplar…..di bagi-bagi di TIM, dan terutama di PDS HB Jassin………….. maka berakhirlah……karier orang yg dikira seniman besar tersebut…………..

Odji Lirungan Kecurangan seniman sungguh memuakkan……………apalagi kalau orangnya sok suci dan arogan……..huhhhhhhh…

Antonius Made Tony Supriatma Bram, nggak percaya saya sama mata saya melihat ini. Dulunya, saya kira dia itu kayak PKS, suci murni bersih karena itu saya anggap fair dan adil waktu dia menggempur PAT … Kalo nggak salah, setelah Orde Babiru tumbang, TI juga mempelopori penggempuran terhadap sastrawati yang sering disebut “Sastra Wangi” itu. Gempurannya sangat sexist.

Odji Lirungan ‎@Antonius MTS : sastra wangi di gempur sastra BUSUK…….hahahahaha sekarang ketauan bau busuk……nya…….apa perlu disebar di TIM ?????? Karena di TIM si plagiator itu seperti Nabi……………

Antonius Made Tony Supriatma Saya sudah dapat dua sajak ini. Akan saya pasang di “Notes’ saya …

Odji Lirungan Mas di seni lukis juga banyak yg begini…………bahkan sangaaaaat, seperti Cobra, Basquiat, Kontemporer Cina dan lain-lain….habis-habisan ditiru………………

Odji Lirungan Dan kalau ada yang kritis……akan dimusuhin ramai-ramai………., tanya Mas Hardi aja………lucu ya…………

Whanny Darmawan Taufik Ngismangil yang konon ngislamiyah itu po Bram? Yang kalo ngelihat tato di tubuh orang lain langsung istifhfar itu pow?

Bramantyo Prijosusilo Betul Whan …

Macan Wigit Mungkin TI nggak menyangka kalau akan ada internet jadi anak-anak muda bisa mencari aslinya. Atau lebih parah, dia nggak menyangka kalau generasi di bawahnya ada yang akan peduli dan/atau punya wawasan dengan puisi-puisi yang lebih tua. Dipikirnya kita bodoh mungkin.

Matt Budairy Ooo begitu ternyata .. hebat sampai sejeli itu Mas Bram..

Macan Wigit By the way, “beringin” ini metafore buat menjilat yang kuning-kuning nggak sih? Kayaknya di puncak bukit jarang ada beringin.

Odji Lirungan ‎@Macan Wingit : Ahhhh bisa jadi…..wah makin didalami…..makin busuk…….seperti bangkai aja………..

Cuplis Hendro Biasanya seniman itu egaliter, lintas agama, bahasa, etnis dan golongan ….

Joss Wibisono Bram kuwi dijiplakanè kok wèlik bianget jo. Luwih apikan asliné. Pantjèn sing ndjiplak gedibal Bram (buruhé buruh). TI gedibal ki kan ånå loro bendarané: modhal asing karo laler idjo sing isané mung matèni lan mulasårå rakjaté dhéwé. Sak iki kétoké tambah sidji menèh. Geguritan tjolongan kuwi malah dhèknèné negeské jèn pantjèn gedibal.

Bramantyo Prijosusilo Taupik Ngimangil senengane sok Ngislamiyah :

Odji Lirungan Lantas taupik ini sudah beberapa kali terima penghargaan….gimana tuh……apa diambil lagi ?????……….Kasian deh………jd culun……..

Soe Tjen Marching Dia dari dulu sudah bikin aku sebel, Bram. Sekarang pakai njiplak lagi. Wah, parah!!!

Odji Lirungan Apa kira-kira Taupik mau mengaku kalau menjiplak ???

Bramantyo Prijosusilo

Soe Tjen Marching, Menjiplaknya bukan baru sekarang lho, sajak “Kerendahan Hati” ini banyak dikutip dan didakwahkan ke mana-mana oleh penggemarnya. Seseorang memberitau aku bahwa dia menjiplak dan karena aku sebel dengan kelakuan dia menggencet-ngencet LEKRA, bahkan terakhir orang-orang eks Bumi Tarung yang sudah sepuh-sepuh juga mau dikerjainnya … jadi kuumumkan sebisaku bahwa muka pantat satu ini memang otak kurap. Odji Lirungan, aku nggak tahu, mungkin ada yang bisa mediasi ke dia supaya dia punya kesempatan memperkecil kemaluannya?

Chandrasa Sedyaleksana Saya copas ke wall saya ya Mas

Jewelian Fogones Jebule ngono…menunggu batas 13 tahun

Muhammad Amin Tak bagekke Mas Bram..

Soe Tjen Marching Kucopas juga ya Bram!

Odji Lirungan Mas coba tanya mas Hardi…..

Odji Lirungan Tapi aku berani taruhan: TI takkan mengaku, pengakuan menjiplak bagi seniman imposible, lebih mudah mendapat pengakuan koruptor……………

Suatmadji Dwijawidarsa TI itu pernah ketemu saya tahun 81-an ketika masih memimpin LPKJ…dulu di Jakarta saya sangat menghormati (dia) ketika itu membawa mahasiswa saya sekitar kampus LPKJ membaca puisi dan menyemangati yg muda…ee lama-lama kok makin tua kok koyo anggota Front Pembela ya…apa makin tua senimannya luntur….toleransi dengan yg bukan seiman…dg seniman muda lalu kurang dan sirna…..?

Bramantyo Prijosusilo Ngurusi TI, Om Hardi ketiban sarwa pekewuh, kukira.

Odji Lirungan Nggaklahtadi udah ngobrol sama aku……..tapi mending Mas Hardi ngomong lagi…………..

Sang Hardi Waaaah aku dipancing ben komentarrrr hahaha ….sudah saya usut …itu memang puisi TI . tapi TI ndak tahu kalau ada puisi Pak Douglas Malloch… kalau ditelisik memang itu terjemahan persis …nyaris kayak kata-kata mutiara . puisi Douglas itu di bukunya apa? Barangkali bisa download kalau sumbernya jelas ..

Odji Lirungan Dan TI tidak mengakui………..

Bramantyo Prijosusilo Douglas Malloch bukan hanya penyair Amerika yang cukup terkenal dia juga seorang Freemanson dan banyak sajaknya soal Masonry! Wah! TI bisa kehilangan wibawa di kalangan Kelompok Salah Paham kalo ketahuan menjiplak sajak Freemason! http://www.masonic-poets-society.com/Malloch.htm … dan kalau dia bilang tak tahu ada sajak ini ya betul-betul artinya menjiplak … Plagiat.

Sang Hardi Freemason kan Yahudi …? Hahaha …top itu .

Fadli Zon

Mas Hardi dan kawan-kawan. Saya perlu sedikit komentar. Saya kebetulan Ketua Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail berkarya tahun 2008. Kami terbitkan 4 buku besar karya-karya Taufiq Ismail (TI) “Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit”. Buku pertama adalah buku puisi setebal 1076 halaman. Itu semua adalah kumpulan puisi TI dari tahun 1953-2008. Setelah saya periksa tak ada puisi “Kerendahan Hati.” Setahu saya TI memang menerjemahkan juga puisi 160 penyair Amerika yang dikumpulkan dalam “Rerumputan Dedaunan” yang belum diterbitkan. Paling banyak puisi Walt Whitman. Tapi puisi Malloch tak pernah diklaim puisi TI. Jika ada referensi mohon bisa ditunjukkan di buku mana TI mengaku puisi itu adalah miliknya. Puisi Malloch itu paling sering dikutip oleh Martin Luther King (MLK) dalam pidato-pidatonya. Malah orang menyebutnya puisi itu karya MLK.

Bramantyo Prijosusilo

Bung Fadli Zon, perkara ini sudah cukup lama beredar di internet, (http://www.jendelasastra.com/karya/puisi/kerendahan-hati-puisi-oleh-taufik-ismail) dan kalau saya tak salah memahami posting Om Hardi di atas, Taufiq Ismail sudah mengakui puisi ini miliknya. Menilik banyaknya laman di internet yang menyebut “Kerendahan Hati” ini karya dia, serta pengakuan dia ke Om Hardi, saya kira cukup kuatlah dugaan PLAGIATOR dicanangkan…Apalagi mengingat sepak terjang TI penuh dendam benci terhadap LEKRA dan penilaian sok moralis terhadap satrawan muda yang lebih kreatif darinya: Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu dan sejenis mereka…maka biasanya berlaku pepatah Jawa moyok nemplok gething nyanding. Laporan Martin Aleida tentang kelakuan dia berusaha menggagalkan diskusi Bumi Tarung di PDS HB Jassin kemarin juga bikin eneg.

Odji Lirungan Oke……rasanya soal ini mungkin layak di gelar di publik….di gedung HB Jassin, dengan semua fakta dikumpulkan, dan TI diundang serta beberapa tokoh sastra yg kompeten….. Agar semua masalah kelar tuntas, tiada isu-isu……..dan menjadi “JELAS”

Fadli Zon Judul puisi Malloch itu adalah “Be the Best of Whaever You Are.”

Bramantyo PrijosusiloFadli Zon, Anda benar :http://www.masonic-poets-society.com/Malloch.htm

Bramantyo Prijosusilo Setuju dengan Om Odji Lirungan, sebaiknya dibikin jelas oleh yang bersangkutan. Taufiq Ismail ditanya apa tidak ingin dijajarkan dengan Chairil Anwar sebagai penyair besar? Om Hardi dan Bung Fadli Zon sangat bisa memediasi bila berkenan. Kalau nggak, gosip ini semangkin seru saja.

Odji Lirungan Apa kira-kira TI mau bersedia bila masalah ini di gelar agar jelas….

Bramantyo Prijosusilo Tergantung, kalau yang ngajak politisi handal dan seniman berwibawa, dia nggak bisa nolak … tapi bisa juga dia keluarkan jurus Nunun Nurbaeti.

Fadli Zon

Bung Bramantyo, barusan saya telpon TI, menyampaikan masalah ini. Jawabannya, ia tak pernah mengklaim puisi “Kerendahan Hati.” Ia juga sedang cari di file, sementara belum ada. Di kumpulan karya terjemahan “Rerumputan Dedaunan” juga tak ada puisi tersebut. Jadi TI belum tahu puisinya yang mana. Ia mengatakan rasanya pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan SBSB atau MMAS di sekolah-sekolah. Kalau itu puisi terbaiknya, tentu ada di buku yang saya terbitkan. Di internet, tak ada data yang jelas. Bahkan penulisan namanya pun salah Taufik bukan Taufiq. Mungkin ada info atau sumber yang lebih tajam, yang menyatakan bahwa TI memang menulis puisi itu? Kalau tidak ada, polemik ini menjadi pepesan kosong.

Fadli Zon Kalau soal LEKRA atau pergulatan ideologi di masa lalu, tentu masing-masing boleh berbeda pendapat. Argumentasinya pun akan panjang. Siapa korban, siapa pelaku, pasti saling klaim. Dalam karya seni, kita bisa punya selera dan penghargaan sendiri. Saya termasuk pengagum karya Amrus Natalsya dan Misbach Tamrin. Disamping karya Sang Hardi yang saya koleksi dari beberapa tahun lalu.

Bramantyo Prijosusilo Mungkin laman ini lebih genah : http://pluzone.com/puisi/category/taufiq-ismail/page/2 … Ejaan namanya paling tidak betul, dan sekilas nampaknya laman ini cukup sahih.

Fadli Zon Bung Bramantyo, saya sudah search di dunia maya dan belum ketemu sumber yang sahih soal klaim puisi Taufiq Ismail itu. Kelihatannya ada orang yang mem-posting puisi dan menulisnya karya Taufik Ismail. Kemudian dikutip di sana sini. Biasalah salah paham. Puisi “Tuhan” yang dinyanyikan Bimbo juga sering orang tulis karya TI, tapi beberapa kali TI mengoreksi bahwa itu karya Sam Bimbo. Kecuali ada sumber lain yang solid dan jelas, baru kita bisa lanjutkan diskusi ini.

Fadli Zon Saya sudah baca : http://pluzone.com/puisi/category/taufiq-ismail/page/2 …. Tidak jelas sumbernya atau siapa yang mengirimkannya.

Fadli Zon Mungkin ada artikel, atau buku yang pernah menuliskan ini? Saya sudah susuri semua buku puisi TI, tak ada puisi ini. Juga tak ada di majalah-majalah atau koran yang memuat puisi.

Bramantyo Prijosusilo

Itu link yang kelihatannya paling sahih, paling nggak ejaan namanya betul dan sajak-sajak lain di sana sekilas juga tampaknya betul. Kalau waktu TI dikonfirmasi Om Hardi mengakui sajak ini miliknya, cukup jelas duduk soalnya. Kutipan komen …Om Hardi di atas : “waaaah aku dipancing ben komentarrrr hahaha ….sudah saya usut …itu memang puisi TI . tapi TI ndak tahu kalau ada puisi pak douglas malloch… kalau ditelisik memang itu terjemahan persis …nyaris kayak kata2 mutiara . puisi doglas itu di bukunya apa ? brkli bisa download kalau sumbernya jelas ..” … Apakah Om Hardi mengatakan itu memang puisi TI berdasarkan omongan TI ? Di situ mungkin bisa lebih jelas, apakah perkara ini jelas ataukah tidak …

Fadli Zon

Infonya Mas Hardi tadi dari saya ketika ditelpon. Mungkin saya yang kurang tepat menyampaikannya. Karena infonya belum utuh. Saya telpon TI di tengah rapat, selintas saja, karena saya juga belum buka FB diskusi ini. Juga belum tahu isi puisinya, dan seterusnya. Setelah saya bacakan puisinya, itulah jawaban TI di atas. Juga TI mencek di file puisi-puisinya. Untuk diketahui semua puisi TI sudah didata dengan baik untuk keperluan buku yang saya Ketua Panitianya. Kemudian seluruh puisi TI sudah diterjemahkan oleh almarhum Prof Amin Sweeney ke dalam bahasa Inggris. Terjemahan berikutnya oleh seorang penyair lain ke dalam bahasa Arab. Dari database itu tak diketemukan puisi “Kerendahan Hati”. Puisi-puisi terjemahan itu akan diterbitkan dalam waktu dekat tahun ini.

Fadli Zon Juga di kumpulan karya terjemahan “Rerumputan Dedaunan” ternyata tak ada Douglas Malloch. Tadinya saya menduga, karya Malloch ini diambil dari bagian karya terjemahan. Ternyata tak ada juga. Jadi bagaimana dong, kalau sumbernya saja tidak jelas?

Bramantyo Prijosusilo Belum jelas. Saya sedang menghubungi laman yang saya link di atas nanya mereka dapat sajak itu dari mana. Tidur dulu ya … selamat malam.

Muhammad Amin http://khairilanwar.wordpress.com/2007/09/25/taufik-ismail-kerendahan-hati/ ini web dari tahun 2007 dan semua orang bilang ini karyanya Taufik Ismail. kalau Taufik Ismail jujur, seharusnya dia dari dulu bilang ini bukan karyanya….

Fadli Zon ‎@Muhammad Amin: saya juga sudah baca tadi. Tetap saja pengirimnya tak jelas dan sumbernya dari mana tidak jelas. Siapapun bisa posting apa saja dengan cara itu.

Muhammad Amin Sebenarnya kalau memang plagiat, mending mengaku saja. Toh sebagian besar karyanya kan nggak plagiat, tapi ya mbok jangan menekan-nekan sastra progresif. Kalau pun nggak plagiat, segera konfirmasi dengan menunjukkan semua buku-bukunya dan membuktikan kalau memang nggak plagiat. Ini menyangkut tokoh sastra yang dijadikan panutan, jadi kejujuran adalah emas disini.

Fadli Zon Wah kalau itu dua hal berbeda. Tuduhan plagiat adalah tuduhan serius dan bisa menjadi kematian perdata bagi penulis. Oleh karena itu harus dibuktikan dimana plagiatnya. Dan ini tak ada hubungannya dengan sastra progresif. Mari kita fokus pada tuduhan yang serius itu. Benarkah TI melakukan plagiat?

Muhammad Amin Nah, berhubung Mas Fadli Zon dekat dengan TI, coba tanya langsung saja subuh ini. Ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda dan sastrawan, tentang sikap ksatria dan jujur dalam hal apapun. Plagiat memang masalah serius, tapi bukan berarti kematian seorang sastrawan, sekali lagi karena sebagian besar karyanya bukan hasil plagiat. Semoga TI bisa jujur menjawabnya….

Fadli Zon

Saya pernah membongkar kasus plagiat yang dilakukan seorang intelektual UI tahun 1997 sehingga batal menjadi profesor selama 10 tahun lebih. Dulu ramai polemik di koran. Sampai ada pengadilan akademik dipimpin oleh rektor UI. Dan terbukti adanya plagiat itu. Nah apakah kawan-kawan yang menuduh plagiat ini berani meneruskan ke ranah publik yang lebih luas. Jika memang punya bukti kuat, kenapa tak diluncurkan saja? Sampai saat ini saya yakin 100% dalam hal berkarya, TI jujur. Soal sikap kesenian dan kebudayaan, tentu bisa berbeda-beda. Zamannya kan juga berbeda.

Muhammad Amin

Yang aneh bagi saya adalah puisi ini sudah cukup lama tersebar dan diakui publik sebagai karya TI. Seharusnya TI menyangkalnya dari dulu (dengan asumsi dia tahu). Kalaupun tidak tahu, sekarang kan dia tahu, jadi lebih baik segera konfirmasi. Beban… pembuktian bagi yg menuduh dia plagiat memang juga harus ditagih, tapi butuh waktu kan menelusuri karyanya satu persatu, jalan yang lebih singkat adalah konfirmasi dari TI sendiri. Nah Mas Fadli Zon memfasilitasi dong. Kalau ternyata mengaku plagiat, selesai perkara. kalau tidak, ya yang menuduh punya tanggung jawab membuktikan lebih jauh. Win-win solution kan.

Fadli Zon Jawaban TI tadi sudah ada di atas. Saya saja sebagai Ketua Panitia 55 Tahun TI berkarya tidak pernah tahu karya TI itu. Tidak pernah dengar juga TI membacakannya. Padahal hampir di setiap pembacaan puisi TI saya selalu hadir. Demikian pula tak ada di buku kumpulan puisinya yang 1076 halaman itu. Untuk konfirmasi lengkapnya besok Kamis saya kirimkan print out thread diskusi ini kepada TI.

Fadli Zon Bukankah di dalam hukum kita, yang menuduh yang harus membuktikan?

Muhammad Amin OK, mantab Mas. Walaupun sastra saya bukan sastra religius, tapi saya sering baca karya-karya TI, Asma Nadia, dan sebagainya . Pertarungan sastra harus tetap terjadi ke depannya, asal jangan saling anihilisasi. Dan sepakat, pihak penuduh memang harus membuktikan, walaupun butuh waktu untuk meneliti satu persatu bukunya TI. Saya coba hubungi KITLV Leiden dan semoga semua bukunya ada disana. Teman-teman yang di Indonesia harus cek juga di Gramedia atau Perpustakaan Nasional. Mas Fadli ada semua bukunya nggak? Kasih saja ke temen-teman di Indonesia biar diteliti.

Fadli Zon Baik. Kalau ada yang perlu akses buku puisi TI saya lengkap. Saya punya perpustakaan yang kini bukunya sudah hampir 50.000 buah. Saya kumpulkan karya-karya sastra Indonesia dari abad 19, masih aslinya termasuk cetakan pertama Balai Pustaka sejak 1917 dan Pujangga Baru. Saya punya lengkap Panji Pustaka aslinya juga. Jadi kalau hanya puisi TI dari tahun 1950-an sampai sekarang, mudah sekalilah mencarinya. Saya juga punya majalah lama Siasat, Sastra, Mimbar Indonesia, Horison dari No. 1 hingga kini, dan lain-lain. Lumayan lengkap.

Sang Hardi

Dari awal saya tak yakin kalau TI sengaja memplagiat ….hanya untuk sebuah puisi ….karena saya kenal beliau serta dedikasinya .lepas dari setuju atau tidak atas sikap yng diambil terhadap Lekra dan lain-lain, masing-masing orang boleh punya sikap.. diskusi di HB Jasin yang lalu dimana saya sebagai pembicara, juga bukan diskusi serius dan berbobot,  penyelenggara asal-asalan, waktu molor 1 jam, eks Lekra yng sukses justru dipelihara kapitalis untuk beli lukisannya. Malah Mas Pekik harganya 1 M, dengan bangga. di paper saya yang diminta Panitia (tanpa diberi honor), juga saya lontarkan kritik…..tak lebih dari nostaldia (walaupun mengharukan )..tanya saja Mas Odji Lirungan, betapa kecewa saya …seringkali kita menilai orang dari prasangka prasangka …dan ingin menang sendiri ..gitu komentarku

Bambang Eko Susilo Ya ya ya.. orang awam kayak saya sudah mampu nilai dari rangkaian komentar di atas; mana asbun, mana asplak..

Fadli Zon Tadi Pak TI datang ke perpustakaan saya, dan mengkonfirmasi langsung bahwa puisi itu bukan karya TI. Jadi sudah cukup jelas.

Aziz Abdul Ngashim Saya minta ijin copas diskusi ini sebagai “Catatan” dan bisa jadi lembar tertulis jika nanti ada perdebatan lagi. Semoga diijinkan.

Sang Hardi

Saya di kalangan seni dikenal tidak pernah memberikan gratis setiap penghinaan…… (karena itu saya banyak dibenci kaum yang sinis) tadi saya bertemu Mas TI sebelum talkshow di TVRI …tokoh sepuh 70 tahun lebih, telah melewati berbagai onak kehidupan … saya percaya beliau seniman 24 karat . rumah puisi di Bukittinggi yang disemai, sudah menjadikan ribuan bocah-bocah SD, SMP, SMA cinta sastra dan seni …..saya menyaksikan sendiri peristiwa apresiasi … hajatan yng dilakukan para Facebooker menurutku sangat keterlaluan …. bila saya TI pasti aku tuntut di meja hukum …

Fadjroel Rachman Saya menyimak dengan hangat diskusi ini bung Hardi, Fadli Zon dan Bramantyo. Trims atas informasinya yang menarik. GBU

Moh. Arifin Purwakananta

Saya masih ingat pertemuan saya di Perpustakaan Fadli Zon, dikenalkan kepada Pak Hardi yg saya hormati, juga Pak Taufiq Ismail bersama juga teman teman lain, saat itu Pak Taufiq Ismail ceritakan tentang rumah puisinya di Sumatera Barat, menawarkan dapat di…kerjasamakan dengan Dompet Dhuafa (dan saya sangat berminat, semoga lekas bisa bertemu follow up ini)….saya lihat beliau sangat tulus, berjuang menumbuhkan tunas tunas kelembutan, generasi pujangga pembawa kabar keindahan masa depan Indonesia….ketika Pak Taufiq Ismail dihujat, saya makin kagum ketika SMS pribadinya dijembrengkan bak SK Presiden dan dianggap tirani bagi semangat muda berapi api, juga kekaguman (pada) beliau (yang telah) menahan diri untuk melawan hujatan dari sahabat-sahabat muda….semuanya makin membuat saya hormat kepada Pak Taufiq Ismail..terima kasih Bung Fadli Zon dan Pak Hardi mau mengklarifikasi ini…..

Aziz Abdul Ngashim Saya kira kita mendapat kesimpulan dari diskusi ini.

Fadli Zon Iya, dalam waktu dekat TI akan buat pernyataan, mungkin diikuti langkah hukum. Saya kira dengan begini kebenaran akan lebih jelas.

Fadli Zon Kebetulan TI besok ke Sumatera Barat ke Rumah Puisi. Saya juga Sabtu ada acara Seminar PDRI di Bukittinggi. Saya akan sampaikan permintaan konfirmasi langsung dan langkah-langkah lanjutnya.

Slamet Amex Thohari

Aku cuma mau tanya, tahun 2010 puisi itu di Youtube kan, dan puisi itu juga banyak beredar sudah lama dengan nama TI. Masak TI nggak tahu?

Misal ada orang mengatakan ini tulisanku atau tidak, pasti aku dengan cepat mendeteksi oh ya itu tulisan…ku. Nah, kok selama ini pak TI tidak tahu karya itu dipakai pakai nama dia (kalau memang itu bukan karya dia) kan bisa dari dulu bilang itu bukan karya dia, dan bagaimana bisa orang meyakini itu karya dia, bahkan sampai bertahun-tahun? kalau itu dirancang oleh seseorang untuk menjatuhkan Pak TI masak rancangan didesain lama gitu, bertahun-tahun, nggak rasional. Mudah-mudahan tetap cepat clear dan terjadi dialog yang baik. GBU

Bramantyo Prijosusilo Sepertinya sedikitnya sejak akhir tahun 80-an sajak ini diatributkan kepada TI, anak ITB yang kuliah tahun segitu mengatakan ini puisi TI yang paling disukainya. Jadi sebelum internet … namun, kalau kita searching internet, patut diduga pula ini terjemahan / saduran Soe Hok Gie. Menanyainya nggak mungkin lagi.

Fuad Riyadi Masalah seperti ini cukup diselesaikan dengan konfirmasi dan maaf- memaafkan, tidak perlu dibawa ke ranah hukum, masih terlalu banyak persoalan bangsa yang mendesak untuk diselesaikan. Saya kenal Pak TI, jadi saya yakin Beliau memiliki persediaan maaf seluas Samudera Hindia.

Patah Ansori Satu hal yang, apa boleh buat, harus diklarifikasi juga oleh TI adalah perihal ketidaktahuannya atas beredarnya puisi ‘Kerendahan Hati’ atas namanya, tentunya tidak cukup hanya dengan pernyataan bahwa Taufik beda dengan Taufiq…

Bambang Eko Susilo

Perlu diketahui juga, bahwa “Kerendahan Hati” itu salah satu bahan perenungan yg dibacakan pada apel pagi di hadapan 100an lebih siswa pendidikan dasar sebuah perhimpunan pendaki gunung penempuh rimba tertua yg dimiliki bangsa ini, dan itu dilakukan sejak 1970-an hingga terakhir tahun 2010 lalu.

Pada halaman buku materi latihan pokoknya pun dilampirkan pula bait-bait “Kerendahan Hati” tanpa tulisan “Taufik Ismail” di bawahnya.

Hikmah spiritual dari puisi ‘jiplakan’ ini tentu dirasakan dan terekam dengan baik oleh pribadi-pribadi yang saat ini sibuk melakukan kegiatan pendataan puncak-puncak sepanjang pegunungan Bukit Barisan Sumatera dan pemuncakan tujuh puncak benua, yang saya yakin itu mereka lakukan untuk Indonesianya, bukan untuk ketinggian dirinya ataupun Taufik Ismail sekalipun.

Maaf, saya nggak akrab atau kenal dekat dengan Taufik Ismail atau Taufiq Ismail, tapi, bila memang benar beliau yang ‘menjiplak’nya, mohon sampaikan ucapan terima kasih pada beliau, karena telah mengajarkan, terutama saya, tentang kerendahan hati lewat puisinya Douglas Malloch. yang bila tak ‘dijiplak’, pembacaan kalimatnya pasti sedikit asing bagi telinga di pagi hari…

Bramantyo Prijosusilo Kalau masalah tuduhan yang salah ini hendak diselesaikan secara hukum dan aku dipersalahkan, aku menerima dengan lapang dada. Aku betul-betul salah dalam hal ini, membiarkan rasa sebel pada TI menjauhkan dari ketelitian dan mengaburkan pikiran jernihku. Ibarat orang bersilat keburu nafsu lalu terbanting, itu biasa, justru merupakan pengalaman dan pelajaran berharga buatku.

………………………..

Des Alwi Mungkin perlu dibuat status baru yang berisi : “Khabarkan kepada dunia, bahwa telah terjadi tuduhan jahat tidak berdasar terhadap penyair Taufiq Ismail.”

Bamby Cahyadi Pak TI… kok bungkam?

Ferry Herlambang Zanzad Syukurlah ada tuduhan dan argumen yg berimbang. Diskusi yang sangat bermutu dan mencerahkan. Lebih bagus membaca percakapan dua arah ini, bukan sekedar lemparan artikel dan kemudian komentar rasan-rasan. Maturnuwun Mas Bram, Mas Hardi dan Mas Fadli Zon…

Fadlun Ramadhany Full ‎@Bamby, baca dulu lah jangan langsung buat komentar “Pak TI kok bungkam”, semua sudah ada penjelasan, termasuk yang PENGECUT yang hanya berani koar-koar di awal tiba-tiba hilang ketika ada penjelasan dari sumber langsung,, ckckckc,,

Bamby Cahyadi Pak Taufik harus cepat klarifikasi, jangan diam jadi PENGECUT! Jangan lewat Fadli Zon untuk klarifikasi.

Syahri Mahmud Kebencian memang akan lebih sering menuju jurang kehancuran…
menyedihkan nasib orang-orang yang berucap…berucap tanpa kata, kecuali kata kebencian.

Faradina Izdhihary Senang membaca diskusi ini. Mohon share ya Bapak.

Mahfud Alie Haidar Manan Sudah jelas faktanya. sudahlah. saling memaafkan. toh semua sudah terlihat. kita saudara. aku merasa pernah bertemu, dan aku punya cara sendiri buat membuat simpulan.ku sendiri. allahumma sholli ala muhammad.

Faradina Izdhihary Ali….. kau tahu, aku menangis tersedu tiap kali membaca tuduhan plagiasi ini. Aku menghormati Pak TI sepenuh hati. Banyak puisinya menginspirasi batinku secara reliji maupun cinta tanah air. Rasanya sangat terlukaaaa

Meski begitu kita harus menghentikan ini. Aku bahkan tidak komentar, tidak membahasnya dengan siapapun, atau coba share dengan siapapun, ibu. tidak ada ksempurnaan hati manusia. Aku bahkan tidak memihak. semoga semua bisa membaik. Sakit hati tak membuat puisi mati.

Dodi Rukmana Kartadinata Buat saya TI bukan hanya seorang satrawan tapi juga ustadz yang menyebarkan kebenaran Islam …..

Muhammad Rain

Hari-hari ke depan ini, saya dapat lebih tertarik dengan kehadiran karya sastra yang menyatukan, yang membuat pembaca tergetar oleh kehadirannya sebagai sastra murni tanpa embel-embel divisi mana pun. Mungkin selain saya, banyak pencinta sastra (muda) yang menunggu karya baru, tak soal apa (itu) dari si tua atau si muda.

Berpikir tentang kemudahan menyatukan, bukankah orang harus keluar dari polemik sakit hati, dendam membuat kiamat datang lebih lekas. Saya kepingin sekali sastra diurus oleh tangan ahli yang berhati lurus.

Tapi entah mengapa terbersit pula di hati… Sastra ‘yang sudah ada sejak dulu malah mulai ompong’. Bisanya menilai dengan apa yang ada di masanya.

Jalan baru makin terbentang: semoga jalan itu jalan untuk semua, jalan terbuka memandang bahasa bukan semacam citra belaka, tapi bahasa sebagai komunikasi nurani sesungguhnya.

Orang-orang baru dalam sastra yang berbaur dengan orang lama yang terbuka menerima masa depan sastra kita. Meski pahit tetapi yang berbicara adalah waktu dan lekas ‘alot’ namun kebenaran tidak. Seni berubah bukan saja oleh pekaryanya, tapi juga oleh tuntutan jamannya. JAMAN BARU.

Saya hormati segala suara di sini. Terima kasih.

Syofiardi Bachyul Jb Kesimpulan lain dari diskusi ini : hati-hatilah mengeluarkan komentar di Facebook, bersumber pada blog dan situs tak beralamat, Youtube, dan situs lain yang membebaskan siapa saja mengentri data. Kita tidak bisa meminta pertanggungjawaban kepada sumber yang tidak bertanggung jawab.

Bramantyo Prijosusilo Betul Pak.

Fidel Majid Sajak sajaknya Sobron Aidit lebih bagus yang juga seniman Lekra yang terpaksa terbuang dari negerinya sendiri…Taufiq Is tengil juga tuh, yang berkomplot dengan Bambang Sudibyo dan Abdurahman Saleh …untuk memasukan kata PKI lagi dalam G 30 S dalam buku pelajaran sekolah padahal sudah di hapus….sebagai korban diskrimanasi era Orde Baru saya sangat sakit hati…. LEKRA ayo maju bangun l….



Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI


Artikel Lainnya :

Ada Dana Abadi Untuk Indonesia Senilai Rp. 9 Triliun
Ada Kehidupan di Kedalaman 700 Meter di Bawah Tanah
Ada Rokok Seharga Rp. 200 Ribu Perbatang Beredar!
Adolf Hitler Keturunan Yahudi!
Agus Widjojo : Kerja Kodim dan Koramil Tidak Ada
Angelina Sondakh : Seks Harus Masuk ……
Anggota Paskibraka Putri Berjalan Telanjang Dari Barak
Ani Yudhoyono Calon Presiden 2014
Artis Porno Asal Norwegia Membela Artis Porno Asal Indonesia
Awas, Ada Sniper di Jembatan Suramadu
Bakteri dan Belatung Pun Tak Suka Mayat Perokok
Benarkah 500 Juta Pengguna Facebook Adalah Para Narsis?
Benarkah Frenbook Itu Pesaing Facebook?
Benda-benda Serba Emas Dari Afrika Selatan di Bagi-bagikan
Berapa Kali Anda Sanggup Menikah dalam Setahun? Mereka……
Berapakah Harga Sebuah Keperawanan?
Brazil Kalahkan Belanda Lewat Penalti
Daftar 10 Besar Negara Pemilik Akun Facebook
Daftar Juara Piala Dunia Sepanjang Masa
Daftar Nama 26 Anggota DPR Tersangka Kasus Suap
Daftar Negara-negara yang Akan Tumbang Sesudah Mesir
Dengan Membayar Rp. 376 Juta, Anda Akan Hidup Selamanya!
Dijual Foto-foto Persalinan Wulan Guritno
Doa Buat Timnas …..
Download “World’s Fastest 3D Car Film”
Dua Pelaku Video Porno Ariel Ternyata Bukan Mirip Luna Maya dan Cut Tari
Emma Watson Topless di Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I
Final Terbrutal Sepanjang Masa
Foto Bugil PM Italia dengan Seorang Gadis Belia dalam Sebuah Pesta Seks
Foto Pasha Menikahi Adelia
Foto Pernikahan Bintang Meteor Garden Barbie Hsu
Foto Telanjang Calon Miss Universe
Foto-foto dari Medan Perang: Fotografer Wanita Asal Amerika Diperkosa Pasukan Pro Gaddafi
Gaji Guru Masih di Bawah UMP
Gaji Guru Paling Rendah Rp 2.654.000 Pada Tahun 2011
Game Online Dilarang!
Gara-gara Macet, Ibukota RI Akan Pindah ke Indonesia Timur
Gara-gara Menyimpan Foto Telanjang Seorang Imam Asal Mesir Dipenjara
Hanya Ada di Libya, Kepala Demonstran Seharga Rp. 106.476.000,-
Hari Kedua Puasa, Penyidik Bareng Ariel Menonton Video Porno Cut Tari
Holland Wereldkampioen 2010 (Belanda Juara Dunia 2010)
Idul Adha 1431 H Mental di Indonesia
Indonesia Akan Segera Punya Nuklir
Indonesia Menuju Piala Dunia FIFA!
Ingin Nonton Film Miyabi Dengan Ariel Peterpan?
Inilah 463 Peta Lokasi Harta Karun Dari Kapal Karam di Indonesia
Inilah Kelebihan Frenbook Dibanding Facebook
Jadi Bintang Iklan Kondom Tak Perlu Ijazah
Jelang Ramadhan, HHUGS Cari Dana untuk Bantu Keluarga Muslim
Jika Pabrik Komputer Jadi Pabrik Sepeda
Jika Pencuri Gagap Teknologi
Johan Cruyff dan Paul Octopus Sependapat, Belanda Kalah!
Justin Bieber Terbunuh Ditembak Polisi
Kekerasan Seksual dan Gereja
Kemacetan Terlama di Dunia Sepanjang 100 Kilometer
Kemungkinan Salah Klik, Munculkan Situs Porno di Web DPR
‘Keong Racun’ Mulai Merambah Luar Angkasa
Kesejahteraan Telah Dinikmati Hampir 0,0000027% Warga Indonesia, Semuanya Perwira Polisi!
Kiamat 2012 Sungguh Akan Terjadi di Palestina
Lagu Dangdut Jadi Hit Dunia Maya
Libya Kena Sanksi DK PBB, Qadafi Mengganti Namanya Menjadi Zayed
Lowongan Kerja Baru : Dibutuhkan Penerjemah Kode Rahasia
Lowongan, Dibutuhkan 4,07 Juta Orang……
Mahalnya Sebuah Silaturahmi
Malaysia Kembali Lecehkan Indonesia
Mantan Pengacara Keluarga Cendana Siap Gagalkan Reformasi
Manusia Akan Punah
Manusia Tertua Itu Ada di Provinsi Riau
Mau Banjir Trafik Tanpa Usaha? Tunggu Serangan DDos
Menakar Indonesia …..
Mengenal si Khadafi, Pemandu Revolusi Tanpa Urat Takut yang Suka Ngawur
Mentawai, Jaya dan Sengsara Karena Ombak
Meragukan Keampuhan Twitter
Mereka Menentang Pembangunan Masjid
Muladi : Ancaman Munarman Gulingkan SBY Boleh dan Tidak Melanggar
Negara Zionis Asia Tenggara Itu Bernama Malaysia!
Novel-novel Erotis Untuk iPad
Orang Indonesia Korban Apartheid di District Six
Pasukan Elite TNI Dikalahkan Dukun Pijat
Paul Octopus Dihargai Rp 343 Juta Untuk Acara Masak Khusus Gurita
Paul Octopus vs Mani the Parrot = Spanyol vs Belanda
Paul si Gurita Peramal Menjagokan Spanyol, Anda?
Pedagang Kaki Lima Yogyakarta Ikuti Sertifikasi
Pemerintah dan DPR Beda Pendapat Soal Situs Porno
Pemilik Google Mau Membeli Color Seharga 200 Juta Dolar
Penaklukan Kilimanjaro
Pengkhianat Reformasi Itu Anggota DPR
Penikaman Jemaat HKBP Ditangani Presiden
Perguruan Tinggi Terpopuler di Indonesia
Piala Dunia FIFA 2010 : Spanyol Juara!<
Polisi Pastikan Tak Ada Video ‘Ariel-Bunga Citra Lestari’
Politisi PAN yang Anggota DPRD Usulkan Tes Kegadisan Bagi Anak Sekolah
Polri : Seorang Teroris (Lagi) Berhasil Ditangkap
Prediksi Seekor Gurita, Jerman Akan Mengalahkan Argentina
Presiden Hanya Pantau Letusan Gunung Sinabung
Presiden Menyetujui Pemindahan Ibu Kota Negara Dengan Alasan Strategis
Prestasi Baru Indonesia di Tingkat Internasional???
Profesor Harvard : BLT SBY Tak Akan Menjawab Permasalahan Kemiskinan
Program Infotainment Menjadi Topik Disertasi Doktor
Program Pariwisata Berhasil Menempatkan Bali di Urutan Ketiga Tempat Bugil Favorit se Dunia
Puluhan Pelacur di Kantor Wali Kota Gorontalo
Rahma Azhari Penuhi Janji Untuk Upload yang Lebih Hot
Reaksi Malaysia Terhadap Postingan Blog dan Facebook Penyulut Ketegangan
Relawan Tagana, Menantang Maut di Merapi
Rilis Pertama Foto Adrianne Palicki Sebagai Wonder Woman
Rupanya Piring Terbang atau UFO Berasal dari Iran
Saksikan Duel Bill Gates vs Steve Jobs
Satu Mata Rantai Penyebaran Video Ariel-Luna Maya-Cut Tari Adalah Seorang Guru
Satu Orang Tewas dalam Kerusuhan Penjualan Tiket di GBK Karena Masuk Angin, Percaya ???
SBY Jadi Korban….
Segitiga Bermuda Tempat Munculnya Dajjal?
Sensus Fi’il : Para Selebriti Dunia Dalam Angka
Seorang Pria Berkeluarga di Dumai Mengaku ‘Ayam’nya Mati Mendadak
Seputar Puasa Ramadhan
Setelah Benar 100%, Gurita Jerman Kembali Memprediksi
Surat Dari Tahun 2070
Syahganda : PD Dukung Pramono Menjadi Presiden RI 2014
Ternyata Bulan Telah Menyusut Sekitar 100 Meter
Thomas Muller, Pemain Terbaik Piala Dunia FIFA 2010
Tokoh Revolusi Kharismatik Itu Bernama Mark Zuckenberg
“Tombol Panik”-nya Facebook
Tsunami Dahsyat Akan Kembali Hantam Jepang
Tukang Cukur Itu Mengaku Sebagai Tuhan
Tunjangan Profesi Guru Bersertifikat Segera Cair
Untuk Hindari Bencana, Manusia Akan Menjajah Mars
Video Pesta Seks Enrique Iglesias
Wanita Jangan di Sunat !
Warga Amerika Menemukan Eropa 500 Tahun Sebelum Columbus
100 Hari Kepergian ASEP SAMBODJA-2 MENULIS Diluncurkan

1 Komentar

Filed under Sastra

One response to “Tuduhan Plagiat Sebagai Bagian Perseteruan Lekra-Manikebu

  1. wimba

    sama dengan Bpk. Bambang Eko Susilo, sebagai penggiat kegiatan alam terbuka, sangat lekat dengan puisi ini, karena selalu dibacakan pada acara pelantikan anggota baru,

    untuk fitnah yg membuat Bpk TI terpojok, yg menyebarkan kan “mereka” sendiri, yang menghujat ya “mereka” juga, makanya yang paling banyak komen ya “mereka-mereka” yg merasa TI adalah ancaman buat mereka atau mereka sangat sakit hati pada TI,

    Bpk. TI, doa kan saja orang yg memfitnah bpk dan yg menghujat bpk supaya mendapat hidayah, orangnya sama saja, kok, tidak perlu dicari, terlihat dari bahasa tulisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s